film

Sin Nombre

sin_nombre_xlg

Sin Nombre (2009) adalah karya debut dari sutradara Cary Joji Fukunaga, yang belakangan namanya meroket setelah menyutradarai True Detective. Nggak akan lupa sama 6-minutes-tracking scene yang dibuat beliau deh buat True Detective. Kelihaian Cary Fukunaga dalam directing dan writing udah kelihatan dari Sin Nombre ini.

Sekilas, di awal Sin Nombre yang berbahasa Spanyol ini bakal ngingetin kamu sama City of God. Memang ceritanya berputar pada seorang anggota geng MS di Meksiko. Namanya Casper, pemuda yang jadi anggota geng tersebut. Dia punya pacar namanya Martha. Inilah awal mula masalah dia dengan geng. Martha nggak sengaja dateng ke pertemuan geng Casper alias Willie. Dan sesuatu yang nggak diharapkan terjadi.

Pada act 1, ceritanya dibagi jadi dua timeline. Satu punya Casper, satunya ngikutin Sayra yang tinggal di Guatemala dan diajak untuk pindah ke New Jersey, US (dengan ilegal pastinya). Di perbatasan US kan memang bukan hal asing lagi orang-orang dari Amerika Tengah yang berusaha mengadu nasib ke US. Dari Guatemala, Sayra jalan kaki bersama paman dan ayahnya hingga ke perbatasan Meksiko. Kemudian, dari Meksiko mereka harus numpang kereta, tentunya secara ilegal juga bersama ratusan orang lainnya.

Ngeliat film ini jadi ngerasa bersyukur banget, meski tinggal di negeri yang amburadul, seenggaknya nggak sesengsara Sayra. Nah, di kereta inilah, takdir Sayra dan Casper bersinggungan. Kayak cerita roman ya? Haha… tapi nggak sama sekali kok. Kisah ini adalah tragedi. Nggak ada cita-cita yang bisa didapatkan tanpa pengorbanan, kan? Casper dan Sayra harus mengorbankan banyak hal.

Perjalanan yang dilakukan Sayra sama sekali nggak mudah. Dari hampir diperkosa, dikejar-kejar geng yang ngeburu Casper, sampai diselundupkan di bawah pisang. Sayra ini loyal banget sama Casper yang udah nolong dia. Ada adegan ketika gue ngerasa Sayra impulsif banget, tapi ya akhirnya gue malah senang Sayra ngambil keputusan itu.

Dari sudut pandang Sayra, kita dibawa untuk ngikutin perjalanan pada imgran gelap. Benar-benar nggak mudah deh. Kedinginan di atap kereta, dilemparin batu, meski ada juga yang ngelemparin makanan. Perjalanan itu kayak taruhannya nyawa, demi kehidupan yang lebih baik. Kebanyakan yang pergi laki-laki. Adegan perampokan di atas kereta yang terjadi benar-benar miris deh.

Selain kehidupan bertaruh nyawa para imigran, yang diangkat juga kehidupan anggota geng MS. Kalau nggak salah geng ini cukup terkenal deh, gue pernah baca tentang itu. Mereka punya kekhasan ’13 detik’. Misalnya, ’13 detik’ untuk mukulin orang yang menurut mereka salah. Ya, sisanya kejamnya geng-geng gitulah.

Gue kagum dengan film ini. Suka dengan adegan-adegan yang diambil, dapet banget nangkep kesengsaraan dan kerasnya kenyataan yang dihadapi para imigran. Cary Fukunaga memang paling top kalau ngambil wideshot. Tapi, adegan-adegan yang personal pun nggak kalah menyentuh. Juga storytelling-nya yang kerasa pas.

Sin Nombre ini film yang harus ditonton sekali seumur hidup. Selain karena kepiawaian Cary Fukunaga, juga karena cerita yang dibawakan film ini–menyentuh, yang tragis, yang manis, yang pahit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s