komik / Resensi

Nusantaranger

NusaRed

Kisah tentang para ksatria (ranger) dalam balutan budaya lokal yang dituturkan dengan cara moderen dan populer. Harus baca!

Aku dengar tentang komik ini sejak beberapa waktu lalu, mungkin malah sejak awal mulai keluar. Namun, waktu itu belum tergerak untuk baca. Soalnya, kalau baca per-chapter gitu suka geregetan, maunya kalau udah agak banyak baru marathon.

Kemarin, seorang teman minta padaku, review ini dong: Nusantararanger. Berhubung aku lagi hangover setelah baca dan nulis fanfiksi Contact, apalagi udah lama nggak baca komik (terakhir baca Sandman Overture yang malah bikin stres :D) jadi butuh bacaan buat penyegaran, akhirnya baca juga deh.

Aku harus bilang kalau Nusantaranger ini mengagumkan.

Selesai baca chapter 8, aku langsung ngubek-ubek web-nya untuk bisa beli bukunya. Tapi, nggak ketemu. Yo wis, nanti kalau keluar, aku pasti akan beli.

Aku kagum terutama bagaimana membangun semesta untuk setting Nusantaranger ini dan tentunya referensi-referensi yang digunakan. Kentara banget kalau risetnya mendalam! Ini keren banget! Dan gimana mereka membuat unsur-unsur tersebut terasa pas banget dengan budaya populer serta karakter-karakternya yang kelihatan begitu membumi (Indonesia banget).

Sekarang, Nusantaranger baru sampai ke buku kedua ‘Taring’. Di buku pertama, mereka bercerita tentang Rangga, ksatria kelima dan merah warnanya. Menurut penjelasan sih, Rangga ini mewakili Pulau Jawa. Latar cerita si Rangga ini memang di candi gitu. Sementara, buku dua yang belum selesai, berkisah tentang Naya, yang berasal dari Sumatra Barat.

Di dalam kedua buku, banyak istilah-istilah daerah, seperti ‘Naya’ dan ‘Rajan’ sendiri. Juga, kata-kata arkaik, seperti pendita, juga bahasa-bahasa yang tampaknya diambil dari bahasa Sanskrit. Itu bagus banget. Ada beberapa istilah yang diberi catatan kaki dan ada yang nggak juga.

Semua istilah itu bisa ditemukan dalam dialog-dialognya yang sederhana. Yang realis dan kayak obrolan sehari-hari banget. Hanya, karena terlalu sehari-hari, malah kerasa kurang gereget. Diksi yang digunakan juga terbatas dan nggak terlihat beda antara satu karakter dengan yang lain. Dengan kata lain, kurang ‘gimmick’ untuk tiap karakter. Jadi, nggak terlalu beda dan mencolok satu dengan lainnya. Dan beberapa kalimat yang jadi seharusnya jadi ‘punchline’ terlalu biasa, seperti di chapter pertama, kata-kata si paman atau kakek ya, yang harusnya jleb, kerasa datar banget. Untung kebantu dengan gambarnya.

Kemudian, ada kata-kata ‘perempuan jalang’ di buku dua. Aku kira, ketika awal baca komik ini ditujukan untuk pembaca minimal anak-anak, karena dialog-dialonya yang sederhana dan mudah dimengerti. Frasa ‘perempuan jalang’ itu rasa-rasanya kok lebih pantes untuk pembaca remaja dan ke atas.

Sebenernya masalah dialog ini mungkin cuma kerasa buat orang yang sering baca sih. Karena bagian-bagian awal ini ditujukan untuk menarik pembaca, rasanya nggak apa-apa. Haha.

