Serial

Person of Interest Season 3

“When the whole world is watched, filed, indexed, numbered, the only way to disappear is to appear, hiding our true identities inside a seemingly ordinary life.”

Person of interest logo

Ketika mulai nonton Person of Interest, gue punya kekhawatiran kalau ke depannya serial ini bakal repetitif. Karena di beberapa episode awal, kerasa banget kalau ini adalah serial prosedural, semacam NCIS atau Elementary. Cuma yang ini berbalut science fiction: keluar nomor, lalu Machine Gang beraksi, dan beres-beres. Hmm… tapi ternyata nggak gitu, bahkan di season tiga jadi beda banget. Serial yang awalnya prosedural ini beralih jadi satu cerita panjang. 

Bikin cerita yang solid dalam 23 episode bersambung itu nggak mudah lho. Akan tetapi, untuk season tiga POI ini, gue bisa bilang berhasil. Kalau di season satu gue bilang terkesan, season dua bikin gue ketagihan, dan season tiga… bikin gue jatuh cinta.

Season ketiga ini diwarnai dengan akting yang keren, penyutradaraan yang seru, adegan aksi yang cakep, karakter-karakter yang luar biasa, cerita yang menyentuh, twist yang nggak diduga, tapi tanpa kehilangan jati diri, terutama humor-humor dari season yang sebelumnya. Sebelumnya, gue cuma pengin bilang, season tiga ini benar-benar brilian!

Dibagi dalam dua storyline utama, yaitu HR dan konflik The Machine Gang-Decima-Vigilance.

Carter makin dendam dengan HR, selain karena kematian Cal Bleecher, juga karena dia dijebak dan akhirnya bikin dia turun jabatan jadi polisi lalu lintas. Dia ditemani seorang rookie bernama Laskey. Diam-diam Carter sering memata-matai kegiatan HR mencari bukti-bukti. Kegiatan Carter tentu aja kecium sama Reese dan Reese pun menawarkan diri ngebantu, tapi Carter selalu nolak.

Laskey ternyata antek-antek HR juga. Namun, akhirnya ketahuan sama Carter. Dengan gertakan dari Carter akhirnya Laskey ini pun jadi nurut sama Carter dan berbalik memata-matai HR. Sampai akhirnya, kejadian Laskey yang tertembak sama salah satu antek HR bikin Carter geram. Dari kejadian itu juga Carter tahu kalau yang selama ini jadi ketua geng HR adalah Quinn.

Mulailah Carter melaksanakan terornya. Yep, serius teror. Dimulai dari meluncurkan granat ke truk berisi narkoba punya geng Rusia (eps. 8). Ke kantor Quinn. Pokoknya niat dia mengadu-domba HR dan Geng Rusia. Tentunya dia juga dibantu oleh Elias yang utang nyawa sama Carter. Akhirnya, datang juga kesempatan untuk nangkap Quinn dan Simmons dan semuanya. Quinn berhasil ditangketp, tapi Simmons lolos. Ternyata, Carter dijebak, tapi diselamatkan Reese yang bikin Reese jadi buronan seluruh kota (eps.9).

Jadilah, Reese, Carter, dan Quinn kucing-kucingan sama seluruh orang (jahat) di kota. Fusco ditangkap dan disiksa geng HR. Sementara Shaw menyelamatkan anak Fusco. Finch sempat kehilangan kontak dengan Reese dan Shaw menyarankan untuk nanya ke The Machine via Root. Namun, Finch menolak karena tahu ke mana Reese menuju. Akhirnya, Reese dan Carter bisa keluar dengan selamat dong. Carter menyerahkan Quinn ke FBI.

Tapi, semua belum selesai… inget: masiha da Simmons. Dan, malam itu. Dalam adegan yang super dramatis. Beneran deh. Bagus banget. Simmons muncul dari kegelapan, nembak Reese dan Carter. Carter nggak selamat.😦

Adegan itu, di episode 9 ‘Devil’s Share’, bagus banget. Finch ngeliat dari kejauhan di deket sebuah boks telepon yang berdering pada saat itu. Miris. Tragis. Dramatis. Gue aja sampai berkaca-kaca.😦

