buku

Lola and The Boy Next Door

2014-06-14 08.20.41

Hal yang gue sebelin dari cerita young adult adalah ketika segalanya berjalan begitu smooth. Dari cowok ini ke cowok itu. Ada Prince Charming di sini dan di sini. Karena hidup nggak begitu. Akan tetapi, itu juga yang gue suka dari YA. Karena boleh bersikap impulsif. Karena hidup seseru-serunya tanpa mikirin ini itu.

Di Lola and The Boy Next Door ini gue nemu dua-duanya. Ini kali kedua gue baca karyanya Stephanie Perkins, yang pertama tentu aja Anna and The French Kiss. Itu juga karena diimingin-imingin terus sama salah satu teman yang demen banget sama Etienne St. Clair, salah satu karakter di AaTFK.

St. Clair dan Anna masih muncul di novel ini. Kekhasan dari Stephanie Perkins. Nanti, di buku selanjutnya, Isla, juga bakal muncul karakter dari novel sebelumnya. St. Clair jadi teman Cricket Bell, si science geek dan the boy next door-nya Lola Nolan.

Hidup Lola Nolan menyenangkan bareng pacarnya Max, sahabatnya Lindsey, dan kedua orang tuanya yang gay–Nathan dan Andy. Semua berubah ketika Cricket, tetangganya kembali lagi ke San Fransisco. Selama ini keluarga Bell (yang masih keterunan Alexander Graham Bell) tinggal berpindah-pindah, ngikutin jadwalnya Calliope, kembaran Cricket yang seorang skater.

Lola didera nestapa dan dilema. Gara-gara itu juga dia berbuat yang bikin kedua ayahnya kehilangan kepercayaan sama dia. Dia ngerasa nggak pantas buat Cricket. Rencananya dateng ke pesta dansa Winter Formal dengan gaun Marie Antoinette akhirnya dibatalkan.

Tapi, kamu tahulah bagaimana sebuah cerita romance YA berakhir. Nggak perlu gue beberkan di sini ya. Ehehehe.

Di novel kali ini, bukan hubungan Lola – Cricket yang gue demenin. Segimanapun manisnya Cricket, gue nggak naksir karena gaya berpakaiannya. Dia juga kurang geek sih menurut gue. Justu yang bikin penasaran adalah Lola dan keluarganya. Latar belakang Lola ini seru banget. Gimana hidupnya sama dua ayah. Ibu kandungnya yang jadi gelandangan dan selalu bermasalah. Dan karakter Lola sendiri yang nyentrik! Suka banget keberaniannya bereksperimen dengan fashion. Gonta-ganti wig setiap hari. Nggak mau pakai baju yang sama. Juga persahabatannya dengan Lindsey, yang mereka berdua jadi satu sama lain ketika hallowen. Suka!

Yang bikin buku ini juga enak dibaca adalah gaya nulis Stephanie Perkins. Ringan dan ngalir banget. Pokoknya nggak kerasa tahu-tahun udah sampai di tengah. Juga keren banget ketika bawa-bawa latar belakang Alexander Graham Bell, cerita-cerita sedikit sejarah beliau (yang ntah benar atau nggak). Tapi itu keren.

Setelah ini bakal terbit Isla and Happily  Ever After, kayaknya sih dalam waktu dekat ini deh. Soalnya sempat dimundurin jadwalnya. Meski cerita-cerita SP terlalu manis buat gue, tetap bakal baca buku selanjutnya sih karena gaya nulisnya emang enak banget!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s