buku / Resensi

86

20140418_164015

Ini novel Okky Madasari pertama yang aku baca. Nama besarnya bikin aku udah mikir dari awal: ‘wah ini bakal seru nih’. Menegangkan dan sebagainya.

Iya sih, seru. Terutama karena cara nulis Okky yang ringkas, mendalam, tapi tetap ngalir, dan dapat maknanya. Dialog-dialognya natural dan kerasa nyaman dibaca. Kata-kata yang dipakai juga sederhana, namun bukan berarti bikin kalimat-kalimatnya biasa aja. Ya, istilahnya, novel ini well-written lah ya.

Kisahnya tentang Arimbi, petugas panitera di pengadilan Jakarta. Arimbi yang super lugu dan keluarganya di kampung yang digambarin norak abis dengan kehidupan Jakarta. Setelah kerja sekitar empat tahun, dia baru dapet kiriman AC. Diajari sama staf satu ruangan tentang malak-malak pengacara. Kemudian, dapet cowok yang pengertian sama dia dan akhirnya mereka menikah–bikin Arimbi makin berani. Yaiyalah, tuntutan uang pelicin makin banyak di mana-mana. Setelah nikah, eh baru dapet persenan agak banyak dari Bu Danti, atasannya, eh belum kepake duitnya, terus ditangkep KPK. Ditahan, di penjara masih diminta uang pelicin untuk ini itu. Drama sama Tutik, temen satu selnya, suaminya yang jadi kurir sabu. Akhirnya, pas 17-an, Arimbi dapet potong tahanan setelah bayar 45 juta. Eh, ndilalah, setelah keluar penjara, bayinya mbrojol, bojone ditangkep polisi karena pesta sabu.

Yah, udah jatuh ketimpa tangga pula. Kasian deh Arimbi. Udah pas-pasan otaknya, ikutan korupsi, ya jadi korban doang.

Dari awal memang rasanya aku udah salah ekspektasi, aku ngarepin sesuatu yang menegangkan dari novel ini, macam-macam House of Cards gitu deh. Yang bikin kagum sekaligus mengumpat. Ternyata, ini isinya lebih ke kritik sosial gitulah, tentang hidup sehari-hari, tentang busuknya politik dan birokrat, tentang duit yang bisa jadi dan ngasih apapun di Indonesia.

Tentu aja, Okky nyeritain dan merangkainya dengan baik banget. Terasa deket banget dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin kamu pernah ngalamin apa yang terjadi sama Arimbi. Karena itu bisa terjadi sama siapa aja dan kapan aja dan di mana aja.

Yang bikin aku hampir berhenti baca ketika sampai halaman seratus adalah… aku sebel banget gimana Okky ngegambarin Arimbi. Dari sejak dia desak-desakan naik bus untuk pulang lebaran (ini ftv banget), keluarganya di kampung yang keliatan amat sangat ndusun gitu (aku sedih lho sebagai orang yang tinggal di kampung), sampai akhirnya dia ketemu si cowok yang akhirnya jadi katalis makin beraninya dia korupsi.

Karakternya juga stereotype banget. Lugu, ndak terlalu pinter, ndak punya ambisi, butuh cowok buat berubah. Untungnya sih dia nggak hobi ngeluhin hidupnya yang keras di Jakarta, ya itu bagian yang nggak ditampilin dari si karakter kali ya. Apalagi ketika mulai didesak-desak nikah sama keluarga di kampung. Aduh, kerasa gimana gitu penggambaran si Arimbi di sini.

Nggak ngerti apa yang mau disampaikan mbak Okky dari buku ini. Nggak ada resolusi, yang ada duit dan duit. Semua tragedi cuma gara-gara kebodohan karakternya aja dan sistem yang amburadul. Semua yang terjadi di sini bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari. Bahkan berita di tivi lebih drama daripada ini. Mungkin memang buku lebih cocok dibaca orang kota lebih bisa simpatik ngeliat nasib si Arimbi, yang mau kaya tapi malah cari jalan pintas.

Kasian deh si Arimbi.

86 ini kode yang dulunya dipakai di kepolisian untuk menyatakan kalau ‘semua udah dibereskan, tahu sama-tahu’. Sekarang sih jadi tahu sama tahu duit gitu deh. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s