Kalau kamu kira arc tentang HR selesai di episode 9, nggak sama sekali. Episode 10, dibuka dengan montase yang diiringi lagu Hurt-nya Johnny Cash. Reese yang pergi dari tempatnya dirawat, masih dalam keadaan luka dan kritis, untuk nyari di mana Quinn demi menemukan Simmons. Untuk bunuh dia. Finch, Shaw, Fusco, dan Root pun akhirnya bisa nemuin dia di sebuah hotel. Juga ngegagalin Reese untuk bunuh Quinn. Ending episode 10 ini sekali lagi nggak terduga. Fusco yang dapet alamat Simmons dari Quinn akhirnya berhasil ngegagalin Simmons sebelum pergi ke luar negeri dan dia nangkep Simmons. *tepuk tangan untuk Fusco!*

Di episode 10 yang ditulis oleh Jonah Nolan ini juga banyak flashback, rasanya hampir semua karakternya. Fusco yang nggak disangka-sangka nggak nyesel ngebunuh orang sebelum ini. Reese yang nyembunyiin profil ‘the killer’ di balik muka ‘boy scout’-nya dan ngubah dari satu karakter ke yang lain dengan mudahnya. Shaw, ketika dulu pernah jadi dokter di ER dan dipecat karena nggak simpati—nggak bisa merasakan emosi.

Selanjutnya, gue kira udah selow. Ternyata sama sekali nggak. Episode 11-12, bikin tahu sedikit tentang masa lalu Finch dan adanya mesin kedua: Samaritan. The Machine Gang, Finch dan Shaw, berusaha menyelamatkan Artur (teman Finch di MIT) dan memintanya menghancurkan drive-nya. Namun, ternyata drive tempat nyimpen Samaritan itu udah dicuri duluan dan akhirnya berpindah ke tangan Greer (John Nolan), si dedengkot Decima.

Sementara itu, Reese minta resign sama Finch dan akhirnya pergi ke Colorado. Namun, Fusco ngikutin dia. Mereka berdua lucu dan unyu. Sempet berantem dan dimasukin ke sel. Akhirnya, Fusco dapet telepon dari The Machine Gang dan tahun kalau Finch pasti lagi dapat masalah. Reese pun mau pulang dan bantu.

Sehabis itu dia pergi lagi. Sayangnya, The Machine nggak gitu aja bikin Reese lepas tanggung jawab. Dengan mengacaukan penerbangan Reese dan nempatin Reese di penerbangan yang nggak seharusnya. Iya, The Machine, bukan Finch lagi. Akhirnya, Finch dan Reese ketemuan di Itali. Mereka baikan lagi deh. Haha.

Storyline pun langsung berpindah ke arc The Machine. Dari Vigilance yang terus-terusan meneror. Decima yang dengan sergap ngedeketin pemerintah, via congressman dan senator. Dengan petunjuk dari Root, The Machine Gang berusaha menghalangi aktifnya Samaritan.

Root pergi dari perpustakaan dan sempat ditangkap oleh Control. Disiksa sampai dirusak telingannya. Tapi dengan luar biasa bisa kabur lagi. Dia meyakinkan Finch untuk kerjasama dan Finch akhirnya mau.

Puncak dari storyline The Machine ada di episode 20-23. Berasa nonton film hampir tiga jam gitu. Tapi memang keren banget! Dimulai dari episode 20 yang terasa prosedural standar, berubah jadi tragedi. Karena itu jadi awal semuanya. 15 menit terakhir dari episode 20 bener-bener luar biasa. Adegan Reese, Shaw, dan Finch itu bikin lengket di kursi karena shock. Kemudian, diakhiri dengan lagu Medicine-nya Daughter yang ngiringin adegan dalam slow motion. Episode ini berakhir dengan diaktifkannya Samaritan versi beta.

Maunya sih gue ngebahas sendiri empat episode ini dalam post khusus, karena banyak banget yang terjadi. Twist yang nggak terduga. Misi rahasia Root. Pelarian Root, Shaw, dan Reese. Finch yang menghilang. Adegan di jembatan antara Grace dan Finch yang bikin patah hati banget. Adegan pengadilan di akhir. Vigilance dan Decima. Hersh dan ledakan di perpustakaan. Lagi-lagi di akhir, twist yang bikin pengin jongkok saking nggak terduganya.

Dan lima belas menit terakhir yang amat luar biasa di episode 23 ‘Deus Ex Machina’. Bikin sedih banget. Terlebih diiringi lagu Exit Music (for Film) dari Radiohead. Gimana The Machine Gang harus berpisah. Perpustakaan yang harus ditinggalin. Reese yang ketakutan. Finch dan Bear yang pisah dari yang lain. Pandangan Shaw ketika pisah sama Root. Tentunya, speech dari Root di bagian akhir itu. Ditutup dengan Greer di depan Samaritan: menanyakan apa perintah dari Samaritan untuk mereka. Saat Samaritan melakukan ‘calculating response’, layar menggelap dan season tiga berakhir.

person of interest samaritan

tampilan Samaritan. didominasi warna putih. lebih kerasa moderen gitu sih dibanding the machine.

