film

Edge of Tomorrow

EoT 2

Nggak ada yang menyangka, film fiksi ilmiah terbaru dari Tom Cruise akan sekeren ini. Setidaknya begitulah reaksi sebagian besar yang kuikuti. Tahun sebelumnya, Tom Cruise datang dengan Oblivion dan reaksinya nggak bagus. Jadi, kekerenan di Edge of Tomorrow pun mengejutkan banyak orang.

Mengusung tema time-travel yang ugh mudah banget untuk jadi klise, ternyata bisa dikemas bagus banget di sini. Untuk yang akrab dengan tema-tema time travel, film ini bakal ngingetin banget dengan Groundhog Day dan Source Code. Namun, apa yang bikin film ini begitu menarik?

Ceritanya kuat banget. Desain aliennya cakep abis. Dan karakterisasi yang bikin simpatik. Action dan dramanya pun seimbang. Padahal, Edge of Tomorrow ini cuma cerita satu hari yang menengangkan dalam hidup William Cage (Tom Cruise). Dia dikirim ke London tanpa pernah menyangka itu adalah panggilan untuk ikut bertempur di lapangan. Sebagai mantan pegawai periklanan, dia nggak punya pengalaman apa-apa, tapi terpaksa, mau nggak mau harus ikut. Hasilnya, belum satu jam mendarat, dia udah mati.

Dan dia hidup lagi. Mati lagi. Hidup lagi. Mati lagi. Terus begitu. Sampai ketika dia akhirnya memberanikan diri untuk bertemu dengan Rita Vrataski, prajurit andalan. Menceritakan semuanya. Rita langsung percaya dan minta Cage untuk menemuinya lagi esok hari. Di situlah pengalaman Cage dimulai dan Rita ternyata pernah punya pengalaman yang sama.

Apa yang menimpa Cage itu karena dia membunuh mimic Alpha, darah si Alpha kena darahnya dan akhirnya dia punya kemampuan itu setiap kali Omega (otak/bos besar mimic) mengulang hari.

Awalnya, aku kira time-travel di sini, semua ngalamin hal itu, ternyata nggak, cuma Cage sendiri. Jadi, Cage ngalamin hal yang sama berulang-ulang. Terus-terusan sampai kita sendiri dan dia mungkin kehilangan hitungan berapa banyak. Justru itu yang bikin kita simpati kepada Cage dan Rita. Apa mereka nggak capek? Apa pikiran mereka nggak overload? Film ini dapet banget di aku ketika pada suatu momen Cage tanya tentang seseorang pada Rita, dan Rita jawab ‘Aku ngelihat dia mati tiga ribu kali’. Menyakitkan, kan?

Ya, itu menariknya time-travel di sini, ada konsekuensi dan batasan yang diterapkan. Jelas konsekuensinya adalah secara mental tadi. Sementara batasannya adalah jangan sampai terluka dan nggak sadarkan diri, maka kemampuan itu akan terhapus.

Hal lain yang menyita perhatianku banget dari film ini adalah desain mimics. Keren banget. Meski aku masih komplain karena mereka punya muka. Haha. Secara mendasar ngingetin sama bintang laut raksasa (bukan yang unyu, tapi yang keriting kayak medusa). Gerakannya yang juga jauh dari manusiawi. Pokoknya aku suka desain alien di sini, haha. Keren.

eot 1

Lainnya yang bikin suka banget adalah karakter Rita Vrataski yang diperanin Emily Blunt. Duh, senang banget lihat karakter perempuan yang kuat, disegani, dan pemberani. Yang bener-bener, ahhh, butuh lebih banyak karakter perempuan kayak gini! Cool banget pokoknya.

Film ini diangkat dari komik Jepang berjudul All You Need is Kill karya Hiroshi Sakurazaka. Sementara filmnya sendiri disutradari oleh Doug Liman. Haaa! Belum pernah menikmati karyanya yang lain, tapi Edge of Tomorrow ini adalah salah satu film tahun 2014 yang nggak boleh dilewatkan. Cakep!

5 thoughts on “Edge of Tomorrow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s