Karena masih delapan chapter, karakternya masih terasa dua dimensi banget. Nggak ada latar belakang jelas. Karakterisasi masih mengambang, terutama untuk Rangga. Rangga ini kerasa plin-plan. Di satu panel dia menolak gelang, cuma beda beberapa panel langsung bisa dibujuk lagi. Beban jadi seorang ranger/ksatria, kurasa harusnya nggak sedangkal itu. Bahkan, alasan Kei yang terluka dan orang-orang lainnya nggak bisa dia selamatnya nggak terlalu menyentuh. Kalau begini terus, karakter Rangga bisa jadi stereotype superhero lainnya. Terlalu gampang dibujuk dan ceroboh mengambil keputusan, jadi inget banget sama si Eren Jaeger deh. Haha. Sebenernya, bahasa sederhananya adalah kegalauan si Rangga ini kurang maksimal untuk mendorong dia menolak dan akhirnya mengambil keputusan tersebut.

Karakter Naya di buku dua, jauh lebih menarik. Perantau yang sudah parkour dan nongkrong bareng anak-anak. Cuma karena baru beberapa chapter, masih belum kelihatan banget gimana karakter Naya ini sebenarnya. Hubungan dia dengan Gema juga menarik. Suka banget karakter cewek pemberani dan mandiri kayak gini. Salut!

Baru dua karakter utama yang diperkenalkan di sini, masih ada tiga ranger lagi yang belum terungkap. Dari plotnya yang slow-burn, cerita ini jelas nggak akan selesai hanya dalam 10 buku aja.

Ada sih karakter-karakter lain yang diperkenalkan, terutama sosok-sosok di sisi yang buruk: Sandekala. Pemampilan mereka ya standar-standar penjahat gitu deh. Misterius-gotik-berantakan-muka sinis. Pokoknya aura jahatnya udah kebaca ketika pertama mereka muncul.

Kekuatan komik ini selain dari konsepnya yang mantap, juga dari gambarnya. Aduh, keren deh pokoknya. Rapi dan mudah dicerna dalam sekali lihat aja. Detailnya bagus. Memang kayaknya ditujukan untuk dibaca di layar digital ya. Nggak bisa komentar banyak-banyak dari gambarnya, nggak ahli. Pokoknya bagus aja dan enak di mata.

Artwork di chapter 5.5 jadi favoritku. Karena memang menceritakan masa lalu, jadi beda gitu sama chapter-chapter yang lain. Suka aja, lihat ilustrasinya. Nggak ngerti gimana harus jelasinnya gitu. Haha.

Aku paling suka adegan ketika Sandekala baru ngebangunin si penjahatnya. Satu panel sendiri, kelimanya duduk bersimpuh dan ngadep si raja penjahat itu. Itu kerasa epik banget! Kereeeeen! Termasuk, suka banget adegan transformasi dari orang biasa jadi ksatria. Sama sekali nggak lebay! Itu mengagumkan dan keren abis. Kebayang banget di dalam kepala gimana adegan itu kalau dijadiin animasi. Keren ih!

Namun, adegan paling favorit aku adalah di chapter pertama ketika salah satu anggota Sandekala nyerang si penjaga candi. Kyaaaa itu unik! Pakai biji (atau benih) ya, yang dilempar ke mulut si penjaga dan akhirnya tumbuh kayak tanaman bunga gitu. Aku mau lihat aksi si cewek ini lebih banyaaak. Bagus lagi kalau nanti Sandekala ini dikasih chapter sendiri atau spin-off untuk nyeritain masa lalu mereka.😀

Karena cerita ini agaknya akan panjang. Aku rasa pasti udah disiapin bagian itu. Juga, bagian-bagian lain ketika karakter-karakternya lebih ‘dihidupkan’ lagi dan dikembangin dengan semestinya. Mereka semua berhak jadi karakter yang bukan sekadar keren, mereka harus hidup dan jadi bermakna ke pembaca.

Aku senang sekali ada komik ini. Ini keren banget. Salut dengan orang-orang di belakang layarnya. Sebab selama ini ngangkat budaya lokal jadi bagian dari popular culture memang nggak mudah. Pasti kepentok dengan hal supranatural, haha. Tapi, Nusantaranger bisa mengatasi itu dengan baik! Penasaran banget dengan lanjutan cerita ini. Semoga kualitasnya makin naik seiring dengan bertambahnya chapter. Pokoknya, harus baca Nusantaranger ini.😀

Yuk baca Nusantaranger! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s