Dari situ, gue tahu sebelum season empat dimulai mungkin gue udah akan ngulang season tiga lagi. Seluruh episode.

Dulu di awal, gue betah nonton karena ada Reese (Jim Caviezel) yang cakep dan hot banget. Haha. Namun, semakin ke sini, terlebih di season tiga, Reese sendiri nggak akan menarik tanpa sisa The Machine Gang! Dinamika kelompok baru ini: Reese, Finch, Shaw, Fusco dan Root seru banget. Reese dan Shaw lucu banget kalau lagi barengan. Nggak bisa akur sama sekali. Tapi, di akhir, di episode 20, gue suka banget lihat gimana Reese mapah Shaw. Shaw dan Root yang terus-terusan flirting. Dan Fusco yang selalu punya panggilan istimewa buat Reese dan Root! Haha.

The Machine Gang masih kok ngerjain misi-misi biasa. Meski banyak di antaranya yang terkait sama plot utamanya. Di episode satu dan dua pun ngerjain misi standar kayak gitu. Sekarang kan jadi bertiga, Finch, Reese, dan Shaw. Jadi, makin berat sih musuh-musuhnya. Meski di awal kok kayak ngapain sih pakai tiga orang, tapi ternyata di belakang kehadiran Shaw memang dibutuhkan banget!

Semua dapat momen istimewa di season tiga. Meski yang paling mencuri kehadiran adalah Root (Amy Acker). Aktingnya luar biasa. Nggilani deh. Psikotik. Tapi keren! Begitu juga Michael Emerson yang bener-bener bikin simpatik dan penonton sayang sama dia. Meski ada di episode 21 ‘Beta’ ketika Finch akhirnya ngomong: ‘…kill them all.’. Itu heartbreaking banget.😦 Nggak lupa Shaw (Sarah Shahi) yang keren abis. Development characternya dapet banget, kelihatan banget, terutama di episode 20. Dan Reese yang gue kira udah kembali ke ‘boy scout’ ternyata masih nyimpen sisi ‘the killer’ dan paranoid-nya baik-baik. Ya, tapi itu karena insiden yang menimpa Carter juga sih. Begitu pula Fusco (Kevin Chapman), dan Carter (Henson Taraji) yang luar biasa banget! Pokoknya karakter cewek yang keren dan hebat banget!

Bahkan karakter-karakter minor juga dapet momen keren! Sebutlah Elias. Keren banget deh di akhir episode 10. Juga, Control yang berhasil merebut simpati gue pas adegan di pengadilan. Keren abis! Gimana dia bikin Collier jadi diem dengan argumennya itu jago. Begitu pula, Peter Collier yang juga merebut perhatian di episode 23. Jangan lupa Greer yang luar biasa! Kelihatannya sih cuma kayak kakek tua aja. Tapi, kakek tua yang ngerti gimana caranya manfaatin kekuasaannya. Kakek tua yang gila! Meski gitu Greer dengan motifnya sama sekali nggak bikin karakter tersebut jadi nggak realistis, justru dia dan Samaritan ngeliatin sisi lain dari The Machine Gang. Jangan lewatin adegan dia dan Collier di atap di ending episode 23: bikin nganga. Haha. Yang gue sayangkan, Zoe kenapa cuma dapet jatah satu episode dan perannya nggak terlalu penting sih. Cuma adegan Zoe-Shaw-Carter di episode 3 ‘Lady Killer’ itu seru banget. Kebayangkan kalau ditambahin Root, bisa jadi sekumpulan cewek-cewek yang cantik dan… mengerikan.😀

Begitu pula Bear yang dapet banyak momen! Paling inget sih di episode 23. Pokoknya seru-seru deh. Semoga Bear baik-baik aja ya. Gue harap, di season 4 bakal lebih banyak Bear. Juga Zoe dan Elias dikasih lebih banyak screentime. Mereka ini kan yang bisa nolong The Machine Gang.😦

