buku / Catatan / film

The Prestige

prestige-2

Catatan setelah baca novel The Prestige karya Christopher Priest dan nonton ulang ke-entah berapa kali film The Prestige karya Christopher Nolan (yang ditulis bareng Jonathan Nolan).

Aku benar-benar senang ketika akhirnya dapat alasan untuk nulis tentang kisah ‘The Prestige’ ini. Untuk menyampaikan betapa aku kagum dan terkesan. Awal mula nama Christhoper Nolan masuk ke dalam otak gue dan awal kenapa aku jatuh cinta kepada Nolan bersaudara. Aku belajar banyak tentang cara bercerita dari versi filmnya dan aku benar-benar nggak bisa menahan diri menjerit ‘keren’ ketika membaca bukunya. Kita semua punya yang seperti ini, sesuatu yang menyentuh hidupmu, dan begitu kamu sukai. Bagiku, itu adalah The Prestige ini.

Kayaknya ini adalah salah satu film yang jadi favorit banyak orang. Aku nggak mau nulis tentang filmnya aja karena semua orang udah tahu. Jadi, aku menyelesaikan bukunya, jadi punya alasan untuk menulis ini. Biar beda gitu sama review lain yang mungkin pernah kamu baca.

The Prestige bercerita tentang dua orang ilusionis (hmm pesulap) yang bersaing, Robert Angier dan Alfred Borden.

Dari dua medium yang berbeda, aku sama-sama menikmatinya. Malah suka banget. Serasa kayak cerita di semesta yang beda. Yang satu benar-benar pas ditujuin ke penonton, yang satu kerasa tepat banget untuk pembaca. Christopher Priest luar biasa, Jonathan dan Chris Nolan yang mengadaptasi ceritanya pun, aku kasih pujian sama.

Film The Prestige terfokus kepada persaingan Angier dan Borden, serta obsesi Angier terhadap teknik ‘The Transported Man’. Gimana itu memengaruhi kehidupan mereka dan orang-orang terdekat. Sedangkan, novelnya, mengisahkan bagaimana pertikaian keluarga Borden dan Angier yang turun-temurun, terutama bagaimana keturunan mereka berusaha mengungkap rahasia pertikaian dan mengusahakan perdamaian.

Jadi, serasa satu sama lain saling melengkapi. Meski apa yang terjadi di film mungkin nggak akan terjadi di buku, dan sebaliknya. Kausalitas di dalam film, meski didasarkan dari buku, hanya bisa berefek untuk adegan-adegan di dalam filmnya aja. Inilah yang bikin naskah skenario dari The Prestige ini kuanggap sebagai adaptasi yang bagus banget. Nggak menyimpang dari sumber dan dimodifikasi dengan cukup.

Memang bukunya, kalau dibandingkan dengan filmnya, mungkin kerasa bertele-tele. Akan tetapi, kamu harus duduk dan menikmati bukunya sebagai pembaca, bukan penonton. Kamu tetap bisa membayangkan seluruh karakternya seperti cast yang dipilihkan Nolan (karena karakter mereka memang nempel banget di kepala), tapi kamu nggak bisa menganggap membaca sama seperti nonton. Beda banget.

Ketika kamu duduk dengan novel The Prestige sebagai pembaca, serius, ceritanya bakal menarik kamu banget. Diceritakan dengan format jurnal harian dari buyut Angier dan Borden, serta Angier dan Borden sendiri, bikin misterinya tuh ditumpuk sedikit-sedikit. Aku inget banget sampai di halaman terakhir aja, aku masih dikejar-kejar rasa penasaran tentang apa yang bakal terjadi. Padahal, kukira ketika Andrew Westley (buyut Borden) tahu tentang Nicky Borden, semua udah jadi klimaks dan sisanya resolusi. Ternyata… masih ada kejutan. Hahaha.

Mungkin itu yang dirasain Jonathan Nolan ketika dulu baca bukunya dan gemes. Kalau nggak salah ide adaptasi ini kan memang dari Jonah, kemudian diseriusi bareng Chris.

prestige-1

 

Perbedaan naratif antara film dan buku ini yang juga jadi menarik. Chris menggunakan naratif non-linear untuk film The Prestige. Adegan di masa depan dan masa lalu serasa dicacah-cacah, disusun sesukanya, dan si penontonnya yang suruh ngaitin sendiri. Nggak gitu juga sih, memang awalnya agak memusingkan, tapi seiring dengan ceritanya berjalan… semua semakin jelas dan bikin ‘whoa, whoa, whoa….’. Gaya bercerita itu juga yang bikin aku terkesan banget kepada The Prestige. Setelah nonton, meski terpukul sama twist yang nggak terduga, aku lebih mikirin: ‘bisa ya bikin cerita kayak gitu? kalau aku pakai untuk tulisan/literatur, bisa nggak ya?’.

