buku / Jurnal / Resensi

Supernova: Pulang bersama Ksatria

Catatan kecil setelah membaca Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karya Dee untuk kesekian kali.

supernova

‘Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh’ punyaku. Tiga belas tahun umurnya. Warisan dari tante. Udah buluk gitu karena sering banget dibaca.šŸ˜€

Aku lupa kapan terakhir kali membaca novel ini. Mungkin tiga atau empat tahun yang lalu. Beberapa waktu belakangan, seiring dengan ramainya pemberitaan bahwa novel ini diadaptasi menjadi film dan diumumkan cast-nya, itu menggelitikku untuk membaca lagi. Beberapa hari lalu, akhirnya aku menurunkan novel itu dari rak, meniup-niup debunya, dan mulai membaca.

Seperti pulang ke rumah. Ketika aku memulai di halaman-halaman awal. Kembali pada rangkaian kata-kata yang pernah (dan masih) membuatku terpesona. Meski sudah menamatkan novel ini berulang kali, aku tidak bisa berhenti. Sebab rumah, sebanyak apapun kamu kunjungi, sehafal apapun sudut-sudutnya, tempat itu akan selalu memberikan kenyamanan dan nostalgia.

Kali pertama aku membaca novel ini sekitar sembilan atau sepuluh tahun lalu saat masih di sekolah menengah. Masih lugu dan belum banyak tahu. Apa yang ditulis Dee di sini, seperti titah dari langit. Memberi petunjuk di sana sini. Menarikku untuk membaca lebih banyak. Pada saat itu, aku benar-benar terpesona. Belum pernah merasakan yang seperti itu sebelumnya.

Ketika itu dengan pengetahuan terbatas, aku sungguh menikmati novel ini. Penuh istilah-istilah ilmiah yang membuat pembaca seperti dikuliahi, tetapi malah jadi kenikmatan tersendiri bagiku. Mungkin karena aku senang diberitahu, bukan diajari. Dan itu menjadi bertahun-tahun pencarian, sampai minggu lalu aku masih membaca tentang ‘kesadaran’ di sebuah majalah ilmiah populer. Artikel yang paling baru, tetapi seolah liukan angin, ia membawaku kembali kepada kali pertama mengenal tentang itu.

Sampai sekarang, aku tidak pernah menganggap Supernova sebagai fiksi ilmiah. Karakter-karakternya memang bicara sains. Akan tetapi, bicara sains tidak begitu saja membuat sebuah cerita menjadi fiksi ilmiah. Kamu tidak bisa menjadi ilmuwan hanya dengan mengobrolkan gosip terbaru tentang kloning atau perkembangan kriogenik. Namun, aku tidak bisa bohong, kalau dari novel inilah aku tahu bahwa fiksi ilmiah adalah ketertarikanku yang paling besar di bidang literatur. Membayangkan masa depan. Memelajari ilmu dasar. Mengetahui bahwa fisika dan matematika bukan sekadar angka.

(kasih jari tengah ke guru-guru yang bikin fisika dan matematika jadi nakutin, termasuk guru gue dulu)

Oke, yang barusan adalah intermezzo.

Bagiku, novel ini nggak pernah terbayangkan untuk diadaptasi ke medium film. Sebab ia nikmat untuk dibaca dan diresapi, bukan ditonton selama dua jam sambil mendengarkan aktor yang mungkin hanya hafalan naskah skenario saja. Namun, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Sudah banyak literatur yang sulit diterjemahkan, tetapi dengan di tangan yang tepat, yang mustahil itu bisa menjadi masterpiece.

Aku bisa bilang jika aku tumbuh bersama karakter-karakter dalam novel ini. Diva, Ferre (karakter fiksi yang pertama kutaksir!), Gio, Dhimas, Ruben, Rana, Arwin, dan Ale. Memang setiap karakter tidak terlalu dalam. Akan tetapi, tangan ajaib Dee membuat hubungan antar karakter menjadi menarik. Membuat aku sendiri percaya kalau mungkin aku hanya khayalan dalam kepala penulis lain. Bahwa aku mungkin berhubungan secara tidak langsung lewat sinyal-sinyal yang berseliweran dengan seseorang nun jauh di sana. Dan karakter-karakter itulah yang membuat seri-seri lainnya selalu kutunggu. Karena aku ingin tahu apa yang terjadi kepada mereka. Karena bertemu mereka seperti pulang ke rumah.

Sejak pertama kali membaca, aku membayangkan mereka bermain dalam kepalaku, sampai sekarang, baru saja ketika aku menamatkan untuk kesekian kalinya. Saat diberitahu tentang cast yang akan memerankan mereka semua, aku mulai resah. Tak ada yang sesuai dengan imajinasiku–bayangan yang sudah ada di sana sepuluh tahun. Paling menakutkan mungkin jika nanti mereka tidak bisa mempertahankan kharisma tiap karakter.

Aku sangsi. Ya.

Karena tak ada yang bisa menggantikan imajinasi dalam kepalaku. Itu yang terbaik.

Bukan aku menganggap hasil adaptasi nanti akan buruk. Sekarang, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti dan hasilnya. Novel dan film adalah sesuatu yang berbeda. Meski diangkat dari novel, aku mengerti akan banyak perubahan dan penyesuaian pada bentuk filmnya. Aku harap, novel ini jatuh ke tangan yang tepat. Kepada orang-orang yang mengerti jiwa dari novel ini. Apa yang mestinya disampaikan. Apa yang seharusnya ditangkap oleh penonton. Bukan sekadar sekumpulan orang yang bicara dengan bahasa ‘berat’ dan akhirnya menyimpulkan kalau semuanya adalah kebetulan, kalau mereka semua terhubung satu sama lain tanpa sebelumnya mereka tahu.

Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh adalah salah satu buku yang berpengaruh dalamĀ hidupku. Satu yang membuatku lebih tekun membaca dan belajar menulis. Kalau sekarang, aku punya novel sendiri, itu karena ada satu momentum ketika dulu aku terpesona oleh Supernova. Sampai kapanpun, novel ini akan terus jadi favoritku, duduk di rak bagian atas (yang ironisnya paling mudah terkena debu) agar mudah kuambil lagi dan lagi. Terus dan terus. Untuk kembali pulang bersama ksatria kepada bintang jatuh.

*insert musik latar karya Alan Silvestri* *ngapus air mata*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s