Dari season tiga ini yang agak menganggu gue mungkin romansa antara Carter dan Reese. Di season satu, Reese masih kebawa banget sama kenangan tentang pacarnya. Lho apalagi yang bikin dia marah banget di bagian akhir season satu? Kemudian di season dua, dia deket sama Zoe. Sempet banyak momen seru banget. Di season tiga, dari awal hmm Reese begitu perhatian sama Carter. Pokoknya, setiap ketemu Carter dia nawarin bantuan. Ada saat ketika Reese dan Shaw ngomongin tentang itu. Gue cuma ngerasa ngeganjel aja. Padahal, kalau berdasarkan karakter Reese yang loyal itu, Carter meninggal sebagai sahabatnya aja pasti tetep jadi pukulan berat. Apalagi kalau mati di depan dia sendiri kan? Reese sayang sama anaknya Carter, Reese nganggep Carter salah satu orang yang deket banget sama dia. Gue yakin, tanpa harus jatuh cinta, Reese bakal balasin dendam Carter kok. Dan gue juga nggak terlalu yakin Carter punya perasaan sama. Salah satu alasan Carter balas dendam sama HR adalah karena kematian Cal Bleecher. Ya, tapi memang dasarnya gue Team Zoe sih. Haha.

Cuma tetep aja pas di bagian akhir episode 23, lihat pas perpustakaan diobrak-abrik dan foto Carter jatuh ke lantai, rasanya nyess banget. Sedih. Gimanapun juga, Carter tetep bagian dari The Machine Gang. Selamanya. Rest in peace, Carter. Rest in peace, the library.

Sementara itu, episode yang menurut gue istimewa adalah episode 12 ‘Aletheia’. Itu juga luar biasa! Ada bagian ketika Root ditawan oleh Control dan di depannya ada ponsel yang nggak nyala. Ketika Control ngomong sama Root, si ponsel itu bunyi ‘tik tik tik…’ dengan frekuensi rendah. Yup, gue denger sih, tapi ternyata banyak juga yang nggak denger suara itu. Dan bunyi itu beneran kode morse dari The Machine. The Machine ngirim pesan buat kita semua!

Juga episode 16 ‘RAM’ yang hampir seluruhnya berisi flashback dari tahun 2010, ketika Finch belum bekerja bersama Reese. Adalah Dillinger yang jadi partner Finch waktu itu. Nomor yang keluar dari The Machine waktu itu adalah milik Daniel Casey, anak muda yang diminta pemerintah untuk menyusup ke The Machine. Intinya si bocah ini tahu The Machine deh. Nah, bukan cuma Dillinger yang ngikutin Casey, juga ada dua anggota CIA, yang ternyata adalah Cara Stanton dan John Reese dong. Akhirnya sih, Dillinger bisa dapet Casey dan bawa dia ke Finch. Finch pun kaget dong tahu kalau tuh bocah tahun The Machine. Namun, karena Finch dan Dillinger ini berselisih, malah akhirnya si Dillinger ini ambil laptop punya Casey dan dijual ke black market. Sementara Casey lari. Ya Casey ketangkep dong sama Stanton dan Reese. Finch juga berhasil ngelacak Casey, dari jauh dia lihat Casey di depan Reese. Tapi, ternyata… Reese nggak nembak Casey dong, cuma minta gigi aja sebagai bukti.

Laptop itu, laptop yang diburu Reese dan Stanton sampai ke Ordos, Cina (inget, kan? Season dua). Casey pada akhirnya ditemuin Root sih dan disuruh gabung dengan dua bocah lain yang jadi tiga dari tujuh yang disembunyikan dari Samaritan. Episode 16 ini memang salah satu yang paling keren. Ternyata, mereka semua jalannya udah berpapasan dari dulu. Termasuk Shaw, iya dia.

Hore buat semua writer season tiga! Luar biasa! Dialog-dialog yang keren. Twist-twist yang cakep abis. Adegan-adegan yang bikin gue nggak bisa berhenti nonton. Jonah cuma nulis satu episode sih di season ini, tapi nggak apa-apa, karena yang lain juga keren!

Dalam salah satu interview, Jonah bilang kalau konsep yang mereka punya ada untuk lebih dari lima season. Berapapun, gue ikut deh, asalkan konsisten sama konsep yang udah dipunya. Mau tetep jadinya plot besar kayak season tiga gini juga, nggak apa-apa.

Gue mau bilang: kalau mau nonton season tiga ini, hendaklah nonton dari awal season, atau kalau sempat dari season satu. Karena ceritanya memang masih nyambung dari awal. Di season tiga ini, ada episode-episode yang nggak bisa ditonton tanpa nonton yang sebelumnya.