Jawabannya bisa! Setelah tahu kalau Jonathan Nolan nulis Memento dengan pola non-linear juga.

Kalau untuk plot sendiri, apa yang beda antara novel dan filmnya adalah pasangan Borden dan Angier yang nggak meninggal. Di film memang akhirnya, Angier kerasa sebagai karakter yang awalnya patut dikasih simpati banget, meski akhirnya bikin geregetan. Sementara, di buku, kemunculan Angier pertama kali malah memalukan banget–dia seorang penipu. Yap, penipu. Hmm… penghibur, penipu. Begitulah. Namun, seiring ceritanya berkembang, Angier di novel adalah sosok yang pantas dikasihani banget.

Itu salah satu hal yang kamu nggak akan temukan di filmnya. Apa yang benar-benar terjadi kepada Angier ketika masuk ke dalam mesin bikinan Tesla? Di novel semua itu dijelaskan panjang lebar. Beserta penyesalan-penyesalan Angier.

“Aku menipu kematian beberapa kali. Karena itu kematian menjadi hal yang tidak nyata bagiku. Kematian menjadi kejadian biasa yang entah bagaimana selalu berhasil kuelakkan.

Tidak seorang pun begitu menderia sepertiku setelah mengalami semua ini.”

(The Prestige, hal. 512, terjemahan Serambi 2008) *terjemahannya bagus banget!

Kalimat ini maknanya serupa dengan akhir dari pertemuan Albert dan Robert. Oh ya, ini juga yang nggak dijelaskan difilm, nama asli kembar Borden adalah Albert dan Frederick (ingat panggilan Olivia kepada Borden, Freddie?). Nah, yang digantung di akhir adalah Freddie, bukan Albert.

Sementara dalam naskah skenario, kalimatnya kurang lebih kayak gini.

B: Sacrifice, Robert- that’s the price of a good trick. But you wouldn’t know anything about that, would you?

A: I’ve made sacrificies.

B: It takes nothing to steal someone else’s work.

A: It takes everything. Do you want to see what it cost me? You didn’t see where you are, did you? Let me show you. It took courage to climb into that machine every night… Not knowing if I’d be the Prestige…. Or the man in the box…

Dialog tersebut nggak bisa dipisahkan dari adegannya. Itu yang bikin kuat banget film The Prestige ini. Dan dialog-dialognya juga keren banget. Penuh metafora dan makna-makna yang ambigu. Suka banget deh (makanya bikin cinta banget sama Jonah dan Chris Nolan). Coba untuk baca screenplay-nya deh, sama kerennya!

(L-R) Andy Serkis, David Bowie, Hugh Jackman

(L-R)  Hugh Jackman, Andy Serkis

adegan favoritku di The Prestige!

Namun, apa yang sebenarnya terjadi, memang mesin itu menciptakan duplikan bagi Angier. Kalau di novel, jadi duplikatnya nggak hidup, tapi jadi semacam ‘wadah’ kosong yang kayak boneka plastik, nggak bisa rusak, nggak hidup, pokoknya selamanya begitu. Karena yang terjadi adalah atom-atom si Angier ini diduplikasi gitu. Nah, ini yang jadi sumber konflik seru di 1/3 bagian akhir novelnya. Di novel, Borden menyabotase mesin di tengah-tengah aksi si Angier, akhirnya ada dua Angier yang sama-sama hidup tapi nggak sempurna. Yang satu kayak hantu, yang satu fisiknya lemah. Ini keren banget!

Angier mendeskripsikan rasa sakit yang amat sangat setiap kali masuk ke dalam mesin tersebut. Rasa sakit yang akhirnya jadi biasa saja karena terbiasa, malah bikin dia ketagihan. Jadi, Angier memang pernah pura-pura mati sebagai The Great Danton, kemudian mati lagi sebagai Angier duplikat… dan duplikat satunya… aku nggak akan cerita.

Di dalam novel juga lebih banyak disebut tentang nama-nama teknik, dijelaskan juga kayak apa. Beberapa diangkat di dalam film juga. Kayak yang dari gelang-gelang itu, sampai punya Cho Ling So yang legendaris itu. Yang aneh, di bagian awal film, Julia (istri Angier) sempat melakukan teknik keluar dari kotak kaca penuh air. Aku mendadak mikir, lah yang sebenarnya ilusionis siapa, Julia atau Milton (si ilusionis yang memperkerjakan Julia). Angier melakukannya sendiri di novel, bahkan sempat mati dua kali, pertama karena disabotase Borden, yang kedua karena dia iseng untuk masuk dalam mesin dan keluar di sana. Keanehan yang aku lihat di film itu, nggak terlalu menganggu sih, karena memang itu penting buat cerita dan terikat sama salah satu adegan di bagian belakang.

