film

Hard Eight

hard eight

Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah artikel di situs Esquire. Bukan tulisan baru, melainkan enam tahun lalu mengenai Paul Thomas Anderson. Cerita panjang tersebut memuat masa kecil PTA dan masa-masa beliau menapaki karir sebagai filmmaker, hingga akhirnya berhasil membuat feature perdananya, Hard Eight.

Pada umur yang masih begitu muda, beliau menelurkan Hard Eight dengan dukungan Sundance Institute. Biaya seadanya pun nggak menghalangi PTA untuk menuntaskan film yang naskahnya juga dia tulis sendiri. Bahkan, ‘Sydney’, judul lain dari Hard Eight sudah digarapnya sejak sekolah menengah.

Setelah aku menuntaskan film-filmnya yang lain, dari The Master sampai Boogie Nights, barulah aku nonton Hard Eight yang dirilis tahun 1996. Film berdurasi 97 menit ini menunjukkan banget benih-benih kebrilianan PTA. Apa yang familier di karya-karya populernya, bisa kelihatan cikal bakalnya di sini, dari musik dan lagu yang enak banget, tracking shot, dialog yang enak banget, dan ya, lampu neon warna-warni.

Semua itu mengawal drama kriminal dalam Hard Eight yang kubilang paling sederhana di antara karya PTA lainnya. Mengisahkan tentang Sydney, seorang pria paruh baya yang membantu pemuda bernama John yang datang ke Las Vegas untuk mencari biaya pemakaman ibunya. Hubungan mereka berlanjut makin dekat, sampai John bertemu dengan seorang pelayan bernama Clementine dan terlibat sebuah masalah.

Masalah, di sini, ‘masalah’ tersebut pun diselesaikan dengan gaya nulis PTA yang sering bikin aku bengong. Sering di luar ekspektasi. Ketika aku pikir akan terjadi sesuatu yang buruk, ternyata… nggak. Akan tetapi, memang terjadi sesuatu bisa dibilang buruk atau nggak. Ya, terjadi aja. Seolah-olah, mau ngingetin hidup yang kayak gini–nggak selalu hal paling buruk yang dipikir bakal datang, mungkin bukan yang paling buruk, tapi yang datang juga nggak bisa dibilang bagus.

Meski pun semua hal yang khas dari PTA ada di film ini, paling kerasa memang cerita, karakter, dan dialognya. Dialog-dialognya memang nggak ribet atau bikin mikir banyak-banyak, tapi harus fokus dengerin kalau nggak bakal kehilangan arah apa yang karakternya bicarain. Itu juga didukung dengan casting yang oke. Orang-orang di sini yang bakal kelihatan lagi di film-film PTA yang selanjutnya.

Paul Thomas Anderson waktu ngerjain Hard Eight. Masih muda belia gitu yaa. (via bfi)

Paul Thomas Anderson waktu ngerjain Hard Eight. Masih muda belia gitu yaa. (via bfi)

Tentang ‘masalah’ tadi, kenapa nggak kerasa buruk banget, karena karakternya yang memang pragmatis, terutama Sydney. Dia tahu apa yang dia lakukan. Tetap kalem meski ada sesuatu yang gawat dan bikin kita yang nonton pun ngerasa tegang, tapi tetap waspada gitu. Walaupun, banyak orang haus akan latar belakang tokoh, Sydney yang dikenalkan ke penonton dengan miskin latar belakang ini tetap bisa banget bikin penasaran sampai akhir. Pun, sampai akhir kita tetap nggak tahu banyak tentang dia, selain dia seorang penjudi dan… sesuatu yang nggak bisa aku bilang.

Hard Eight bukan yang terbaik dari PTA. Mungkin malah yang paling sederhana. Ini karya perdana beliau, kalau memang kamu fans berat dan menyenangi karya-karyanya, tentunya yang satu ini nggak boleh terlewatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s