film

The Curious Case of Benjamin Button

untitled

Jadi, aku sedang membaca novel Gone Girl karya Gillian Flynn minggu ini karena filmnya yang diadaptasi David Fincher akan rilis di NYiFF akhir September nanti. Sambil menemani baca novel, aku bakal maraton film-filmnya David Fincher, di hari kelima, aku ganti genre jadi drama, yaitu The Curious Case of The Benjamin Button (2008) yang dapat 13 nominasi Academy Awards, termasuk Best Picture, Best Director untuk David Fincher, Best Actor untuk Brad Pitt, serta Best Supporting Actress untuk Taraji P. Henson.

Hari itu, Caroline terpaksa tinggal di rumah sakit untuk menemani ibunya. Kala itu New Orleans diguyur hujan deras karena akan datang badai. Di tengah rasa gelisah, ibunya meminta Caroline untuk membacakan sebuah jurnal. Meski awalnya ragu karena jurnal tersebut bukan berisi catatan, tapi akhirnya Caroline tetap membacanya juga. Lewat jurnal itulah juga, kita tahun tentang kisah Benjamin Button.

Lahir berbeda, dengan penampilan seperti orang tua, membuat ayah Benjamin meninggalkannya di depan sebuah panti werda. Oleh Queeine (Taraji P. Henson), Benjamin diambil dan diurus sebagai anaknya sampai dewasa. Penampilannya yang tua bikin Benjamin itu cepat dewasa apalagi bergaul dengan orang-orang dewasa. Salah satu penghuni panti, punya cucuk bernama Daisy. Rasa-rasanya, dari situlah hidup Benjamin benar-benar dimulai.

Kalau kamu pikir David Fincher cuma bisa bikin thriller, hmm aku bisa bilang, nope, salah besar. Aku ngapus air mata beberapa kali sepanjang nonton. Filmnya memang nggak berat, akan tetapi karena adegan-adegannya begitu indah dan menyentuh, bikin aduh, jadi sendu.

Banyak pesan yang sengaja diselipkan di dalam cerita ini. Yang memang sengaja ditaruh dan secara terang-terangan disebutkan. Kadang-kadang itu kerasa ganjil, akan tetapi narasi yang baik dari Brad Pitt atau Cate Blanchett bikin ya, semua itu kerasa halus dan padu dengan keseluruhan cerita.

Favoritku, adalah satu jam terakhir, ketika posisi antara Daisy dan Benjamin berbalik. Mereka udah bersama. Daisy makin tua, Benjamin makin muda. Kata Benjamin: kamu nggak bisa mengurus kami berdua. Aku nggak bisa menahan hari ketika Benjamin pergi. Ketika ngeliat Daisy ngurusin Benjamin yang sudah jadi anak-anak lagi. Rasanya sedih aja. Nggak tahu harus nganggepnya tragedi atau anugerah.

Di awal, dibilang bahwa jangan takut untuk berbeda. Di bagian akhir, pesan yang didapet adalah jangan takut untuk memulai, apapun bisa terjadi, dan kita tidak akan pernah tahu apa yang akan datang. Bagusnya semua itu dibungkus dalam sikap-sikap positif Benjamin. Meski kerasa too good to be true, namun  memang suasana seperti inilah yang ingin dibangun. Yang dramatis, romantis, dan melankolis. Bahwa hidup berputar pada orang-orang yang dicintai, ke sanalah kita selalu kembali.

Aku suka karakter-karakter perempuan di dalam cerita ini dari terutama Queenie dan Elizabeth Abbot yang diperankan Tilda Swinton. Karakter Queenie kuat banget dan bener-bener nggak bisa kelupa sampai akhir. Sementara itu, Elizabeth, meski nggak banyak, juga terasa berkesan banget. Tilda Swinton awet muda betuuul. Kalau Daisy, sebenarnya akting Cate Blanchett juga bagus banget, cuma karena cerita tentang dia banyak, jadi karakter dia nggak kerasa terlalu istimewa.

Latarnya pun berpindah-pindah dari berbagai kota. Dari New Orleans sampai Manhattan. Dari Paris sampai Rusia dan India. Ada salju yang turun. Ada matahari terbit yang begitu indah dari dermaga tua. Aku suka sinematografinya. Aku suka kostum-kostumnya. Yang dipakai karater Elizabeth aku suka-suka banget!

David Fincher banyak pakai gimmick di sini. Dari jam di stasiun kereta, sampai hummingbird. Memang ceritanya jadi lebih kaya sih. Banyak detail yang akhirnya bikin haru. Walaupun beberapa memang kerasa aneh dan nggak begitu berkaitan sama plot. Biar ceritanya indah aja. Akan tetapi, itu nggak akan menganggu.

The Curious Case of Benjamin Button adalah kisah yang haru, romantis, dan dramatis. Mengajari kamu bahwa waktu begitu berharga. Bahwa waktu yang dimiliki satu dengan yang lain berbeda. Cuma, gunakan waktumu baik-baik. Sebelum badai benar-benar datang. Sebelum jam akhirnya berhenti berdentang.

2 thoughts on “The Curious Case of Benjamin Button

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s