Serial

Person of Interest Season 2

“But that’s what’s most impressive. John, I’ve been looking into you. And I’m not talking about your bogus hedge fund cover. You and your partner here don’t seem to have a digital footprint. So I have to ask myself, how is this possible in this information age? People with that kind of anonymity, that’s real power.” – eps 14, One Percent

Person-of-Interest-Season-2-Promotional-Photo

Gue nulis ini masih dalam kondisi terpana habis nonton episode 22, God Mode. Bikin terganga dan hahaha. Akan tetapi, biar gue merunut dari awal seluruh season ini. Biar kamu tahu kenapa gue sampai termangu dan terpesona.

Di review season pertama, gue bilang terkesan. Sekarang, gue jadi ketagihan. Haha. Sejak mulai marathon susah berentinya. Lagi-lagi bukan karena nomor-nomor yang dikasih oleh The Machine. Ya, meski gue masih ngarep nomor gue keluar dan gue diselamatkan oleh Om Reese. Namun, storyline utamanya itu yang bikin gemes.

Satu hal yang gue pelajari dari season pertama POI adalah untuk bikin serial episodik, bikin karakter yang dicintai oleh penonton. Dari season kedua, ternyata karakter yang dicintai aja nggak cukup untuk bikin orang nonton (terutama gue sih), bahkan meski ada development character-nya: satu hal lain yang penting adalah misteri dan dasar dari kisah itu sendiri. Jadi, mestinya development itu terjadi berkaitan dengan event dalam plotnya sendiri. Di season dua ini, POI bisa memenuhi itu.

Setelah season pertama, kita dikenalkan dalam sama John Reese dan masa lalunya. Di season dua ini, kisahnya lebih fokus pada Finch dan The Machine. Cerita Finch dan Ingram, Finch dan Grace, dan ya hubungan Finch dan The Machine. Di season ini juga ada beberapa storyline, yaitu The Machine, HR, dan Decima-ISA (Intelligence Support Activity).

Season satu diakhiri dengan kemunculan Root di depan Finch dan nembak Alicia Corwin begitu aja. Episode pertama dan kedua dari season dua, masih melanjutkan cerita itu. Root ini pengin tahu di mana The Machine dan ‘membebaskannya’. Root neror orang-orang yang dulu terlibat proyek tersebut dan dibunuh. Reese berusaha mencari tahu di mana Finch. Sebelum sempat rencana Root terlaksana, udah ditemuin sama Reese duluan dengan bantuan The Machine.

Konflik di atas jadi plot utama dari POI season dua. Karena penutup cerita ini, menyelesaikan konflik di atas tadi. Terutama untuk episode 21 dan 22. Ketika Root kembali mendapatkan Finch.

Di sela-selanya, Fusco masih terlibat HR dan makin dicurigai. Juga, Carter yang makin dilibatkan dalam pencarian ‘man in the suit’. Pencarian ‘man in the suit’ itu bikin Reese sempat di penjara. Tapi ya dengan bantuan Carter dan Finch, akhirnya bisa bebas juga. Di akhirnya, twistnya Carter memang kebaca, tapi development character dia… cakep! Suka deh.

Reese memang agak magabut di season dua ini. Nggak terlalu seru malah plot dia. Jarang pakai senjata beratnya lagi. Berantemnya juga nggak terlalu sering. Namun, gue suka ketika dia harus memerankan karakter yang jauh dari biasanya, episode 205 dan 206. Gue suka Reese di situ, ketika dia nggak bisa jadi man in the suits, dan ketika harus jadi bapak-bapak di daerah suburban yang pakai polo shirts. Ganteng! Dan Zoe! Gue suka hubungan dia sama Zoe. Haha. Pas aja gitu. Unyu! Oh ya, di sini dilihatin kemampuan lain dari Reese, yaitu memasak. Ya, ampun tambah gemes nggak sih.😀

Episode Reese lain yang jadi favorit gue, yaitu episode 14 ‘One Percent’. Sewaktu dia harus nanganin klien yang genius. Haha. Reese sampai kesel dan ngambek sendiri.

Ada karakter-karakter baru juga, Shaw, Leon, dan Bear. Shaw ini keren banget! Pertama muncul di episode 16 ‘Relevance’. Pokoknya keren abis, kayak Reese versi cewek tapi lebih nggak punya hati. Sementara, Leo, dia akuntan yang suka banget kena masalah. Tapi, akhirnya sering bantu-batu Finch juga sih. Lalu, Bear! Anjing Belgian Malionis yang dilatih secara militer dan cuma ngerti instruksi pakai bahasa Belanda. Keren dan unyuuu!

