film / Resensi

Primer

primer

Dua orang sahabat membuat mesin waktu dan kamu harus mengalaminya sendiri. Sensasinya. Ini akan menantangmu karena begitu brilian sekaligus membingungkan.😀

Masih dalam rangka merayakan pekan fiksi ilmiah di blog ini! Kali ini tentang mesin waktu! Tema mesin waktu rasanya udah sering banget diangkat jadi film. Nggak perlulah aku sebutin judul ini dan itu. Tapi, ya, time travel udah dibuat dalam berbagai versi dan metode. Jadi, apa yang beda dengan Primer? Haha… aku bilang, kamu harus mengalaminya sendiri. Bertanya pada dirimu sendiri seusai nonton (terutama untuk pertama kali), ‘ngerti nggak gue?’.

Itu serius.

Aku nulis ini setelah nonton untuk kedua kali dan menolak untuk baca semua penjelasan yang beredar di internet. Iya, pokoknya jangan baca penjelasan dulu. Dinikmati aja dulu perjalanan Aaron dan Abe.

Cerita ini dibuka dengan sekelompok pemuda yang lagi ngebicarain hasil penelitian mereka dan hendak mengurus paten. Namun, Aaron dan Abe kayak nggak setuju dengan dua temen lainnya. Akhirnya, mereka meneruskan pencobaan mereka, bikin sebuah kotak ‘ajaib’. Pokoknya mereka mau nyembunyiin kotak itu dari dua temen yang lain dan akhirnya disimpan di sebuah gudang. Tentu aja mesin waktu itu bekerja dan mereka menggunakannya untuk main saham. Dari situ deh, ceritanya mulai menantang. Haha.

Film ini diceritakan dengan alur non-linear. Kamu harus jeli untuk mengerti dan teliti untuk memahami. Dibagi dalam sekuen yang pendek-pendek. Beberapa adegan yang diulang atau dilihat dari sudut pandang yang lain. Kayak main puzzle gitu deh.

Selain itu, dialognya juga rasa agak rumit. Meski natural banget diucapin sama aktor-aktornya. Bikin mikir dan dengerin baik-baik karena takut ada detail yang kelewatan. Terlebih kalau udah diulang-ulang. Jadi… mikir. Dalam durasi 77 menit yang dimiliki film ini, di awal mungkin kamu bakal ngerasa ngerti. Akan tetapi, di tengah-tengah kayak… ‘what? apa yang terjadi barusan? apa yang gue lewatkan barusan?‘ Haha. Tapi, itulah menariknya. Dan bikin film-film time travel yang lain… kayak ‘ha, gitu doang?’.😀

Film ini ditulis, disutradari, dan diedit sendiri oleh Shane Carruth yang juga memerankan karakter Aaron. Bujet yang dipakai cuma $7000 dan kebanyakan adegannya diambil di garasi rumahnya sendiri. Meski begitu, adegan-adegannya sama sekali nggak jelek. Dan ya, film ini jadi Best Drama di Sundace 2004. Keren ya.

Kalau kamu udah nonton dan belum ngerti juga. Coba cek penjelasan dari Sparknotes yang cukup lengkap dan bikin ngerti ini, juga peta timeline yang super lengkap.

Beberapa orang ngaku nggak ngerti ketika pertama kali nonton. Mereka butuh beberapa kali. Akan tetapi, please, jangan takut. Kalau kamu bener-bener suka film bertema time travel, ini harus kamu tonton. Harus banget!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s