The Real Transported Man juga merupakan teknik yang dari fokus utama baik di novel atau buku. Nah, cara mengungkapkan teknik ini yang keren banget. Di film, ya gitu kan, aku nggak akan sebutin meski mungkin kamu udah nonton. Sementara di novel, diungkap pelan-pelan, dari awal udah disebut tentang kembaran. Sampai akhirnya di belakang baru ketahuan tentang ‘kembaran’ dan gimana tentang teknik itu sebenarnya.

Ini salah satu contoh ngungkapin misteri yang keren yang pernah aku baca dan tonton. Meski di awal, aku ngerasa kurang gereget karena udah tahu twist dan cerita sebenarnya dari film, tapi ketika baca novelnya itu semua udah nggak peduli lagi. Udah hanyut sama cerita di novel. Pokoknya, setelah selesai baca, aku malah pengin makasih banget sama Jonah dan Chris nggak mengadaptasi secara plek-plekan kisah di bukunya. Bikin kejutan-kejutannya tetap dapet ketika baca novel. Ketika baca novel, aku sendiri ngebayangin kalau bukan mereka berdua yang mengadaptasi, mungkin bisa jadi bencana banget deh. Karena ceritanya memang kompleks dan ‘tricky’ untuk dipindah medium menjadi film. Salah-salah nulis adaptasi, bisa jatuh ngebosenin! Akan tetapi, yeaaaa Jonah dan Chris ngelakuin hal yang keren banget!

Alasan lain untuk nonton dan baca: Nikola Tesla. Iya. Beliau. Di film, bisa lihat Tesla Coil dan betapa kerennya beliau ketika lewat di bawah aliran listrik. Kereeeeeeeen!

Masih pengin cerita banyak sih. Akan tetapi, rasanya dicukupkan dulu segini. Haha. Aku benar-benar suka buku dan filmnya. Salah satu film yang harus kamu tonton minimal sekali dalam hidupmu. Dan bukunya, aku rekomendasi banget kalau suka thriller dan fantasi. Haha. Pokoknya cakep. Iya, cakep!😀

Bonus: foto-foto Chris Nolan di set The Prestige! (ini yang paling penting! tapi sayang nggak nemu foto Jonah! ah!)

prestige-4 prestige-5 prestige-9

7 thoughts on “The Prestige

  1. pleaseeeee……. kalau ada waktu luang terjemahin screenplaynya donk:)
    humes221b@gmail.com
    nyesel banget aku gak belajar bahasa inggris dari kecil 😦

    ini juga film yg buat nama Nolan nyangkut di kepalaku, dan dapat dibilang mengubah hidup gue, karena dialog ini:

    “Kau tak pernah mengerti mengapa kita melakukannya. Penonton tahu yang sebenarnya. Dunia itu sederhana…. Berisi penderitaan. Penuh penderitaan. Tapi jika kau bisa kelabui mereka, meski hanya sesaat…. maka kau bisa melihat mereka terpesona. Itulah keajaiban”

    [Dan memang bener, itulah yang dilakukan Nolan dengan film-filmnya. Sebanyak apapun masalah di dunia real ini, pas nonton film nolan, kita diajak ke dimensi lain. Pas filmnya habissss, stresss lagi deh sama masalah hidup🙂 ]

    NB: review2 filmmu keren! boleh tahu mulai nonton dari tahun berapa? gue telat banget nih baru punya akses dan mulai nonton dari tahun ini. Hikzzz

  2. menurut sy adegan yg keren tu waktu Alfred Borden/Mr. Fallon (Christian Bale) ngucapin ”Abrakadabra” waktu di gantung untuk hukuman mati, dan ternyata Nikola Tesla memang ada di kehidupan nyata dia seorang penemu, fisikawan, teknisi mekanika, dan teknisi listrik Amerika Serikat, sy kira cuma fiksi, ;D
    sy jg nonton ni film jam 11 malem sambil gelap”an alias matiin lampu kamar biar kerasa hawa mistisnya😀
    keren dah ni film

  3. waktu aku lihat filmnya ada adegan waktu julia mau diiket tangannya, trus si borden berhenti bentar & iketannya di ganti. kok kaya si julia sm si borden uda kerjasama gitu ya. kl di novel dijelasin gak? penasaran nih.

    • Adegan itu nggak ada di buku. Tapi penjelasannya ada di adegan sebelumnya, pas Borden dan Aigner kumpul di belakang pas bagian habis pertunjukkan pertama. Cutter udah kasih peringatan ke Borden tentang simpul yang nggak jadi dia pakai. Tapi Borden dan Julia coba meyakinkan Cutter kalau mereka sudah latihan sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s