Resensi / Serial

Top of The Lake

“There is no death in nature. Just a reshuffling of atoms.” – GJ

top_of_the_lake_xlg

Gue terkesan banget sama sinematografi True Detective yang digarap Adam Arkapaw. Ketika gue denger beliau ngegarap sinematografi untuk mini seri ini, dan dapet Emmy tahun 2013 kemarin, dan latarnya di New Zealand, gue nggak mikir dua kali untuk memutuskan nonton.

Ya, itu terbukti, serial yang digarap oleh Jane Campion ini memang menyegarkan mata banget. Gunung, sungai, hutan, dan danau. Ya ampun, rasanya pengin jerit-jerit: ‘bawa gue ke sana! bawa!’. Gambar-gambar yang diambil secara wideshot bener-bener bikin kesan tersendiri dan terasa mistik. Kamu bakal terpana deh. Ini lebih detail daripada lanskap yang pernah dilihat di The Hobbit. Apalagi karena tempat yang sama dijadikan latar berulang kali, tempat itu jadi kerasa dekat. Kamu bakal pengin mandi di sungai, jalan di hutan, sampe nongkrong-nongkrong di danau. Seakan-akan semua keindahan itu menyimpan rahasia-rahasia. Yah, ternyata betul, rahasia itu memang ada.

Rahasia tentang pemerkosaan di bawah umur, inses, kekerasan terhadap perempuan, obat-obatan terlarang, dan pembunuhan. Dan kita diajak menelusuri semua itu dari perspektif perempuan, seorang detektif polisi, Robin Griffin (Elizabeth Moss).

Top Of The Lake

Robin pulang ke Laketop, yang terletak di kota kecil Queenstown, Selandia Baru, karena ibunya sakit kanker. Ketika berada di sana, seorang nama perempuan berumur 12 tahun, Tui, ditemukan sedang menuju ke tengah danau–kemungkinan akan bunuh diri. Setelah berhasil diselamatkan, ternyata diketahui kalau Tui sedang hamil lima bulan. Robin pun diminta membantu menyelidiki kasus tersebut dan dia mengindikasikan kalau Tui ini diperkosa.

Pada saat yang sama, datang serombongan pendatang ke Laketop. Mereka membeli sebuah tanah yang dinamai Paradise di samping danau. Aduh, tempatnya bikin mupeng abis. Pokoknya gue aja pengin tinggal di situ. Rombongan ini terdiri dari beberapa wanita yang semuanya punya kasus masing-masing. Mereka dipimpin oleh seorang guru spiritual bernama GJ.

Mereka dirusuhi oleh Matt Mictham, penduduk senior, sekaligus kayak premannya Laketop gitu deh. Karena ngerasa tanah itu punya dia, padahal belum resmi beli. Nah, Matt ini adalah ayahnya Tui. Setelah, Matt tahu kalau Tui ini hamil, Tui pun kabur dari rumah. Robin menawarkan diri untuk mimpin pencarian. Oleh Al, bos polisi di sana, dia dikasih izin deh. Setelah sebulan lebih, Tui ini nggak kunjung ketemu.

Robin yang dibantu Johno, salah satu anak Matt, terus menyelidiki di mana Tui. Sebab, ternyata Robin ini dulunya pernah diperkosa juga ketika masih remaja. Meski Robin sempat didiskors karena menyerang salah satu yang dulu memerkosanya dulu, Robin nggak berhenti. Dari ponselnya Tui, dia dapet nama Jamie, cowok yang juga temen Tui. Jamie ini unik banget, suka ngumpulin tulang, terutama gue suka banget lihat jejeran wishbone. Tahu kan? Tulang yang dada di burung, yang bentuknya Y. Katanya, kalau kamu dan orang yang kamu sukai sama-sama ngaitin kelingking di sana, kemudian saling tarik sambil ngucapin permintaan dan tulang itu retak pas di tengah, keinginannya bakal terkabul. Makanya dinamai wishbone.😀

tumblr_mlkqnaInLF1r5dn7ko1_r2_500

Ya, selain lanskap, gue suka banget detail-detail dalam cerita ini. Kayak wishbone itu, juga koleksi tulang-tulang di kamar Jaime. Gantungan berbentuk kepala kambing. Buku tua tentang melahirkan. Lokasi trailer-trailer di Paradise. Ha! Cakeeep!

