Serial

Game of Thrones 4.10: The Children

game-thrones the children

Rekap episode 10 dan uneg-uneg dari keseluruhan review season 4.

Kamu pikir kematian Ygritte, Oberyn, Lysa Arryn, dan Joffrey… cukup menyakitkan? Di episode ini lebih banyak kematian. Banyak.

Dimulai dari Jon Snow yang sedang berduka menuju kamp Wildlings untuk menawarkan perdamaian kepada Mance Ryder. Di tengah-tengah diskusi mereka, datanglah Stannis dan pasukannya. Ser Davos dan si penyihir bitchy Melisandre. Jon dan Melisandre sempat bertatapan dan gue pun teringat pertanyaan yang gue layangkan setahun lalu kepada anak-anak Westeros Indonesia. Azor Ahai dan Lightbringer. Hehe.

Diteruskan kepada Bran dan kawan-kawan yang dengan susah payah akhirnya sampai juga ke goa Three Eyed Raven. Di sana mereka ketemu Bloodraven. Namun sebelum sampai di sana mereka sempat dikejar-kejar zombie. Eh tunggu ini bukan The Walking Dead, maksudnya bagian dari The White Walker. Oke kemudian Jojen mati dengan heroik meski mengenaskan. Entah kenapa Jojen dibunuh di sini, di buku dia belum mati sampai masuk gue, nggak pula dikejar-kejar zombie. Mungkin karena perjalanan mereka bakal repot dengan Jojen. NGOMONG-NGOMONG DI MANA COLDHANDS?

Di Meeren, setelah Daenerys ditimpa kemalangan dengan mengetahun kalau Ser ‘Frienzoned’ Jorah adalah mata-mata, kali ini dia dirundung kesedihan dan bimbang. Seorang tua datang kepadanya, meminta untuk dipekerjakan kembali. Bagi Dany itu melukai usahanya membebaskan para budak, namun si bapak tua dengan memelas dan memberi alasan yang amat sangat rasional. Gue suka part ini. Ketika, gue jadi ikutan mikir apa sebenarnya arti ‘kebebasan’. Sebab ternyata tolak ukur ‘kebebasan’ itu beda toh setiap orang?

Dengan berat hati, Dany bilang: ‘Kebebasan adalah ketika kamu menentukan pilihanmu sendiri’ dan dia memberi restu. Tentunya, itu mungkin jadi cikal bakal masalah di masa depan. Dan… hmm satu lagi yang mematahkan hati Dany, ketika seorang tua membawa bungkusan yang ketika dibuka berisi kerangka anak perempuannya. Membuat Dany akhirnya mengurung kedua anaknya di bawah tanah, sementara itu Drogon masih main entah di mana. Adegan ini sedih betul. Ketika Dany ngalungin rantai ke leher Rhaegal dan Viserion, bikin pengin meluk Mamak Dragon. Saat Dany jalan keluar dari katakomb, mereka berdua jejeritan. Oh…

Di King’s Landing, Ratu Drama Cersei beraksi. Entah kenapa dia di sini jadi sinetron banget. Ngancem ngebocorin hubungannya sama Jaime ke publik kalau tetep dipaksa nikah sama Loras. Ini bagian yang menurut gue nggak Cersei banget–out of character. Sampai akhir, ketika nanti dia mendapatkan hukumannya, Cersei paling susah disuruh ngakuin hubungannya sama Jaime. Dia sayang banget sama anak-anaknya, dia juga cinta kekuasaan. Cersei itu punya 1001 cara untuk melenyapkan orang. Bilang dia sama Jaime, dia benci sama Tywin kenapa nggak dibunuh apa sih? Ya sih, Jaime bakal ngehalangin, tapi sebagai Queen Regent, Cersei masih tetep punya kekuasaan lebih besar daripada Jaime.

Jaime juga akhirnya bantu Tyrion keluar dari penjara. Bagian ini, gue saranin banget untuk baca dari bukunya. Di sini kerasa singkat banget. Di novelnya, lebih banyak detail sampai akhirnya Tyrion ngebunuh Shae dan Tywin. DAN TENTUNYA TYRION NGGAK BUNUH TYWIN GARA-GARA SHAE. Ih jengkel banget gue. Alasan Tyrion lebih noble daripada pelacur itu. Alasan Tyrion adalah Tysha, istrinya yang pertama. Gue senang banget malah Shae mati di sini, jijik banget gue sejak episode enam. Begh.

Akhirnya, Tyrion berlayar. Si Varys juga ikutan berlayar.

Di akhir, si Arya juga berlayar ke Bravoos, dengan diiringi musik latar dari Game of Thrones yang diaransemen keren banget.

Sebelumnya, tentunya Arya ninggalin The Hound yang sekarat. Yang sekarat *uhuk* karena berantem sama *uhuk* Brienne. Pertarungan yang keren. Tetapi gue nggak ngerti essensinya apa. Vitamin mata? Pelega dahaga pertarungan kerena nan berdarah yang cuma didapet sekali ketika Oberyn vs Mountain? Atau mungkin tujuan Brienne dan POD dipertemukan dengan Arya sebagai bukti bargain ketika nanati Brienne dan Pod ditangkap Brotherhood without Banner dan dihadapkan ke LADY STONEHEART?!

