buku / film

Fight Club

fight club

Adek dan temen deketku terkejut ketika aku bilang belum nonton Fight Club. Dari mata dan reaksi mereka, aku nangkep banget kalau film itu keren dan punya twist asik. Kemudian aku membalas, hmm… aku bakal nonton kalau sudah baca bukunya. Dan beberapa hari lalu, aku baca bukunya. Apa filmnya sungguh-sungguh keren?

Yep. Aku jawab sambil mengangguk dan bertepuk tangan. Salah satu karya kerennya David Fincher yang suram, solid, dan brutal. Yeah, brutal. Tentunya, David Fincher dapet banget nangkep cara berceritanya Chuck Palahniuk di novelnya. Jelas juga kelihatan itu dari naskah skenario adaptasinya yang ditulis Jim Uhls memang berhasil nangkep materi dan nilai-nilai dari bukunya.

Tyler Durder yang nihilist banget. Karakter ‘aku’ yang kikuk dan rasional dan produk yang dibesarkan oleh ibu dan ayah. Karakter-karakter di bukunya udah kuat banget. Aktor yang dikasting Fincher untuk film ini Brad Pitt untuk Durden, Edward Norton untuk si ‘aku’ alias narator, dan Helena Bonham Carter untuk Marla Singer, semuanya ciamik dan bener-bener dapet ngidupin yang ada di buku.

Ceritanya memang tentang si narator yang mengalami insomnia bertemu Durden, saling kelahi dan menolong, sampai akhirnya mereka mendirikan Fight Club. Juga, cinta segitiga antara mereka dan Marla Singer. Itu inti ceritanya. Jangan tanya lagi, karena peraturan pertama dari Fight Club adalah jangan membicarakan tentang Fight Club. Kalau peraturan pertama dilanggar, ada peraturan kedua Fight Club, yaitu jangan membicarakan tentang Fight Club.

Oke.

Novel ini menceritakanmu lebih dari sekadar cowok-cowok yang saling pukul tanpa tujuan yang jelas. Iya sih, itu kelihatan bodoh. Akan tetapi, Durden selalu bisa ngasih alasan, salah satu pertanyaan yang paling nempel adalah “Apa sih yang paling kamu inginkan sebelum mati?” (kurang lebih gitu). Nggak semua orang bisa jawab. Karena mereka nggak tahu. Karena mereka udah terkungkung namanya jadwal. Karena mereka udah dicetak jadi jadwal-jadwal. Karena mereka bekerja untuk sesuatu yang nggak mereka butuhkan, sesuatu yang diinginkan karena rayuan iklan, karena gaya hidup.

Itu cuma sedikit sindiran.

Favoritku tentunya subplot tentang perusahaan sabun Paper Street. Haha. Itu bener-bener menarik. Dari sabun sampai peledak, dari sabun sampai lemak, dari sabun sampai sejarah. Tanpa sabun, mungkin kita semua nggak akan semewah ini sekarang. Haha. Itu juga jadi adegan favoritku di film, ketika mereka lari-lari nyuri lemak yang ewwwwww.

Satu hal yang kental banget dari kisah Fight Club ini adalah mengenai anarki. Kalau di film baru kerasa di act 3 sih. Kalau di bukunya, karakter Tyler ini udah kerasa banget. Aku bukan fans dari anarkisme, memang menarik ide tentang hidup tanpa order. Aku suka ngeliat dan ngedukung apa yang Tyler dan Project Mayhem lakukan, tapi… tapi… aku nggak bisa membayangkan hidup dalam total chaos. Mungkin karena sejak kecil udah dijejelin norma dan segalanya.

fight club2

Karena aku bilang filmnya bisa banget nangkep apa yang ada di buku, nggak ada bedanya cerita tentang nilai-nilai yang ada di buku atau filmnya, karena secara umum sama. Yang membedakan, hanya yang satu ngasih kepuasan visual, yang satu ngasih betapa menyenangkannya Chuck Palahniuk nulis sesuatu. Aku fans berat tulisannya. Kalau dapet kesempatan hidupku ditulis jadi cerita, aku pasti pilih beliau.

Ada twist besar di belakang, tapi aku nggak mau bilang. Aku sendiri nggak terkejut dengan itu. Sebelum baca Fight Club, aku sudah baca buku Chuck yang lain, Invisible Monster. Kerasa aja gitu kalau ada kesamaan tipe karakter yang mengalami psychotic. Seabnormal apapun yang mereka lakukan, tetep kerasa ‘normal’ dan bisa dimaklumi meski pakai meringis-meringis.

Kuakui, aku lebih suka bukunya dibanding filmnya. Bisa jadi karena aku baca duluan dan aku memang suka banget tulisan Chuck Palahniuk. Akan tetapi, seperti yang aku bilang di atas, David Fincher pun berhasil banget mengadaptasi cerita ini, jadi salah satu film cult terpopuler. Sama sekali bukan adaptasi yang mengecewakan, bahkan untuk Act 3, aku akui filmnya kerasa lebih unggul.

Baca bukunya atau nonton filmnya, atau dua-duanya lebih bagus. Fight Club adalah salah satu pop-culture yang nggak boleh kamu lewatkan.

One thought on “Fight Club

  1. Gue nonton filmnya dulu dan twist yg dimaksud udah ketebak duluan, tapi tetap aja seru. Karena udah nonton filmnya dulu jadi gampang visualisasiin. Wah.. gak kebayang deh kalau baca bukunya dulu. Setiap kalimat ganti topik pembicaraan. *_*

    Gak nyangka ya bukunya ternyata romantis bangeeeetttt… hahaha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s