Episode 16 ‘Relevance’ jadi yang paling keren di sepanjang season dua. Meski kayak side story, karena ceritanya dilihat dari sudut pandang Shaw dan kemunculan Reese-Finch cuma sedikit. Tapi, tetep keren abis. Non-stop action dan twist di mana-mana. Pokoknya gemes deh. Haha. Episode ini ditulis dan disutradari oleh Jonathan Nolan loh.

Kemudian episode 22 tentunya. Openingnya aja udah bikin bengong. Haha. Episode 21 diakhir dengan Root yang akhirnya dapet akses admin The Machine. Namun, Finch juga ngatur agar Reese dapet akses. Dimulai dari dering telepon… ‘Can you hear me?’–pertanyaan dengan suara elektronik. Setelah itu, Reese dapet instruksi: 4.00, 9.00, 10.00 … yang teryata posisi musuh mereka. Dan sekilas, dilihatin dari sudut pandang The Machine, gimana mereka kayak lagi main video game. Pokoknya seru banget!

Bukan cuma itu keseruannya, twist di bagian akhir juga bikin bengong. Flashback Finch dengan Nathan dan Grace yang bikin berkaca-kaca. Serta beberapa hal tentang The Machine yang bikin bengong. Dan terakhir, kemunculan ‘Control’. Jreeeeeng. Nggak tahan mau segera ngelanjutin ke season tiga jadinya.

Selain Finch yang superb di season ini, satu lagi yang bikin geregetan adalah The Machine. Di season satu, kita cuma tahu kalau The Machine adalah sesuatu yang powerful, berguna dan berbahaya sekaligus. Di season dua ini… kita tahu kalau The Machine ini: hidup. Dia bisa jadi matchmaker, ini yang terjadi sama Finch dan Grace. Yang paling kelihatan, ketika Root dan Reese dapet akses admin. Kamu tanya sesuatu dan kamu akan dapat jawabannya. Itu… mindblowing. Gue jadi bertanya-tanya gimana Finch nggak tergoda untuk serakah… soalnya, gue pribadi jelas bakal sumringah kayak Root kalau dapet akses admin The Machine. Kamu bisa ngapain aja, dapet apa aja, … semua pokoknya ketika kamu punya akses ke The Machine. Apapun.

The Machine ini sempat disusupi virus oleh Cara Stanton (episode 12-13). Yang kemungkinan besar jadi penyebab keanehan The Machine. Perilaku anomali The Machine ini mulai dari episode 16. Setelah itu, beberapa episode di depannya memang nggak terlalu seru, malah berasa prosedural standar, itu juga karena The Machine yang ngeluarin nomornya nggak langsung kepada target. Akhirnya, Finch dan Reese harus nebak-nebak apa yang sebenarnya dimau The Machine. Sampai di episode 21, setelah The Machine selama sepuluh hari bikin Reese dan Finch nganggur kemudian datang dengan sebuah nomor milik Ernest Thornbill, pemilik Thornbill Corporation. Ini… ini… episode yang bikin bengong juga. Masih inget kan kalau setiap malam The Machine udah diprogram untuk nge-reboot dirinya sendiri? Jadi, dia bikin perusahaan fiktif (iya… The Machine) untuk nyimpen memori. Pokoknya nonton deh. Nonton sendiri. Bikin bengong abis.

Kemudian di episode 22… The Machine kembali ngagetin dengan sesuatu hal. Dia juga nandain Finch and the gang dengan tag warna kuning sekarang. Carter dan Fusco nggak termasuk tag kuning.

Show ini ditulis dengan bagus dan baik. Tetap fokus sama cerita yang disajikan dari awal. Porsi development character, konflik, action dan scifi-nya kerasa cukup di sana-sini. Juga, directing-nya yang oke. Pilihan lagu-lagunya juga keren. Baru sadar kalau composernya si Ramin Djawadi.😀

Penasaran dengan The Machine yang di akhir episode 22 nelepon beberapa orang. Hmm… jadi sekarang, The Machine mulai mengontrol semuanya? Nggak sabar untuk lanjut ke season tiga. Gemes!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s