Beliau juga nggak dimunculkan di sini, sodarah-sodarah! Padahal di akhir buku tiga, itu bikin jreeeeeeeeeng… jreeeeeeeeng… gitu pas baca dan pengin langsung baca AFFC. Banyak yang kecewa gara-gara itu, kalau gue pribadi nggak masalah sih, karena memang ceritanya udah padat banget. Udah terlalu banyak kejutan kematian. Lagi pula, kalau buat yang belum baca buku nggak ada malah lebih bagus. Karena kalau ada… pasti akan pada bilang: ‘what the fuck?!’

Gue banyak komplain ya sejak awal. Gue tahu kok mengadaptasi buku 1000 halaman jadi sepuluh episode yang masing-masing sekitar satu jam aja bukan pekerjaan mudah. Malah sulit banget, dan untuk season ini, D & D pasti udah melakukan usaha terbaik mereka. Meski banyak yang kesal, namun mereka sebagai orang yang lebih ngerti lingkungan televisi dan sisa season lainnya, pasti udah menimbang ini dan itu.

Banyak banget perubahan dari buku di season ini. Harapan bahwa season ini bakal sefantastis bukunya, karena setengah ASOS itu luar biasa banget, ternyata nggak mencapai itu (buat gue). Ketika gue diskusi sama temen gue yang juga baca buku karena tiga season awal, gue baru ngeh alasan gue nggak nyaman dengan season ini adalah karena semua terasa begitu singkat, terasa begitu buru-buru, terlalu banyak storyline… jadi, event-event yang berlalu terasa begitu aja. Kayak di episode dua, Purple Wedding jadi kerasa berlalu begitu aja ya, ketimpa dengan kematian Oberyn, kematian Tywin.

Ketika baca buku, gue ngerasain banget deg-degannya. Ngambil jeda berenti setiap kali ada yang bikin kaget. Baca dari kata per kata. Boleh dibilang ketika baca buku gue invest waktu lebih banyak untuk tiap karakter. Gue ikut bimbang dan dilema. Gue ngerasain bener-bener apa yang ada di pikiran mereka. Meski tentu aja, misterinya sama sekali nggak berkurang.

Hal lain yang bikin gue jengkel banget adalah tentang siapa pelaku di balik kematian Jon Arryn yang dibocorin kayak keran bocor di serialnya. Gila. Baca buku sampai kelima dan itu nggak pernah ketemu. Ini bikin gue kesel banget. Haha. Siapa yang nggak sebel kena spoiler dari serialnya?

Ketika keliling-keliling baca komentar tentang season 4, gue baca pendapat tentang seseorang yang sedih karena para penonton nggak tahu apa yang dihilangkan dari buku. Itu… gue juga ngerasain hal yang sama. ASOIAF adalah kisah yang luar biasa, yang begitu detail, dan hidup bersama karakter-karakternya. Di season 4 ini, gue sadar, semegah apapun serial-serialnya, nggak akan menggantikan buku-bukunya di hati gue. Kiblat gue tetep ke buku, dan serial cuma pelengkap aja. Jadi, gue harap season depan nggak akan ada spoiler kayak gitu lagi.

Sekali lagi, gue sadar banget, adaptasi televisi nggak akan bisa merangkum semua yang ada di buku. Itulah kenapa banyak yang dipotong, harus disesuaikan, harus dipadatkan, terpaksa dimatikan… gue ngerti banget. Season ini masih luar biasa seperti yang sudah-sudah. Grand scale untuk ukuran televisi dan belum bisa ada yang ngalahin. Tegangnya, dramanya, kejamnya, dan naga… semua dapet di episode ini. Politik, keluarga, cinta, rasanya kayak dapet paket lengkap ya.

Beberapa episode benar-benar keren, 2, 8, 9, 10, dan 6. Dengan setting yang cakep abis, terutama gue suka bagian Arya. Cast yang juga aktingnya keren-keren. Di season ini, Tyrion nggak banyak, tapi Joffrey, Jon Snow, Arya, Oberyn… itu yang outstanding. Nggak lupa penampilan Tyrion ketika dia diadili (asal drama sama Shae dibuang), itu juga keren banget.

Ada storyline yang dibuku garing jadi menarik di sini, kayak punya Dany, Sansa (Alayne) dan Arya. Storyline di King’s Landing yang harusnya superdrama, karena berebutan waktu dengan yang lain rasanya jadi kurang gereget, kecuali pas Purple Wedding dan Viper vs Mountain. Kematian Tywin, terlalu cepat dan nggak kerasa dramatis, sinematografinya biasa aja gitu, malah gelap dan entahlah…. Punya Bran tetep aja garing. Haha.

Dinamika Littlefinger dan Alayne, apalagi setelah tahu kalau si Littlefinger di belakang matinya Jon Arryn, bikin gue makin penasaran sama keduanya. Pengin tahun apa yang terjadi selanjutnya, karena tentunya Littlefinger nggak akan berhenti cuma dari Lord of The Vale. Dan kalau showrunner mau bikin perubahan di season lima, Robyn Arryn dipites aja, sebel gue sama bocah itu. Haha.

Jadi, ini review episode ke-10 dan uneg-uneg dari season empat. Gue cuma berpesan, bacalah bukunya dari sekarang, nggak akan nyesel kok baca bukunya. Sama sekali nggak. Sampai ketemu musim panas tahun depan.

Valar Morghulis!

5 thoughts on “Game of Thrones 4.10: The Children

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s