Resensi / Serial

House of Cards season 2

“Do you think I’m a hypocrite? Well you should. I wouldn’t disagree with you. The road to power is paved with hypocrisy, and casualties. Never regret.” – Frank Underwood, chapter 22

House-of-Cards-Season-2-Poster.jpg

Masih inget di akhir review season satu, ketika gue bilang Frank ketemu lawan yang setara dengannya? Sosok yang ngerti bedanya kekuasaan dan uang? Nah, di sini, di season dua, perang pun terjadi. Nggak tanggung-tanggung, lokasinya tentu aja di Gedung Putih.

Di akhir season satu, Frank berhasil naik jabatan sebagai vice president. Raymond Tusk, pengusaha, yang juga teman dekat presiden mulai deh nagih janjinya ke Frank. Dia minta biar bisa dapet pasokan sesuatu buat reaktor nuklirnya gitu deh dari Cina. Pokoknya, sepanjang season ini isinya konflik Frank dan Raymond ini. Tapi, tenang aja, konfliknya nggak sembarangan, berlapis, dan bikin penonton jadi lebih ‘brainy’, ihihihi. Dan bukan hanya melibatkan mereka berdua lho, tapi perangnya jadi Gedung Putih versus Cina.

Udah terpesona?

Jelas. Gue juga sempat ada di posisi itu: terpesona. Dengan konflik yang udah nggak sesederhana di lingkungan Gedung Putih dan skala nasional lagi, ulang orang-orang di dalam sana bener-bener bikin geleng-geleng kepala. Gimana mereka mengendalikan konflik (dari menciptakan dan menyelesaikan!), mengatur orang-orang lain, sampai mengatur media–itu benar-benar bikin terpesona. Pada tingkat Gedung Putih, segala sesuatu berjalan cepat, tangkas, dan sigap banget. Apapun diselesaikan dengan cara begitu.

Masih terpesona?

Tunggu sampai kamu lihat betapa berantakan dan rapuhnya orang-orang itu. Apa aja dilakuin demi bisa memuluskan tujuan dan mengamankan kekuasaan. Lihat apa yang nanti terjadi kepada Zoe Barnes, Lucas Goodwin, sampai chief of staff Gedung Putih, Linda. Lihat dan perhatikan. Lihat dan ingat: kalau mereka mau melakukan apa aja. Jadi, jangan heran kalau banyak hal terjadi di luar perkiraanmu. Itu sesuatu yang normal, bahkan kalau hal itu jauh jauh jauh dari hal normal.

Memang sih semua itu bagian dari strategi. Gue angkat topi tinggi-tinggi buat Frank untuk semua kejeniusan strateginya dia itu. Gimana dia ‘main catur’ bareng Raymond bener-bener ngeliatin betapa mengerikan kekuasaan di tangan orang-orang yang bisa memanfaatkan dan mengeksploitasinya.

Namun, nggak melulu tentang politik sih di sini. Meski tema politiknya memang kental banget, pengembangan karakter dan masalah-masalah personal masih dapet porsi dan disajikan dengan nggak berlebihan. Kalau ngikutin dari musim pertama, bakal kerasa banget tokoh-tokoh yang kamu ikutin hampir semua ngalamin perubahan. Karena situasi yang mereka alami memang memaksa mereka ngeluarin sisi lainnya sih. Ada karakter yang ternyata mengerikan abis, karakter yang ternyata lemah hatinya, karakter yang rapuh tapi coba terus bertahan. Kadang-kadang bikin simpati, kadang bikin benci. Yang jelas, semua pada keluar sisi liar dan gilanya.

Iya, kalau berani bermain di tingkat setinggi itu, kecerdasan dan keberanian aja nggak cukup. Ada esens penting yang ditekanin banget oleh Frank, yaitu sikap pragmatis. Sikap yang bikin nggak peduli dengan banyak hal, kecuali yang memang menguntungkan. Di tingkat setinggi itu, kamu nggak bisa bertahan hanya dengan sikap baik aja. Kalau gitu sih dari awal udah bakal dipites.

claire-underwood-aura-une-annonce-a-faire

Gila. Kamu bakal nemuin banyak hal gila di season ini. Lebih dari season sebelumnya. Yang mungkin bakal bikin kamu bilang: ‘what the fuuuuuucccckkkkkkk.’ Tapi, nggak mau bilang apa deh. Silakan dinikmati sendiri.

Tragis. Kalau kamu pikir orang-orang itu saking pragmatisnya sampai nggak punya hati. Kamu salah besar. Beberapa orang di sini kena deh sama perasaannya sendiri. Dicampur-campur sama masalah kerjaan. Ya gitu deh. Inget-inget kata Frank deh: “The heart can choke the mind when all its blood flows back unto itself.”

Bahkan hal-hal yang nggak menyenangkan juga menimpa Frank dan Claire. Hidup mereka yang tadinya bebas, mendadak terkungkung karena jabatan yang lebih tinggi. Akan tetapi, keduanya jadi keluar banget deh sikap sebenarnya gimana. Masih kagum sama keduanya yang kompak banget, saling support dan pengertian satu sama lain–itu keren banget! Suka banget lihat pasangan ini! Sikap kayak gini ini yang nggak dimiliki lawan politik Frank yang lain. Itu bikin Frank unggul dibanding yang lain. Pokoknya keduanya keren dan mengerikan dan sadis!

Ini adalah season yang berat. Masih menghibur kayak sebelumnya. Cuma karena materinya lebih luas, rasanya agak susah dicerna gitu. Selain itu, karakter-karakternya menyampaikan dengan bahasa politik, banyak makna ambigu dan banyak kalimat negatif. Tapi, tetap menyenangkan dengar mereka bicara satu sama lain. Khas banget. Nggak ada gontok-gontokan ketika ngomong. Keren deh.

Di bagian tengah, show ini agak kedodoran. Mungkin karena lebih banyak nebelin konfliknya dan sempat kerasa datar gitu. Claire juga udah keluar dari NGO-nya dan akhirnya bertugas sebagai ibu negara. Sempat nyiptain sub konflik juga yang berkaitan sama masa lalu dia, tapi yang ini nggak terlalu keiket sama konflik utama. Meski sebenarnya itu untuk numbuhin rasa saling percaya antara Claire dan Tricia, ibu negara. Hubungan keduanya emang penting sih di bagian belakang.

Seru-serunya lagi di bagian akhir, episode 11-13. Itu bikin deg-degan dan gemesin banget deh. Cuma ending season dua ini memang bikin bengong abis. Nggak ngerti mesti simpati atau maki-maki.

Iya, ceritanya selesai. Konfliknya terselesaikan. Tetapi, seperti dari season satu ke season dua, ada hal-hal yang nggak terselesaikan. Menyangkut Doug, juga tentang Lucas Goodwin. Gue nggak akan cerita apa yang terjadi sama mereka. Lihat aja baik-baik.

House of Cards ini adalah salah satu show yang keren banget. Ceritanya kuat. Konfliknya berlapis. Karakter-karakternya unik dan luar biasa. Sinematografinya bagus. Dialognya cerdas-cerdas. Kalau suka drama politik yang menegangkan, kamu harus coba ini.

house of cards 25

2 thoughts on “House of Cards season 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s