Resensi / Serial

Person of Interest Season 1

“Only the paranoid survive.”

person_of_interest_poster1

Dari hati yang terdalam… gue harus bilang: gue suka dan terkesan dengan show ini! Bukan karena Jonathan Nolan yang punya ide dan nulis beberapa episode. Tapi, tapi, show ini memang menghibur banget, punya karakter cewek yang keren-keren, twist-twistnya menarik (buat gue yang jarang nonton action), dan tentunya karakter John Reese.😀

“You are being watched. The government has a secret system: a machine that spies on you every hour of every day. I know, because I built it. I designed the machine to detect acts of terror, but it sees everything. Violent crimes involving ordinary people; people like you. Crimes the government considered ‘irrelevant’. They wouldn’t act, so I decided I would. But I needed a partner, someone with the skills to intervene. Hunted by the authorities, we work in secret. You’ll never find us, but victim or perpetrator, if your number’s up… we’ll find you”.

Premis show ini sendiri nggak akan asing bagi kita, terutama kalau ngikutin berita tentang NSA yang rame akhir tahun lalu. Tentang sebuah mesin yang memonitor dan merekam seluruh aktivitas manusia (terutama pengguna internet, telepon, ada dalam jangkauan CCTV, dan punya nomor identitas). Mesin tersebut membuat pola dari data-data yang didapat dan menentukan mana yang berbahaya bagi negara, mana yang tidak. Mana yang harus ditanggulangi secara cepat dan mana yang dibiarkan saja–yang dalam show ini dikenal sebagai irrelevant data.

Irrelevant data inilah, atau lebih jelasnya pola kecendrungan timbulnya kriminalitas dalam bentuk kecil, yang terjadi pada orang-orang biasa kayak kita ini, yang jadi hal penting dalam Person of Interest. Harold Finch, kreator dari mesin tersebut, masih bisa mengakses data irelevan tersebut lewat ‘pintu belakang’ meski sekarang mesinnya sudah dimiliki pemerintah US. Terusik dengan ‘nomor-nomor’ yang keluar dari mesin, akhirnya Finch pun menemukan John Reese, mantan anggota CIA yang patah hati udah pensiun untuk ngebantu dia menyelesaikan masalah ‘nomor-nomor’ tadi di lapangan. Sebenernya pensiun nggak pantas buat Reese, lebih tepatnya… dia harusnya dilenyapkan pada salah satu misi, tapi berhasil melarikan diri.

Akhirnya, Finch dan Reese pun bekerja sama untuk membantu orang-orang yang nomornya keluar dari mesin. Baik itu menyelamatkan mereka ataupun mencegah mereka melakukan kejahatan. Seiring waktu, mereka akhirnya dibantu oleh Detective Joss Carter dan Detective Lionel Fusco dari NYPD.

Gue khawatir ketika mau memulai serial ini. Soalnya gue lebih sering nggak selesai dengan serial episodik kayak gini. Apalagi kalau udah bisa baca pola bercerita setiap episode. Namun… nyatanya, gue bisa bertahan. Prestasi baru nih. :D

Memang sih, semakin ke belakang, tindak tanduk Reese semakin bisa kebaca. Alurnya pun langsung kelihatan: nomor keluar-Reese observasi-ketemu korban-mulai timbul konflik-klimaks-resolusi. Ya gitu, setiap episode. Walau korbannya beda-beda ya, dari yang manusia biasa, eh maksudnya orang biasa-biasa aja, sampai kelompok mafia, anggota NSA, juga bayi! Iya bayi!

Nama siapapun bisa keluar. Sayangnya, cuma di New York aja. Nggak ada kesempatan gue ketemu dan diselamatkan Om Reese dong ya. :”>

Namun yang bikin menarik adalah cerita besarnya. Siapa sebenarnya Finch? Apa yang terjadi sama Reese? Konflik Reese dan Elias (kepala salah satu kelompok mafia di NY). Dan Root…

Gimana meskipun setiap episode berasa standalone (seperti yang pernah gue ungkapkan di tulisan tentang Person of Interest sebelum ini), tapi tetap ada clue yang nyambung dari satu dengan yang lain. Cuma ya tetap aja sih, baiknya ditonton berurutan, biar ngerti sebenarnya ceritanya tentang apa.

OH YA, yang bikin penasaran lainnya tentunya tentang THE MACHINE dong. Apalagi coba.😀

Gue suka karakter-karakter di sini. Bromance antara Finch dan Reese. Hubungan Carter dan Fusco yang lucu, haha. Reese yang hobi ngebully Fusco. Suka! Gimana hubungan mereka berkembang dari awal cerita sampai ke belakang juga dituturkan dengan smooth.

