film

Insomnia

insomnia

Inget sekali, kali pertama nonton film ini, beberapa bulan lalu. Dan meninggalkan gue dengan bengong, serta pertanyaan: ‘apa?! Nolan bikin film begini?!’. Haha. Yup, itu yang pertama terlintas di pikiran gue.

Beberapa hari lalu, ketika insomnianya kumat. Gue memutuskan mengunjungi kembali film ini. Hmm… untuk kali kedua, film ini kerasa lebih oke dibanding yang pertama. Bukankah, ini saat Nolan keluar dari style-nya yang biasa dan memfilmkan cerita yang ditulis orang lain? Gue rasa, dia melakukan hal tersebut dengan baik untuk film non-indie pertamanya ini.

Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena memang yang membintangi udah mumpuni, Al Pacino dan Robin Williams. Al Pacino sebagai Will Dormer, detektif dari Los Angeles yang dikirim ke suatu kota kecil di Alaska, Nightmute, untuk menyelidiki kematian seorang gadis remaja. Sampai di Nightmute yang selalu terang benderang, bikin dia nggak bisa tidur. Berhari-hari. Dan itu bikin semuanya bertambah buruk.

Pada salah satu pengejaran Robin Williams yang memerankan Finch, seorang novelis yang membunuh gadis tersebut, karena kurang konsentrasi dan tempatnya berkabut, Detektif Dormer malah menembak rekannya sendiri. Mati. Finch ngelihat hal itu dan akhirnya… hmm… semacam mem-blackmail si Dormer gitu ya.

Itu jadi fokus cerita. Gimana Dormer dan Finch adu kecerdikan dengan saling berkonspirasi dan menjatuhkan. Lagi-lagi semuanya makin buruk dengan masalah insomnia si Dormer ini. Pada akhir film, kita tahun, dia udah enam malam nggak tidur. Dan salah satu detektif dari kepolisian Nightmute tahu kalau dialah yang menembak Hap.

Karena ceritanya dituturkan dengan gaya linear dan meski ceritanya tetep nggak lepas dari sentuhan Nolan banget, semuanya terasa begitu sederhana. Iya, ini karya Nolan yang paling sederhana. Walau di TDK trilogy, Nolan juga pakai linear, tapi jelas aja beda, itu banyak adegan action dan ini drama.

Tone ceritanya masih dark dan creepy seperti biasa. Kerasa dingin gitu, mungkin karena setting-nya di Alaska. Ending untuk karakter-karakternya pun juga khas Nolan gitu sih. Mana ada pihak yang benar dan nggak mengorbankan apa-apa. Yang benar nggak kerasa benar, yang salah pun akhirnya dapat pembenaran.

Gue suka gimana Nolan ngegambarin gangguan insomnia yang dialami Al Pacino. Ngeliatnya emang bikin capek banget sih. Udah Al Pacino mukanya begitu kan, suaranya kedengeran lelah banget. Diselingi flash back gitu setiap kali karakter Dormer mau memejamkan mata. Dapet banget gitu efek capek dan berhalusinasinya. Dulu, kali pertama nonton kayaknya gue terlalu shock karena Nolan bikin drama berplot linear gini.

Bagusnya sih nonton film ini memang nggak kebawa-bawa nama Nolan. Nikmatin aja filmnya karena memang sebenarnya apik kok. Ceritanya rapi, penggambaran karakternya oke (meski gue ngerasa karakterisasinya kerasa kurang kuat gitu), dan adegan-adegannya juga bagus. Ini sesuatu yang nggak terlalu memberatkan pikiran pas nonton, bisa santai gitu nontonnya, meski tetap tegang. Akan tetapi, Insomnia ini sesuatu yang layak ditonton kok. Terlebih kalau kamu memang penggemar Nolan dan menyenangi tema-tema pilihan dia. Serta, Alaska indah banget dalam film ini, tapi hati-hati dengan keindahannya, terangnya, yang mencuri tidurmu.

Christopher-Nolan-Insomnia-On-Set

Christopher Nolan di set Insomnia. Ganteng yaaaaa. :D (photo by filmschoolrejects)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s