Bahkan adegannya aja bagus-bagus banget. Favorit aku adalah ketika salah satu cewek dari Paradise, anaknya Bunny, main gitar di tengah padang rumput gitu, kemudian dari balik hutan muncul Tui dan Jamie. Sontreknya melankolis. Adegannya jadi bagus banget. Ada satu lagi adegan yang bagus banget, paling bagus dari seluruh serial, di episode 6, ketika Tui dikejar-kejar oleh orang suruhan Matt. Itu diambil dari jauh. Dipadu dengan lanskap yang… yang indah banget. Itu dalem banget adegannya. Bagus dan sedih sekaligus.

Sampe di beberapa adegan, gue ngebayangin kalau Rust yang berdiri di sana, alih-alih Robin. Ohhh, soalnya lanskapnya bikin mata seger banget. Dan entahlah, kalau habis nonton TD, kerasa banget komposisi gambar dan palet warna yang ngingetin sama TD banget. Jadi, beneran serasa Rust yang berdiri di sana bukan Robin.

Robin ngasih penonton perspektif perempuan yang gue berani bisa bagus dan realistis banget. Kamu bisa benci atau simpati sama dia karena dia sama sekali nggak luar biasa. Dia kayak cewek-cewek biasa, cuma apa yang udah dilalui dia bikin dia lebih tegar dan berani. Di sini, sekali lagi dilihatin gimana Robin ini pelan-pelan terobsesi sama kasus Tui. Bikin dia tiba-tiba diteror orang nggak dikenal, dan tentunya juga Matt.

Dari perspektif Robin ini juga, kerasa banget gimana nyebelinnya cowok-cowok di Laketop. Nggak menghargai dan merasa perempuan ini masih kayak objek eksploitasi. Diatur-atur ini dan itu sama laki-laki. Tapi, ada juga adegan-adegan ketika perempuan-perempuan ini bergantung sama laki-laki. Ada hubungan mutual yang kentara banget.

Jadi, kalau nyari cowok-cowok yang bikin mabok dan bertekuk lutut macam Rust atau Sherlock, kamu nggak akan nemu di serial ini. Kebanyakan: bajingan (karena tumbuh di lingkungan bajingan dan tingginya tingkat persaingan). Kalau ada yang baik berarti dia gay atau punya maksud tertentu.

Hal yang menarik lainnya, tentu perempuan-perempuan di Paradise. Mereka mayoritas udah berumur. Berkumpul karena punya masalah dengan laki-laki atau rumah tangganya. Nggak ngerti sebenarnya di sana mereka ngapain aja. Ya cuma ngobrol-ngobrol, meditasi bareng, konsultasi ke GJ. Nah, GJ ini karakter yang misterius. Bicaranya misterius. Penuh metafora, tapi juga tegas dan jleb banget. Sayangnya karakter dia ini nggak banyak muncul, dan ketika muncul cuma pas konsultasi aja.

tumblr_mliqfqf48F1qebry0o2_1280

Banyak karakter menarik dan unik di serial ini, kayak Putty, orang tua yang berniat bantu Tui lahiran. Tapi, dia nggak bantu sama sekali. Ternyata laki-laki itu nggak ngerti sama sekali masalah kayak gitu ya. Malah bingung, bahkan Putty yang istrinya bidan. Mereka nggak tahu apa-apa!

Serial ini memang lebih menekankan drama dan misterinya. Jadi, kalau kamu berharap adegan action, nggak ada sama sekali. Meski nggak sedikit adegan tembak menembak. Itu sama sekali nggak bisa disebut action. Rasanya di sana semua orang punya senjata. Dan kalau ada mayat, juga nggak terlalu ekstrim, karena itu juga bukan poin utamanya. Ada beberapa kisah supranatural yang diceritain, tentang danau yang meluap, tentang sosok yang disebut Jaime, tapi semua ya cuma mitos aja. Bukan sesuatu yang kerasa penting banget kayak di True Detective. Misterinya ya, tadi nekanin di mana Tui dan siapa ayahnya.