Posisi Finch-Reese dan polisi juga lebih kayak partner. Saling butuh satu sama lain. Nggak saling minteri. Meskipun, F-R punya akses lebih besar dibanding Carter dan Fusco, mereka nggak pernah sok. Cuma, F-R emang bossy sih ke mereka. Suka ujug-ujug telepon gitu. Dan pasti bawa kabar jelek. :p

Meski cuma bisa mengakses data irelevan dari The Machine, Finch yang jago dan memang ahli IT menggunakan keahliannya buat ini-itu. Bener-bener ini itu. Mungkin ngeliatnya agak bikin paranoid karena begitu mudahnya data-data kita diambil di jaman digital kayak gini. Begitu mudahnya kita dilacak ada di mana hanya lewat keberadaan perangkat kita.

Hal tersebut, masalah etika, sempat dibahas di episode 22. Ketika seorang pegawai NSA (National Security Agency), namanya keluar dari The Machine. Ternyata ancaman-ancaman yang diterima dia karena dia ngajuin pertanyaan sederhana: ‘apakah mesin kayak gitu ada?‘. Dan dia hampir aja dibunuh gara-gara itu.

Kalau kata Reese sih: ‘No one is safe.’

Akhirnya apa, yaudah pasrah, kan? Pasrah aja?

Ada lagi salah satu cerita tentang seorang korban, mantan anggota NSA yang dulu ikut ngurus The Machine dan akhirnya entah keluar atau dipecat, kalau nggak salah Alicia namanya. Dia bahkan menyepi ke tempat yang nggak ada jaringan internet dan telepon, biar nggak ngerasa dimata-matai. Lari dari orang-orang dan segala macam jenisnya.

Hal itu juga dipertanyakan oleh Reese, gimana sebenarnya mesin itu bekerja? Karena setiap hari yang dia terima udah berupa nama. Makanya, rada-rada di tengah sampai akhir, Reese malah ngikutin Finch. Ya… nggak tahu mesinnya gimana, cuma Reese jadi mengungkap rahasia Finch. Bayaran yang harus Finch dapat dari membangun The Machine. Namun, Finch nggak pernah menyesal menciptakan The Machine.

Kerennya, Finch di season pertama ini udah dipertemukan dengan lawan yang setara. Sama-sama hacker. Namun, belum selesai sih gimana interaksi keduanya, bersambung nih di season dua, penasaran apa yang terjadi sama Finch dan Root.😀

Juga, gue senang ketika Reese akhirnya, bertemu dengan lawan yang sama kuat. Masih di episode 22. Sama-sama dilatih oleh fasilitas pemerintah. Berantemnya seru. Juga, Elias sih. Cuma Elias ini nggak main fisik, dia lebih ke otak dan kekuasaan, cuma memang konfrontasi langsungnya ke Reese bukan Finch.

Oh ya, tentunya karakter cewek-cewek di sini keren-keren. Joss Carter, Zoe Morgan, dan Root. Juga beberapa penjahat cewek yang seru abis. Haha. Pokoknya suka. Cewek-cewek mandiri, tegas, pemberani, dan bisa melindungi dirinya sendiri! Waktu nonton salah satu episode dua, gue tahu ada karakter cewek yang keren!

John Reese

Reese and his big gun. Super sexy!

Hmm ngomongin serial ini nggak akan lengkap tanpa ngebahas John Reese secara spesial. Haha. Diperankan oleh Jim Caviezel, John Reese ini tampil dalam karakter stoik, cekatan, bergas, dan rupawan. Dengan tubuh tinggi, bahu indah, tegap, dan selalu pakai kemeja putih plus jas, bikin nganu… lebih kayak model jalan daripada mantan anggota CIA. Wajahnya yang dingin dan tegas, senyumnya manis, dan rambutnya yang agak beruban bikin seksi abiiiiiiis. Awwwww. Belum lagi kalau udah ngomong. Suaranya mendesah-desah gitu. Ampun deh.

Paling suka ngeliat Reese kalau lagi mukulin orang, nembakin orang, apalagi kalau pakai senjata beratnya. Ihhhh, seksi nan gemesin! Sesungguhnya, dia serasa rada-rada immortal gitu sih. Ada tuh di episode 19, ketika dia ditangkep, dimasukkin ke bagasi dan mobilnya dibakar. Dia keluar dari bagasi, batuk-batuk, dan luka habis dipukulin. Habis itu langsung berdiri, pergi bareng Carter, kemudian ganti baju seragamnya kayak biasa, langsung beraksi lagi. What the fuck Reese? What the… Haha. Ya, ada sih momen-momen nggak immortal, kayak pas tumbang karena kena tembakan dari anggota CIA yang ngejar dia. Yang jelas, dia punya stamina yang oke banget. Selalu muncul di mana-mana tepat waktu, mungkin asalnya dari perguruan ninja atau didikan Ras Al Ghul. Haha.

