film / Resensi

The Dark Knight Trilogy

“Bruce, why do we fall? So that we might learn to pick ourselves up.”

tdkr-trilogy

Catatan setelah marathon trilogi The Dark Knight yang digarap Christopher Nolan dalam rangka Nolan Appreciation Week (halah!). Bercanda, cuma karena beberapa hari lagi trailer Interstellar bakal keluar. Aku bilang ini film superhero yang harus kamu tonton, minimal sekali. Menjadi pahlawan pun punya harga yang harus dibayar.

Aku bukan penggemar kisah superhero. Menghibur sih dan aku hampir selalu nonton yang dikeluarin baik oleh Marvel dan DC. Soalnya suka sebel, penjahatnya pasti kalah melulu, gimana pun kuat dan brilian mereka. Pasti yang jahat akhirnya tumbang. Padahal, satu sosok bisa punya pikiran jahat kan ada alasannya, bukan dapet wangsit dari langit.

Itu salah satu mindset yang Nolan coba ubah lewat trilogi ini. Bahwa, villain pun punya alasan. Dan sesekali, mereka yang jadi pahlawan pun nggak terhindar dari pikiran yang mencelakakan. Sebab dalam Batman nggak ada alien, semua karakternya manusia, sebagian dari mereka berubah menjadi monster karena kondisi, sebagian karena ambisi.

Batman Begins (2005)

Ini paling kusuka dari tiga film. Karena terasa paling personal. Aku ngeliat banget kemarahan dalam Bruce muda dan api dendam yang menyala. Itu bikin aku nangis. Namun, pelan-pelan dia bangkit lagi dan melawan ketakutannya sendiri. Kelelawar adalah apa yang ditakutinya dan sekarang, ia ingin orang lain (kriminal) merasakan ketakutan yang sama dengannya.

Lawannya di sini adalah Ra’s Al Ghul, yang merupakan gurunya sendiri tapi berbeda jalan. Juga, Dr. Crane yang bekerja kepada beliau dengan membuat obat-obat halusinasi.

Suka banget sinematografi di film ini sebab nggak cuma di Gotham! Terutama ketika Bruce dan Ra’s Al Ghul adu pedang di atas es–itu wow banget! Dan tentunya adegan kejar-kejaran Batman–ini kejar-kejaran yang paling seru di antara dua film lainnya menurutku.

The Dark Knight (2008)

Ini yang paling keren dan luar biasa di antara ketiganya. Sebut aja satu nama: JOKER. Heath Ledger sangat luar biasa dan brilian memerankan karakter tersebut. Mengerikan dan bikin menggigil, padahal aku cuma jadi penonton.

TDK nggak lagi ditulis oleh Chris dan David Goyer, melainkan Chris dan Jonathan Nolan (adeknya!). Kerasa banget perubahan tempo cerita di sini dari BB yang agak selow, di TDK ini buru-buru dan gerak cepat! Adegan-adegannya pendek-pendek dan bikin nahan napas mulu. Aku rasa sih itu karena pengaruh Joker ya yang kalau ngelakuin sesuatu nggak bertele-tele.

Aku nggak bisa lupa adegan seorang tahanan yang di dalem perutnya ditaruh ponsel oleh Joker. Itu adegan yang nggak pernah hilang dari kepalaku. Meskipun,puncaknya ada di tiga puluh menit terakhir yang tegang dan tegang banget!

Di bagian kedua ini, aku justru simpati sama Harvey Dent. Dia nggak seharusnya begitu. Dia cuma korban. Dan Batman sendiri, jadi… entahlah, termakan emosinya sendiri.

The Dark Knight Rises (2012)

Pada penutup trilogi ini, pertanyaan yang kita denger di bagian pertama terulang lagi dan juga jawabannya. Memang reflektif banget sih dengan kondisi yang menimpa Bruce. Bruce yang dikonsumsi kesedihan dan emosinya sendiri.

