buku

Di Kaki Bukit Cibalak

2014-09-13 10.42.34

Sore lalu, aku duduk di halaman rumah, di dekat sangkar burung besar yang berisi dua pasang lovebird dan mulai membaca buku ini. Di bagian awal novel ini menuturkan tentang kondisi hutan Cibalak di masa lalu. Bunyi kelentingan kerbau yang masuk hutan, burung-burung, lorong dari semak, dan kemudian berganti menceritakan tentang kondisi Cibalak terkini yang tak lagi jalan setapaknya berubah menjadi jalan aspal karena banyak penduduknya punya kendaraan, kerbau-kerbau yang tak ada lagi karena dijual, dan burung-burung yang ditangkapi untuk jadi hiasan dalam sangkar.

Saat itu, aku merasa tersindir, berhenti membaca sejenak sambil melihat pasangan lovebird hasil tangkaran itu yang saling bersenda gurau. Sebuah pertanyaan pun muncul, apa aku sudah kehilangan rasa kemanusiaan? Sementara, ketika aku melihat ke atas genting, ada beberapa burung gereja dan kutilang yang asik bercanda. Aku kembali tertegun, bagaimana cara Ahmad Tohari membuka cerita Di Kaki Bukit Cibalak ini benar-benar berhasil menyeretku masuk ke dalamnya. Menyentuh dan menunjukkan dengan jelas bagaimana setting bisa menjadi karakter utama sebuah cerita.

Aku meneruskan membaca. Seperti karya beliau yang sebelumnya kubaca, Ronggeng Dukuh Paruk, kalimat-kalimat sederhana yang lugas dan mengena selalu menjadi kekuatan. Tema yang disajikan dalam buku ini mungkin sudah kenyang kita nikmati, baik lewat fiksi maupun realitas, tetapi bagaimana beliau bercerita membuat aku nggak bisa lepas dan berhenti membaca. Lagi-lagi tersindir karena yang dikisahkan sangat bener banget. Juga terpukau karena beliau dengan kemahiran berbahasanya bisa membuat kalimat sederhana-sederhana dalam novel ini berlapis-lapis maknanya.

Mengisahkan tentang pemuda dari Cibalak, Pambudi, yang tidak tahan dengan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di desanya. Dimulai dari berhasil menolong salah seorang warga desa yang sakit melalui pemberitaan di koran, sampai akhirnya Pambudi menjadi musuh warga desa, hanya karena dia dimusuhi lurah. Bukan hanya kehidupan sosial Pambudi, tetapi juga mengenai kisah cintanya yang menarik diikuti.

Membaca novel ini seperti menyantap camilan yang bergizi (bukan angin doang!). Bahasa sederhananya bikin nggak kerasa membalik-balik halaman sampai belakang. Konfliknya sendiri mengingatkanku kalau hal-hal yang dialami Pambudi sebenarnya dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Banyak yang peduli. Banyak yang apatis. Cibalak adalah contoh kecil realitas yang ada di desa-desa di Indonesia.

Akan tetapi, yang membuatku terkesan pertama kali adalah kovernya yang manis dan menarik. Warna hijau dan ilustrasinya mengesankan rasa klasik, sementara typografi-nya bikin kerasa moderen dan populer. Suka banget lihatnya. Salah satu kover keren Gramedia tahun ini!

Kalau belum pernah baca karya Ahmad Tohari, langsung ambil buku ini ketika ke toko buku. Mungkin ceritanya nggak akan menghibur karena setelah baca satu dua pikiran mungkin akan mampir ke kepalamu. Namun, Pambudi akan membuatmu percaya, setiap orang bisa membuat perubahan ke arah yang lebih baik, meski banyak hal yang harus dikorbankan, meski harus memutar jalan lebih jauh.🙂

Dan… ini kalimat favoritku dari buku ini:

Dalam lintasan cinta, semua orang menjadi seniman!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s