buku / Resensi

Gadis Kretek

Gadis Kretek

Baca novel ini enaknya sambil ngisep kretek ditemani secangkir teh poci nasgitel–panas, legi, kentel.๐Ÿ˜€

Memang kisah yang dituturkan Ratih Kumala dan diterbitkan GPU tahun 2012 ini erat banget sama kretek! Malah berasa baca sejarah kretek di Indonesia. Yang panjang, berliku, dan nggak bisa dipisahkan dari sejarah (beberapa keluarga).

Menyingkap sejarah kretek ini dimulai dari perjalanan yang dilakukan tiga bersaudara, Lebas, Karim, dan Tegar atas suruhan Romo mereka. Sosok yang mereka cari adalah Jeng Yah, dulunya kekasih Romo dan pernah mukul kepala Romo mereka dengan semprong ketika hari pernikahan.

Ceritanya melintasi tiga generasi dari Soejagad (kakek mereka), Soeraja (Romo), dan akhirnya ketiganya. Tentunya waktu terjadinya cerita juga beda-beda. Jadi, ada beberapa bagian yang terasa lompat dari masa yang satu ke masa yang lain.

Meski begitu, cerita ini nggak membingungkan. Bahasanya yang ringan dan banyak guyon bahasa Jawa bikin kerasa enteng dan ngalir. Nggak tahu ya kalau yang baca bukan orang Jawa, karena gue Jawa dekat sama budaya Jawa Tengahan, ya kerasa enak aja bacanya. Hehehe.

Settingnya memang di Kota M, sebuah kota kecil antara Magelang dan Jogjakarta, tempat lahirnya Soejagad dan Idroes Moeria. Keduanya bersaing dalam hal usaha kretek. Sebenarnya benih kejengkelan Soejagad udah dimulai sejak Idroes menyunting gadis idaman Soejagad. Akhirnya, Soejagad nikah dengan orang lain dan punya anak. Nah, anak inilah yang menikah dengan Soeraja.

Kok bisa akhirnya Soeraja nikah dengan anak pak Jagad? Hmm… ini ada sedikit kaitannya dengan sejarah. Waktu itu karena lagi rame-ramenya PKI. Soeraja terkait kegiatan PKI dan akhirnya pergi dari Kota M. Kenapa Soeraja dipukul semprong? Hmm… baca aja sendiri. Hehe.

Karena diceritain dari sudut pandang yang beda-beda. Ada beberapa hal yang overlap, tapi mungkin disengaja sih sama penulisnya. Kayak cerita tentang Soejagad dan Idroes, itu diulang lagi ceritanya oleh si anak-anak, cuma dengan sedikit bumbu yang beda karena cerita itu didengar dari kakeknya, sementara sebelumnya udah diceritakan dari sudut pandang Roemaisa (ibu Jeng Yah). Maksudnya mungkin untuk ngasih lihat peristiwa itu dari sudut pandang lain. Sayangnya itu nggak terlalu kerasa, jadi akhirnya cuma kayak repetisi aja.

Kemudian penggunaan POV satu untuk Lebas, padahal sisanya adalah POV 3. Kenapa harus POV satu? Soalnya gue nggak nemu hal yang essensial dari penggunaan itu. Kenapa nggak pakai POV 3 terbatas aja? Soalnya ada bagian Lebas ketika di Cirebon, itu diceritakan pakai POV 3. Ya memang sih POV satunya cuma di depan dan belakang aja. Cuma terasa ngganjel gitu lho.

Juga, agak banyak typo di mana-mana. Tapi, nggak terlalu mengurangi keseruan ceritanya sih. Asik ngikutin drama beberapa generasi ini dan nggak ngebosenin. Mungkin karena tiga kakak beradik itu lucu. Haha… Endingnya pun… ya pas sih untuk menutup semua konflik tiga generasi. Harga yang pantes untuk bayar pukulan semprong Jeng Yah.

Di dalam novel ini banyak banget ngebahas kretek. Juga ilustrasi-ilustrasi etiketnya. Termasuk covernya, yang adalah etiket dari Kretek Gadis! Haha… jadi inget kalau tiap mudik liat mbah-mbah pada ngisep kretek lokal. Yang paling kental sih dan melekat banget di cerita ini, ya Kretek Djagad Raja dan Kretek Gadis. Sampai rasanya pengin nyobain.๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s