Kemunculan Bane membuatnya kembali bangkit, meski tertatih-tatih. Sayangnya Bane ini kurang tergali. Dia luar biasa, tapi pada akhirnya aku ngerasa, oh gitu aja.

Terlalu banyak karakter di bagian ketiga ini, malah bikin ceritanya kurang fokus. Bruce jadi kurang tergali. Ini kayak bagian terakhir dan dibikin untuk penutup yang bagus bagi semua orang. Karena banyaknya karakter ditambah temponya yang melambat, film ini kerasa mulur. Tapi, meski gitu, tetep aja sih sukses di pasaran dan mengagumkan.

Adegan favoritku, tentu aja di pembukanya, paling suka dari trilogi ini. Berapa kali nonton tetap terpesona. Adegan ngebajak pesawat itu bener-bener bikin wow! Itu sesuatu yang kalau cuma ditulis jadi tulisan mungkin nggak akan semegah itu. Itu bukti kalau sutradara yang oke, bisa bikin menerjemahkan tulisan yang udah bagus jadi sesuatu yang lebih cakep lagi.

Meski TDKR ini paling lemah di antara ketiganya. Aku sendiri suka penutup dari keseluruhan cerita ini. Bukankah seperti itu yang diinginkan? Setelah tragedi yang terus-terusan menimpa Bruce dan membuat dia bahkan jadi tragedi itu sendiri, dia memang seharusnya bahagia. Itu pantes dia dapetin.

Aku sendiri nangis di bagian akhir (padahal dulu waktu nonton di bioskop biasa aja deh). Mungkin karena akhirnya aku lulus juga marathon Batman yang sekitar delapan jam itu dengan selamat sentausa. Nggak sih, memang aku nangis buat Bruce Wayne dan akhir cerita yang penuh harapan itu. Gotham kembali baik. Batman menemukan sosok lain yang mungkin jadi penerusnya. Dan Alfred yang mimpinya selama ini terkabul.

Alfred adalah karakter favoritku dari keseluruhan cerita. Setiap kali ada adegan Bruce dan dia bikin berkaca-kaca gitulah. Sedih banget ketika Bruce ngusir Alfred di TDKR gara-gara Alfred ngebakar surat dari Rachel. Hiks. Selain itu, aku juga suka Lucius Fox. Namanya keren!

Sepanjang nonton, aku berpikir, ini bukan kisah tentang superhero. Ini tentang manusia dan tragedi. Yang akhirnya bikin trilogi ini bukanlah sesuatu untuk dinikmati anak-anak. Kayak berlapis-lapis dan nggak habis-habis. Masih untuk tragedinya dibundel dalam cerita superhero, masih agak bikin nggak depresi sepanjang nonton karena ada aksi dan sosok-sosok yang nggak sejalan dengan batman.

Aku selalu suka tulisan duet dari Jonah dan Chris, pertama sejak The Prestige. Selalu powerful dan memikat. Dialog-dialog yang bagus. Adegan-adegan yang cakep. Bahkan TDKR, itu masih tergolong bagus banget sih. Mereka nih, yang bikin aku demen dengan trope tragedi. Sebab tragedi pada akhirnya bisa mengubah dirinya menjadi karakter.

Nggak ada yang menang atau kalah dalam cerita ini. Semua kehilangan. Semua punya dendam. Semua punya ambisi. Semua punya tujuan, bahkan Joker. Semua itu menggerakkan mereka untuk saling ketemu dan bertentangan. Pada akhirnya, rentetan kejadian itu jadi sebuah pelajaran, bukan hanya untuk Bruce, mungkin untuk kita semua. Dan, manusia selalu punya luka, itu yang membuat pahlawan nggak akan selamanya jadi pahlawan. Harus ada pilihan yang diambil.

Seperti kata Harvey Dent, “You either die a hero or you live long enough to see yourself become the villain.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s