buku

My Everything

20140827_173201

Kali pertama aku menerima naskah ini dari Ratih Desiana dan Sylph Feira sebelum diterbitkan, aku sudah terkesan. Romansa fiksi ilmiah?! Wow, itu jarang banget ditemukan dari karya-karya penulis lokal. Terakhir kali aku baca romansa fiksi ilmiah adalah karya Tria Barmawi, itu juga udah lama banget.

“My Everything” terdiri atas dua cerita yang ditulis oleh masing-masing penulis, berjudul “Train to Heaven” dan “Trail of an Angel”. Kedua menceritakan tentang dua orang yang sama-sama menemukan sosok yang memberi mereka perspektif baru dan secara halus mengubah hidup mereka. Dua cerita tersebut memang berdiri sendiri-sediri, tetapi tetapi dihubungan oleh benang merah. Yang paling menarik: dua cerita tersebut mengambil latar di masa depan, tepatnya tahun 2089.

Train to Heaven bercerita tentang Claire yang melakukan perjalanan menuju Bali dari Jakarta. Dalam perjalanan dia bertemu dengan Kevin, seorang pemuda enerjik dan menarik. Sementara itu, Trail of an Angel menceritakan tentang Stanley yang jatuh hati pada sesosok android.

Dua-duanya menulis dengan manis dan ngalir. Dialog-dialog ringan yang bikin interaksi antar karakternya terasa hidup dan nyata. Enak dibaca ketika santai dan menghibur banget.

Untuk penulisannya, penggunaan istilah dalam bahasa Inggris yang sebenarnya sangat mudah dicari padanannya dalam bahasa Indonesia buatku sungguh terasa mengganjal, seperti kata “arrival”, “occasion”, “meng-update”, dan sebagainya. Di cerita, Trail of an Angel, aku baru menyadari kalau karakternya itu laki-laki setelah beberapa halaman. Sebab deskripsi pada cerita kedua tersebut masih terlalu ‘manis’ dan detail untuk sudut pandang laki-laki.

Yang aku ingin beri catatan adalah elemen fiksi ilmiahnya. Menulis fiksi ilmiah tidak perlu rumit, contohnya dalam cerita ini ketika masa depan menjadi latarnya. Dan sepanjang cerita, terutama untuk kisah Train of Heaven, masa depan hanya jadi ‘latar’-nya, tanpa ada korelasi kuat terhadap naratif.

Dalam menulis fiksi ilmiah, hal yang perlu diingat adalah meski kita menulis berdasarkan teknologi sekarang, bukan berarti 79 tahun mendatang masih akan sama. Di dalam novel ini, teknologi ‘windows’ dan ‘iphone’ bikin aku tersenyum. Sama sekali nggak salah, tetapi melihat betapa cepatnya teknologi berkembang, misalnya dari tahun 1980-2014 aja, kita ngalamin sendiri lho. Betapa banyak perusahaan raksasa yang tumbang, dan berapa yang bertahan karena teknologi memang ‘lari’. Tapi, siapa yang tahu kalau di masa depan masih ada dua hal tersebut?😀

Lainnya, adalah deksripsi yang kurang mendetail, terutama untuk sisi ilmiahnya. Okelah, ini memang bukan cerita murni fiksi ilmiah. Akan tetapi nggak ada salahnya memberi bumbu detail, misalnya terbuat dari apa otak buatan si android, dan sebagainya. Sedikit aja, biar kerasa gitu sisi ilmiahnya. Hehe.

Akan tetapi, elemen fiksi ilmiah tersebut nggak akan terlalu menyita perhatian kalau memang bukan pembaca fiksi ilmiah. Soalnya romansa dan tragedi di dalam ceritanya dituturkan dengan apik dan mengena. Senang banget ada penulis yang mengangkat fiksi ilmiah dalam tulisannya. Semoga di masa depan nanti akan lebih banyak lagi yang nulis fiksi ilmiah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s