Resensi / Serial

Game of Thrones 4.1: Two Swords

GoT season 4 drogon

Daenerys dan Drogon

Everything changed,” kata Cersei kepada Jaime. Yup, semuanya berubah. Masih lanjutan dari season tiga lalu, tapi setelah setahun berlalu tentu banyak yang terasa berubah.

Sebelum nonton episode satu ini, gue sama sekali nggak baca ulang A Storm of Swords atau nonton ulang season-season sebelumnya. Jadi, ketika nonton episode ini benar-benar, gue menikmati sebagai serial, layaknya pertama kali dulu nonton.

Setelah Red Wedding, sekarang persiapan pernikahan Joffrey dan Margaery Tyrell udah dimulai. Terutama hal itu terasa di Kings Landing. Salah satunya dalah kehadiran Prince Oberyn Martell dari Dorne. Menarik, ketika Oberyn ngobrol dengan Tyrion dan membahas Elia Martell serta Rhaegar Targaryen.

Selain, persiapan pernikahan, beberapa karakter lain juga punya perjuangan sendiri. Jaime yang berusaha kembali ke kehidupannya dulu–dengan Cersei, sebagai bagian dari Lannister, sebagai Kingsguard. Tapi, semua berubah, terutama karena Jaime sudah kehilangan salah satu tangannya.

Di tempat lain, Daenerys mulai kewalahan ngurusin anak-anaknya dan bersama pasukannya menuju Meeren. Di The Wall, Jon Snow berhasil selamat, curhat sedikit tentang Robb. Lalu diajak hearing bareng perwakilan City Watch dan ngebeberin semua rencana yang dia denger selama bersama Wildings. Dan section terakhir, Arya bersama The Hound menghabisi sekawanan pasukan raja karena Arya mau ambil Needle.

GoT season 4 oberyn

Tyrion dan Oberyn Martell

Gue kangen Westeros. Kangen banget. Gue senang ketika denger musik opening dan nggak bisa menahan senyum. Rasanya kayak pulang ke rumah.

Okelah, episode pertama ini kekhasan Game of Thrones udah muncul. Kekerasan standar di mana-mana dan nudity di sedikit adegan. Tapi, biasa-biasa aja sih, nggak terlalu berlebihan.

Gue bilang di atas: semua berubah. Cersei berubah. Sansa berubah. Tyrion berubah. Jaime berubah. Jon Snow berubah. Ygritte berubah. Yang paling bikin gue miris mungkin adegan terakhir, ketika Arya ngebunuh orang-orang dan habis itu naik kuda sambil tersenyum. Ha? Apa yang dia rasain? Senang habis membunuh? Entahlah, tapi adegan itu bikin gue sedih.

Untuk adegan pembukanya, gue juga suka. Tywin yang melebur pedang milik Ned Stark dan dijadiin dua pedang. Salah satunya kemudian diberikan kepada Jaime. Adegan ini terasa magis banget. Entah karena kehadiran Tywin atau karena sebelumnya diputerin montage dari musim-musim sebelumnya, termasuk adegan pemenggalan kepala Ned Stark.

Apa yang gue suka banget dari episode ini adalah baju-bajunya! Punya Oberyn, keren banget. Suka detailnya dan gimana bikin Oberyn kelihatan seksi banget. Bagus buat cowok-cowok yang bodinya slender karena bikin badannya berbentuk. Juga, punya Sansa dan Joffrey. Baju Sansa di episode ini manis dan cakep banget. Suka detail ruffle di bagian dadanya. Sopan, anggun, elegan, dan warna serta motifnya nyenengin banget dilihat. Juga punya Joffrey sih, tapi Joffrey dari dulu memang bajunya cakep-cakep banget, berkelas, mewah, dan kelihatan bangsawannya. Ah, suka juga jaket kulit yang dipakai Jaime: seksi!

Semua di episode ini: nostalgia dan pemanasan buat musim yang bakal panas banget. Diingetin lagi sama yang kemarin-kemarin. Diingetin lagi sama karakter-karakter yang lagi di mana dan ngapain. Jadinya, episode ini emang kerasa kurang gereget dan datar gitu. Meski, ya ya, ada naga kok, yang udah gede-gede dan keren banget!

Dan oh ya, pigeon pie. Pigeon pie. Haha.

Preview episode 2 “The Lion and The Rose”

One thought on “Game of Thrones 4.1: Two Swords

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s