Season empat, gue rasa akan jadi awal mula duel Samaritan vs The Machine. Apalagi dengan The Machine Gang yang tercerai berai, yang harus hidup kayak manusia biasa dengan identitas baru. Tentunya bikin gue penasaran banget bakal gimana jadinya.

Ah, September masih lama!

poi s3

——

“The Machine and I couldn’t save the world. We had to settle for protecting the seven people who might be able to take it back, so we gave Samaritan a blind spot: seven key servers, that hard-codes it to ignore seven carefully crafted new identities. When the whole world is watched, filed, indexed, numbered, the only way to disappear is to appear, hiding our true identities inside a seemingly ordinary life. You’re not a free man anymore, Harold. You’re just a number. We have to become these people now, and if we don’t, they’ll find us, and they’ll kill us. I’m sorry, Harold. I know it’s not enough. A lot of people are gonna die, people who might’ve been able to help. Everything is changing. I don’t know if it’ll get better, but it’s going to get worse. But the Machine asked me to tell you something before we part. You once told John the whole point of Pandora’s Box is that once you’ve opened it, you can’t close it again. She wanted me to remind you of how this story ends. When everything is over, when the worst has happened, there’s still one thing left in Pandora’s Box: hope.” (Root, ending voice-over)

——

Review season 1

Review season 2

Person of Interest: Playlist

4 thoughts on “Person of Interest Season 3

  1. Season 3 seru karena ada Shaw dan Root. Yg paling gk masuk akal tuh Vigilince. Dapet duit darimana buat jalanin operasinya? Selain itu intel (informasi) dia dapat darimana? Bisa berada di tempat dan waktu yang selalu tepat. FBI, CIA, Control dll gk bisa hentiin dia.

    Katanya organisasi privasi, tapi intel (informasi) yg mereka peroleh untuk menyergap musuh2nya, kan, juga didapat dari penyadapan juga🙂

    Trus, si John Geer (Decima) bisa dengan mudah diculik Vigilince. Ya, ampun! mana Zachary dan anak buahnya? hm…

    • Vigilance dapat dana/informasi dari Greer/Decima tanpa mereka tahu. Kan jelas diungkap semua di episode akhir kalau Vigilance ‘hanya’ alat yang dibuat oleh Decima/Greer. Plus penculikan itu juga udah diantisipasi oleh Greer.

  2. Haha… komentar aku di atas, pas aku belum nonton episode terakhirnya🙂 Baru aja selesai.

    Nah, tetap jadi pertanyaan, si Vigilance sama sekali gak berusaha mencari tahu darimana si pemberi informasi mendapatkan informasi? Tentunya, sebagai asumsi awal, si Vigilance seharusnya tahu kalau si pemberi informasi juga melanggar privasi untuk mendapatkan informasinya. Ya, udah, apa boleh buat…. film ini bagiku memang tipe film lepas (yang boleh kelewatan satu-dua episode) dan memang gak digarap serius agar UTUH seperti Breaking Bad atau Better Call Saul.

    Kamu udah nonton “The 100” atau “Crisis”? Nah, dua film itu bisa disejajarkan dengan Breaking Bad, walaupun logikanya masih ada yg blunder.

    Btw, kalau mau ngomong soal blunder di film ini (season 3), aku mengacu saat si Reese tiba-tiba punya perasaan pada Carter. Ya, ampun! nggak ada angin-hujan, tiba-tiba kayak gitu (coba bandingin dengan kalau si Root tiba-tiba punya perasaan pada si Finch! Nah, itu lebih masuk akal, karena clue-clue ke arah sana sudah diberikan pada episode2 sebelumnya). Hubungan Reese-Carter itu ternyata punya satu tujuan: untuk membunuh karakter tersebut🙂

    Oh ya, sampai akhir season 3, aku baru sadar ternyata itu si Geer nama aslinya John Nolan, ya! Cari di google, ternyata pamannya si brother Nolan, hehe… (Ditambah pernah main di Following jadi polisi di scene terakhir ya)

    Ah, kepanjangan… nanti malam download season 4. Sekarang nonton film satuan dulu. Emang season 5 tamat ya?

    • Belum ada konfirmasi resmi apakah season lima jadi yang terakhir atau tidak. Cuma banyak yang memprediksi itu terakhir karena CBS hanya mengorder 13 episode dari biasanya 23 episode.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s