buku / film / Resensi

Interstellar (novelisasi)

Interstellar novelization

Sejak sering nonton film, baca novelisasi menjadi salah satu keasikan tersendiri. Membaca bagaimana adegan-adegan dan baris-baris pada skenario menjadi prosa naratif. Karena setiap adegan kan nggak selalu bisa diterjemahkan, sebenarnya bisa saja–untuk novelisasi tergantung seberapa besar hak penulis juga sih dan kepiawaian mengolah kata.

Novelisasi Interstellar digarap oleh Greg Keyes. Ini kali pertama, aku membaca karya beliau. Secara garis besar, cerita di novelisasi ini sama sekali nggak berbeda dengan skenarionya. Kalau kamu belum tahu, kisahnya tentang sekelompok penjelajah yang dikirim ke galaksi lain melalui sebuah wormhole misterius untuk menemukan tempat tinggal baru bagi manusia.

Cooper harus meninggalkan anak-anaknya untuk melaksanakan misi bersama Amelia, Romily, dan Doyle, menggunakan Endurance untuk mengunjungi tiga planet yang potensial, Planet Miller, Planet Mann, dan Planet Edmund. Tentunya, perjalanan itu tidak semulus yang direncanakan, dari dilatasi waktu yang jadi sumber emosional sepanjang cerita, kehilangan-kehilangan, dan perasaan sepi yang dirasakan di tengah kesima oleh keindahan galaksi lain.

Awal-awal tulisan, tulisan Greg Keyes nggak bisa menangkap apa yang disajikan Nolan di filmnya. Adegan kejar-kejaran di ladang jagung, adegan docking Ranger kali pertama ke Endurance, itu hanya diceritakan separagraf-dua paragraf. Kerasa bikin kangen nonton filmnya lagi dan lagi.

Bahkan adegan lewat Saturnus pun diceritakan dengan singkat aja. Mungkin keterbatasan akses untuk ngolah screenplay-nya sih. Kebayang kalau ngerjain screenplay Chris dan Jonah jadi novel, aku pasti juga bakal beban mental. Haha. Jadinya, beberapa hal agak sulit divisualisasikan ketika baca. Pun, adegan di Tesseract, meski dialog dan karakterisasinya dapet, tetapi deskripsi lokasinya… sama sekali nggak kebayang (kecuali udah nonton filmnya).

Akan tetapi, dua pertiga sisanya, penulisannya kerasa bisa masuk ke karakter, terutama Amelia dan Murph, yang kita nggak banyak tahu di film. Beberapa sudut pandang mereka disampaikan dengan menyentuh dan bikin aku kembali berkaca-kaca. Karakter kejutan di film, Dr. Mann, pun bisa lebih didalami di sini dan tentunya lewat komik prekuelnya.

Aku pribadi, kalau kamu nggak terlalu suka baca, menyarankan nggak perlu beli novelisasi ini sih. Sebagian besar isinya memang sama persis. Kalau cuma ingin baca skenarionya, langsung beli complete screenplay aja. Bukan nggak bagus, novelisasi ini bagus, tapi akan lebih nyaman bacanya kalau kamu sudah nonton filmnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s