buku

The Terminal Man

20140610_070312

Ketika mau mulai baca buku ini gue sempet mikir, ‘Michael Crichton nggak pernah nulis tentang artificial intelligence ya?’. Diingat-ingat dari belasan buku beliau yang gue baca belum ada yang membahas hal tersebut. Eh, nggak disangka-sangka The Terminal Man yang terbit tahun 1972 ini mengangkat topik tersebut.

Baca setelah beberapa dekade, memang teknologi yang dibahas dalam novel ini kerasa kuno dan ketinggalan sih. Perkembangan dunia komputer kan memang cepet banget. Meskipun begitu, ketegangan dalam novel ini nggak berkurang sama sekali karena hal itu.

Bercerita tentang Harry Benson yang mengalami gangguan otak berupa blackout. Semacam hilang kesadaran, tapi tetap terjaga. Selama nggak inget apa-apa itu, dia berlaku kejam dan sadis ke orang-orang. Nah, oleh beberapa pakar neurologi di sebuah pusat penelitian, mereka mau mencoba untuk menghilangan gangguan tersebut dengan memasang sebuah chip (semacam pacemaker untuk jantung tapi ini untuk otak) di kepala Benson.

Chip itu berupa komputer superkecil yang energinya dari baterai nuklir gitu. Jadi, chip itu bakal memantau gangguan si Benson dan pada saat itu, kesadaran si Benson bakal diambil alih oleh komputer. Operasinya berjalan sukses, tapi hasilnya nggak sesukses itu. Perilaku Benson malah makin liar dan mulai meneror orang-orang.

Di balik thriller-nya, ada hal yang jelas banget, kalau sejak beberapa dekade lalu udah ada orang-orang yang paranoid kepada komputer. Di dalam buku ini, dijelaskan bahwa komputer itu sesuatu yang beda dengan teknologi mesin lainnya. Komputer yang diberi perintah bisa berkembang sendiri, belajar dari pengalaman, untuk akhirnya mengerjakan apa-apanya sendiri. Benson ini ngerasa dirinya mesin setelah diimplan dengan chip. Dia berusaha untuk ngelepas benda tersebut dari tubuhnya tapi nggak bisa.

Selain itu, juga salah satu karakter utamanya Janet Ross, seorang psikolog perempuan. Sedikit banyak dari sudut pandang Ross ini kerasa banget ketika tahun segitu posisi perempuan itu masih terpinggirkan banget ya. Dia sering ngerasa teman-teman kerjanya itu kayak pura-pura sopan ke dia, semacam nggak nerima apa adanya. Tapi, karakter Ross ini keras dan keren. Nggak menyerah meski ada di situasi kayak gitu.

Pada akhirnya, novel ini menekankan mesin tetap mesin sih. Mesin dibuat oleh manusia untuk meringankan tugas-tugas manusia. Manusia membuat mesin karena merasa mereka nggak sempurna dan butuh sesuatu yang mudah mengorganisir semuanya. Diceritakan juga beberapa beda mesin dan manusia, komputer bisa baca deretan angka, sementara manusia nggak dan lebih suka hasil dalam bentuk grafik. Jadi, intinya adalah pada programnya. Manusia juga gitu kalau dari awal di program dengan bagus oleh lingkunga, jadinya akan bagus. Jadi, apa bedanya kita sama komputer? Jangan-jangan kesadaran yang kita punya ini cuma proyeksi holographic aja. Haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s