buku

Zoo

1404792028704

Aku tahu novel ini beberapa waktu lalu ketika CBS berencana untuk mengadaptasi selah satu novel milik James Patterson. Karena temanya yang tentang satwa dan ecological disaster menarik hatiku banget, akhirnya tanpa pikir panjang aku langsung beli.

Setelah baca, aku sadari aku nggak suka cerita di novel Zoo ini. Aku baik-baik saja baca Congo dan dwilogi Jurrasic Park (Michael Chrichton), serta nonton Rise of The Planet of The Apes (aku belum nonton Dawn). Akan tetapi, untuk cerita Zoo ini aku nggak bisa simpati sama sekali. Terlalu Hollywood banget. Egh.

Premis cerita ini yaitu tentang suatu masa ketika satwa liar dan yang sudah didomestikasi mendadak berubah perilaku. Mereka menganggap manusia sebagai ancaman dan akhirnya mulai melancarkan serangan-serangan. Yang kelanjutannya, menjadi gempuran mematikan dan perang antara manusia-hewan.

Aku sempat belajar belasan SKS tentang satwa liar, dari ekologinya sampai ke penangkaran. Jadi, aku ngerti dan masih ingat dasar-dasar dari perilaku satwa. Yang kusayangkan di sini, ceritanya sama sekali nggak menumbuhkan simpati dan empati kepada satwa. Karena aku sendiri udah ngerti, aku tahu betapa terjepitnya posisi mereka sekarang karena manusia. Memang cerita ini human-centris banget sih.

Diceritakan dari sudut pandang Jackson Oz, seorang ahli biologi. Dia punya teori tentang Human-Animal Confict (HAC) yang kemudian terbukti dengan kejadian-kejadian ini. Oke sih. Lumayan pinter. Sayangnya, tadi itu. Karena plotnya ala-ala Hollywood, dia ini jadi kerasa pinter sendiri dan semua orang di sekitar dia mendadak jadi bodoh. Kadang-kadang, dia sendiri kerasa nggak pinter. Juga, nggak segan-segan mengungkapkan kebenciannya sama binatang. Yang pada akhirnya, malah bikin pembaca nggak simpati sama satwa-satwanya yang mengalami perubahan perilaku juga gara-gara manusia.

Jadi, perubahan perilaku yang terjadi adalah akibat perubahan struktur molekular dalam feromon manusia karena polusi. Hal itu mengakibatkan para satwa itu nggak suka dengan aroma tersebut dan memancing serangan. Nah ini yang jadi plothole dalam cerita. Kemampuan mencium feromon itu kan ada di semua satwa termasuk Homo sapiens, tapi kadang-kadang ada serangan, kadang-kadang nggak. Padahal, kalau dipikir-pikir, salah satu jenis makhluk hidup paling banyak dan jumlahnya terbesar di dunia ini kan serangga. Akan tetapi dalam cerita ini serangga kayak nggak terpengaruh. Cuma satwa-satwa besar aja, terutama mamalia.

Karena seperti tadi aku bilang, plotnya sooooooo hollywood, maka melibatkan presiden, gedung putih, pertemuan ilmuwan-militer, militer yang pasang badan dan senjata ngelawan binatang yang makin buas. Gitu-gitulah.

Memang sih, Oz selalu ngingetin kalau apa yang terjadi itu karena manusia dan kata-kata bijak sebagainya. Namun, itu ketutup gitu sama adegan-adegan yang nunjukkin buasnya para satwa. Jadi, buatku novel ini milih sudut pandang yang nggak tepat dan bikin aku nggak nyaman banget.😦

Meski begitu, aku suka endingnya: manusia nggak pernah bisa menang melawan alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s