buku

Galveston

galveston

Sebelum Nic Pizzolatto yang namanya meroket karena True Detective, dia pernah merilis sebuah novel berjudul Galveston tahun 2010. Kesuksesan True Detective bikin novel ini jadi laris manis gitu, gue sampai tiga kali keabisan pesan di sebuah toko buku impor, dan setelah beberapa bulan akhirnya dapat juga. Gue berencana menamatkan novel ini selama seminggu, nyatanya dalam tiga hari gue selesai melahapnya.

Pertama-tama, Galveston adalah roman-noir, jadi jangan berharap ada happy ending. Naratifnya mengikuti perjalanan Roy Cady, seorang hit-man, yang divonis kanker paru-paru di umurnya yang ke-40. Masalah nggak berhenti sampai di situ, karena ia merasa bosnya ngejebak dia yang akhirnya bikin dia kabur dari New Orleans, Lousiana, menuju Texas. Dia bertemu dengan Rocky, gadis sewaan yang berumur 18 tahun, dan terpaksa dia ajak karena ngeliat apa yang Roy lakukan terhadap anak buah bosnya. Pelarian itulah yang jadi inti dari cerita ini.

Dalam tuturannya, naratif Galveston berjalan non-linear. Mengikuti dua timeline, yaitu saat pelarian Roy dan Rocky, serta pasca Roy berpisah dengan Rocky. Momen-momennya berganti satu sama lain. Kalau biasa dengan cerita non-linear, sama sekali nggak akan sulit ngikutin cerita ini.

Roy Cady ini karakter yang pahit dan kelam. Nggak tahu apa yang mau dibilang lagi tentang dia. Terlebih karena ceritanya dikisahkan lewat sudut pandang pertama Roy, kerasa banget betapa paranoid, betapa pesimis, dan nggak bahagia. Gue rasa inilah perasaan yang bakal kamu rasain pas baca novel ini. Karakter Rocky dan Tiffany yang masih 3.5 tahun memberi nuansa dalam hidup Roy. Seenggaknya, kayak bisa ngelihat sisi lain Roy yang bertanggung jawab, yang akhirnya luluh dengan bisa nerima kehadiran Rocky dan Tiffany. Hubungan mereka sama sekali bukan asmara, tapi rasa senasib sepenanggungan ya. Rasa bebas yang masih menggantung setelah lari dari sesuatu yang buruk.

Gue suka banget cara nulis Nic banyak metafora di dalamnya. Indah dan lembut, tapi sisi maskulinnya tetap terasa dominan. Kerasa romantis gitu sih, tapi sama sekali nggak manis.

nic pizzolatto

Nic Pizzolatto (photo by latimes)

Di banyak sisi, novel ini ngingetin banget dengan True Detective. Selain karena cara Nic bikin deskripsi yang bikin gue ‘oh sungguh beruntung Nic ketemu dengan Cary Fukunaga yang bisa menerjemahkan indahnya prosa Nic ke medium sinematik yang nggak kehilangan maknanya dan sama memukau!’, juga detail-detail kayak rokok Camel, bir Lone Star, sampai orang-orangan kaleng pun ada. Begitu pula settingnya yang nggak asing, dari Beaumont, Angola, Pelican Island, dan tentunya Galveston. Bahkan, Roy Cady ini kerasa punya jiwa Rustin Cohle di dalamnya. Cara berpikir dan mendeskripsikan sesuatu itu lho… bikin inget banget.

Galveston ini akan difilmkan. Lupa sih siapa yang bakal garap, tapi gue harap dapat orang sekaliber Cary Fukunaga dan DP sejago Adam Arkapaw untuk ngegarap Galveston versi film.

Novel ini gue rekomendasiin banget buat yang jatuh cinta sama tulisan Nic Pizzolatto di True Detective. Begitu juga yang kangen dengan Rustin Cohle.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s