Terlepas dari semua ‘kecanggihan’-nya itu. Reese adalah the walking tragedy. Sosok yang ketika kamu lihat matanya langsung tahu kalau masa lalunya kelam. Dia yang lari dari sesuatu. Sikapnya yang stoik adalah hasil dari ngeliat yang nggak dilihat oleh orang-orang lain. Yang bikin penasaran sekaligus nggak ingin tahu. Dia hidup sendirian. Nggak punya teman. Ada salah satu scene ketika dia dikasih libur oleh Finch, seharian nggak terima pesan dari siapa-siapa dan dia kelihatan resah gelisah banget. Bikin simpati dan sayang gitu.

Masih kurang gemes sama Reese? Dia sayang anak-anak (episode Baby Blue). Dia kebapakan (episode Wolf and Cub). Dia benci banget sama pelaku KDRT dan protektif banget sama perempuan (episode The Fix, Many Happy Returns, dan Firewall). Dia… pria yang patah hati (Many Happy Returns).

Many Happy Returns (eps 21), adalah salah satu episode favorit gue. Ketika dilihatin flashback Reese ketika kembali dari lapangan, nyari mantan pacarnya yang udah nikah dengan orang lain. Ternyata… si Jessica itu. Ah. Gue nangis tuh di bagian akhir. Sedih. *Peluk Reese*

Selain itu, episode lain yang keren adalah episode 22 dan 23. Bikin gemes tuh dan duduk sampai miring-miring. Sukaaaa! Dan ending episode 23, episode final, juga gemesin, cliffhanger dan penasaran mau lanjut! Ah!

Jonathan Nolan nulis empat episode untuk season ini, Pilot (episode 1), Ghost (episode 2), Many Happy Returns (episode 21) dan Firewall (episode 23). Yang sendiri cuma episode satu sih. Sisanya dia bareng dengan penulis yang lain. Yang episode 23 tuh, rasa Jonah banget. :D

Person of Interest season satu rilis tahun 2012. Diproduseri oleh Greg Plageman, Jonathan Nolan, dan J.J. Abrams. Mei ini baru aja selesai season ketiganya dan season empat bakal keluar September nanti. Di Indonesia, Person of Interest diputar setiap Kamis malam di Warner TV (cable). Pokoknya buat cewek-cewek harus cobain nonton Om Reese yang jago banget buka berbagai macam pintu, termasuk pintu hati!😀

4 thoughts on “Person of Interest Season 1

  1. ahaHahaa.. akhirnya ada juga yg berpikiran sama kek gw : kenapa machine cm mengeluarkan nomor2 seputaran new york, kan eikee jg ga pny kesempatan diselamatkan oleh om reese *kedip2 ganjen :p Trus suaranya ngebass gitu mana aluss benerr ngomongnya kek berbisik, padahal kelakuannya klo udah ktemu musuh hampir mirip2 monster, bag..big..bugg…dhuaarr!!! Tapi sayang yahh sepertinya finale seasonnya cuma mpe season 4 doank

    • huaaaa akhirnya ketemu irrelevant lain! kalau kata abang-abang EP-nya, Jonah Nolan dan Greg Plageman sih mereka udah punya cerita sampai sekitar lima season ke depan. Gue harap sih nggak sepanjang itu. Banyak yang prediksi mungkin sampai season 6 atau 7. Season 1 & 2 = Act 1, season 3&4 = act 2, dan mungkin 5&6 = act 3/finale.😀

  2. gw sehh liat di fb Person Of Interest (yahh jelek bgt referensi gw :p hehee) season 4 ini jd finale season, aiiihh sayang sekali klo cm dikitt, trus fans di FB dan jumlah likers posting2annya jg dikitt, apa mungkin kurang booming yahh kyk dexter serial killer. Semoga aja gw salah yahh dan semoga aja kata abang2 EPnya bener, msh ada 5 season, atooo paling dikit mpe 7 season lhaa, jgn dibawah 5 >_< terus klo bisa team machine jgn berubah lagi dunk, gw lebih suka team machine yg pertama : finch, reese, carter, fusco dan backup team nya : zoe morgan, leon, bear. Dengan datangnya root & shaw gw ga bisa baca pikiran mereka : apakah mereka benar2 ada di baris yg sama dengan finch & reese ato mereka ada di gray area, bisa jadi kerjasama bisa jadi menikam dari belakang, ga kayak fusco dan carter yg serius membantu d.uo finch & reese, ahh..bring back joss carter pegimane caranya dehh *ehh :p ohh iya, salam irrelevant data, semoga om reese segera menyelamatakan kita, wkWkwkwkkk😀

    • Karakter Carter memang nggak terganti. Pas ending season tiga, sewaktu foto Carter jatuh ke lantai itu bikin nyesss banget. Duh, sampai kapanpun pokoknya Carter tetep jadi bagian The Machine Gang. Tapi seru sih ada Root, karena Finch dkk jadi ngelakuin hal hal yg di luar perkiraan mereka. Jadi, seruuu. Semoga Zoe dibawa balik ke season 4 ini, season tiga kemarin cuma dapet satu episode, padahal suka banget karakternya.😀

      Kalau diselamatin Reese nanti malah gelendotan manja, wkwkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s