buku / Resensi

Dari Datuk ke Sakura Emas

2014-04-17 20.59.25

Gue nemu buku ini di sebuah sale beberapa bulan lalu dan ketia nurunin buku-buku yang belum disampulin, akhirnya buku yang terbit tahun 2011 oleh GPU ini kebaca juga. Nama-nama besar yang tertera di sampul tentunya membuat ekspektasi baca menjadi bengkak. Ya, gitu sih. Otomatis aja.

Dari empat belas cerita pendek di dalam buku ini, semua bercerita tentang tragedi, kecuali Pagi di Taman oleh Avianti Armand dan Sambal Dadak milik Icha Rahmanti. Keduanya, cerita tentang hidup sih. Hidup kan isinya ada kalanya tragedi, ada kalanya mengenang sesuatu. Nah, kedua cerpen tersebut temanya tentang mengenang sesuatu. Umur yang bertambah dan kenangan yang menggunung.

Sisanya, adalah tragedi. Pesta pernikahan yang batal dari A. Fuadi. Pesta pernikahan dan cinta sebelah tangan milik Alberthiene Endah. Cinta yang patah dan harapan baru dari dituturkan oleh Andrei Aksana. Hidup yang penuh tragedi milik Asma Nadia. Hal-hal yang nggak bisa dilawan dan nggak pernah diinginkan dari Clara Ng. Dua yang melenyapkan dari Dewi Lestari. Membuat semua jadi kenangan dari Dewi Ria Utami. Pesan terakhir dan perjuangan dari Happy Salma. Celaka dari Indra Herlambang. Cinta segitiga yang berakhir di batang pohon dari M. Aan Mansyur. Seorang ibu yang pergi dari Putu Fajar Arcana. Dan persahabatan yang harus berakhir dari Sitta Karina.

Tragedi adalah tragedi.

Beberapa cerita di dalam kumcer ini pernah diterbitkan dan familier. Contohnya adalah ‘Emak Ingin Naik Haji’ dari Asma Nadia dan ‘Mencari Herman’ punya Dewi Lestari. Tapi, keduanya adalah favorit gue sih. Suka banget gaya bertutur Asma Nadia yang ringkas tapi nggak mengurangi makna. Sisanya bagus-bagus juga kok. Punya Clara Ng malah diambil dari sudut pandang seorang anak yang mengidap autis dan itu keren banget!

Ada juga sih yang biasa-biasa aja, kayak punya Andrei Aksana. Twist dalam cerpen Alberthiene Endah juga standar banget–yang justru bikin flop ceritanya di bagian akhir. Happy Salma mengisahkan tentang ‘Kamisan’, tapi secara implisit dan gue ngerasa nggak banyak yang nangkep itu deh. Karena gue sendiri tahu istilah Kamisan sejak main socmed… maklumlah tinggal di kampung gitu. Sama yang bikin ganjel gue banget adalah punyanya Putu Fajar Arcana, iya sih, memang bagus cerpennya dan endingnya juga cukup–tapi, nggak tahu aja gue sebel endingnya yang gantung gitu. Haha.

Kumcer ini ngeliatin banget perbedaan gaya menulis antara penulis satu dan yang lain. Bisa banget jadi bahan inspirasi dan belajar untuk mencari mana sih penulis yang cocok dan suka kita baca. Karena hampir semuanya udah punya novel sendiri-sendiri. Bukan hanya gaya menulis sih, tapi juga tema dan setting yang digunakan. Ada yang moderen, ada yang kehidupan sehari-hari, sampai remaja! Pantes untuk dikoleksi!šŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s