buku

Slaughterhouse-Five

“All moments, past, present and future, always have existed, always will exist.”

Ketika kali pertama mau buka buku ini rasanya takut-takut gitu, ngeri bahasanya njelimet atau temanya terlalu berat. Aku bahkan nggak tahu bercerita tentang apa saat memutuskan membaca, cuma tahu kalau novel dari Kurt Vonnegut, Jr. ini adalah salah satu novel fiksi ilmiah terbaik (dan klasik).

Aku nggak suka membaca (atau nonton) sesuatu yang temanya perang. Novel yang dirilis tahun 1969 itu ternyata bercerita tentang hal itu. Akan tetapi, lewat mata karakter Billy Pilgrim, perang yang dia alami jadi sesuatu yang nggak menakutkan sama sekali–ya tetep horor sih, tetapi dituturkan dengan santai, fun, dan selalu ada sisi lain dari segala hal.

Sesungguhnya Billy Pilgrim adalah karakter dari karakter ‘famous Dresden book’ yang akan ditulis karakter ‘aku’ yang adalah beliau sendiri. Beliau memang benar-benar ada di Dresden ketika pemboman terjadi. Pemboman Dresden adalah salah satu insiden yang terjadi ketika perang dunia kedua dan baru aku denger ketika baca buku ini. Di buku ini dibilang kalau peristiwa Dresden kurang populer dibanding pemboman Hiroshima dan Nagasaki, padahal korban yang jatuh lebih banyak.

Bagaimana kondisi Dresden diceritakan dalam buku ini… aku suka sekali! Bukan suka dengan apa yang terjadi, tetapi gimana mendeskripsikannya kalau Dresden yang seluruh bangunannya rata dengan tanah, tinggal puing-puing dan abu, dideksripsikan seperti bulan. Seperti jalan di bulan. Ada dua orang yang jalan di bulan. Itu keren!

Yang bikin kagum lagi adalah naratifnya. Billy Pilgrim adalah seorang time-traveller. Dia diculik oleh Tralfamadorians dari planet Tralfamadore untuk dipertunjukkan di kebun binatang di sana. Akan tetapi, lagi-lagi sifat Billy yang pasif, yang nrimo, bikin apa yang terjadi kerasa selow dan biasa aja. Mungkin kamu mikir kejam, tapi justru si karakter menikmati aja di sana.

Menceritakan kehidupan time-traveller di sini begitu cair dan ngalir. Nggak ada batas section antara waktu. Tiba-tiba aja Billy inget sesuatu dan loncat ke masa lalu, ke masa depan, atau balik lagi ketika perang. Itu menarik! Meskipun begitu dibacanya pun masih enak banget. Sama sekali nggak bikin bingung. Ya kayak kita aja kalau lagi mengenang sesuatu, tiba-tiba mikir itu, tiba-tiba mikir ini.

Billy yang tahu masa lalu dan masa depan nggak begitu aja bikin dirinya jadi heroik, misalnya untuk menghentikan pemboman Dresden. Dia membiarkannya. Sekali lagi nrimo takdir yang terjadi. Bikin gregetan? Akan tetapi, itu memang sifat Billy yang dia pelajari dari para Tralfalmadorians yang bijak: “That’s one thing Earthlings might learn to do, if they tried hard enough: Ignore the awful times and concentrate on the good ones.”

Dari artikel-artikel yang aku baca, novel ini mencampur antara fakta dan fiksi dari pemboman Dresden. Judul Slaughterhouse-five sendiri diambil dari tempat Billy bersembunyi ketika pemboman terjadi. Sebenarnya dia nggak sembunyi sih, sebagai tawanan Amerika di tangan Jerman, dia kerja di tempat itu dan di situlah dia harus tinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s