Ada twist-twist tak terduga juga. Tapi kebanyakan tone-nya kerasa horor, nggak terlalu cepat atau lambat. Kamu selalu bisa menarik napas, kecuali pas adegan yang nampilin lanskap yang bagus banget. Beberapa hal juga nggak sulit ditebak, semua kluenya kelihatan jelas. Drama ini nggak terlalu menantang otak, tapi misterinya memang bikin pengin ngikutin dan tahu apa aja yang terjadi.

Episode favorit gue adalah episode 6. Senang, sedih, takut, dan kaget, jadi satu di situ. Suka banget ngeliat teman-teman Tui ngunjungi Tui. Adegan itu menyenangkan banget dan terasa remaja banget! Setelah berkutat dengan dinginnya suasana danau, adegan itu kayak penghangat. Meski di bagian akhir dibikin patah hati banget. Sesuatu yang menyedihkan terjadi. Tapi, aku nggak mau bilang apa itu.

Endingnya sendiri, GJ akhirnya ninggalin Paradise dan perempuan-perempuan itu. Meski Tui memohon untuk tinggal, GJ ngasih tahu kalau Tui udah punya guru baru. Kayak gitu endingnya. Buat gue sendiri, rasanya banyak banget hal yang belum terjawab. Okelah, konfliknya selesai. Tapi, subkonfliknya banyak yang tertinggal. Bener-bener ditinggal. Serasa, oke kasus Tui selesai, eksploitasi anak ketemu siapa pelakunya, Matt dapet batunya… tapi, Laketop tetap terasa nggak jadi menyenangkan setelah itu. Masih banyak misteri. Masih banyak rahasia.

top of thelake

Setelah beberapa kali nonton serial dan film dengan setting kota kecil gitu, ternyata jadinya malah penuh misteri ya. Apalagi kota kecil yang satu sama lain udah kenal. Punya tradisi turun temurun. Saling tahu rahasia satu sama lain. Robin yang udah lama tinggal di Sydney, akhirnya jadi orang asing di Laketop. Sama kayak Rust yang dari Texas pindah ke Lousiana. Untuk memulai perubahan, kadang-kadang memang butuh katalis dari luar sistem yak. Sosok yang punya perspektif lain. Yang berani mendobrak tradisi karena ngerasa nggak terikat sama hal tersebut. Kota-kota kecil kayak Laketop ini, semacam air tenang menghanyutkan gitu ya. Mengerikan.

Gue suka banget perspektif serial ini. Bagus banget. Gue cinta banget pemandangan lanskap yang jadi latar cerita. Meski kisahnya sendiri meninggalkan sesuatu yang nggak selesai buat gue dan terasa nggak klimaks, itu nggak terlalu masalah–konfliknya selesai, misterinya kuat, dan tentunya serial ini juga punya pesan-pesan cukup dalem. Suka lagi, karena ini mini seri, cuma tujuh episode dan ceritanya habis! Ha!

Nah, ini kata-kata dari GJ di episode terakhir:

So you’re on your knees? Good. Now die to yourself. To your idea of yourself. Everything you think you are, you’re not. What’s left? Find out. Stop. Stop thinking. You people all want to help someone. Help yourself first, like the airplane. Put on your own mask first.  All you hear are your own crazy thoughts like a river of shit running on and on. See your thoughts for what they are. Stop your helping. Stop your planning. Give up! There’s no way out! Not for others, not for you. We are living out here at the end of the road, the end of the Earth in a place called “Paradise”. How’s it going? Perfect? No! You are madder than ever. You are tired? So lie down right here. Be like a cat. Heal yourself. There is no match for the tremendous intelligence of the body. Rest.

tumblr_mtyvt897I01rely76o6_1280

tumblr_mtyvt897I01rely76o3_1280

tumblr_mtyvt897I01rely76o1_1280

top of the lake 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s