film

The Master

the master 2

Biru. Adegan pembuka karya keenam Paul Thomas Anderson ini akan mengingatkanmu pada Punch-Drunk Love. Akan tetapi, biru yang kamu lihat di sini, lebih indah dan segar. Biru dari laut yang dicampuri buih. Biru yang jadi latar sesosok pemuda yang sibuk dengan kelapa. Biru yang jadi kanvas sekelompok pemuda yang membangun patung pasir perempuan.

Ini pembuka favoritku di antara karya PTA lainnya. Paling cantik dibanding dengan lainnya, meski tetap aja nggak lepas dari sentuhan rasa ‘ganjil’ khas PTA. Dari birunya laut, sampai ke Joaquin Phoenix yang niruin adegan seks sama si patung pasir perempuan.

Rasa ‘ganjil’ itu nggak hilang sepanjang film yang berdurasi 137 menit ini. Sebagian besar dibawa oleh penampilan luar biasa Joaquin Phoenix sebagai Freddie Quell, seorang pelaut. Kisahnya dimulai saat Freddie yang menyusup ke sebuah kapal, bikin minuman dari campuran berbagai macam cairan aneh termasuk thinner, sampai dia bangun dan bertemu Master.

Freddie diberi tes sederhana, kemudian diajak bergabung bersama rombongan dalam kapal oleh Master. Perlahan-lahan, kita tahu kalau Master adalah seorang pemimpin kepercayaan yang disebut The Cause. Kelompok yang percaya bahwa ada kehidupan sebelum dan sesudah. Ada pertemuan-pertemuan yang tak pernah kita ingat dalam kehidupan ini. Master menemukan cara untuk menjembatani antar ingatan tersebut, menutup, dan membuat–semacam time travel dalam pikiran.

Dari sudut pandang Freddie, diperlihatkan perjuangan kelompok kecil tersebut untuk berkembang. Perdebatan antara orang yang percaya time travel tidak terjadi dengan The Master. Disertai perjuangan Freddie untuk sembuh dari kebiasaan mabuk dan sikap agresifnya yang dibantu oleh Master.

Cerita yang mengalir dari interaksi dialog antar karakter, akting yang mantap, dan visualisasi cantik bikin betah banget nontonnya. Seperti halnya film-film PTA lainnya, dialog-dialog yang tajam dan cerdas, yang harus fokus didengerin atau kamu kehilangan apa yang mereka obrolkan itu salah satu kekuatan di sini.

Beberapa adegan bersama Master dan Freddie benar-benar menyita perhatian, dari saling tanya jawab mereka untuk kali pertama. Master dan Freddie berhadapan, saling ngerokok. Kedua, ketika mereka berada di penjara. Bukan hanya akting Joaquin Phoenix dan Philip Seymour Hoffman yang bikin adegan itu hidup banget, tapi kekuatan visualisasinya juga.

Nonton Joaquin Phoenix di sini, setelah terakhir kali nonton dia mellow banget bersama Samantha di HER, kerasa segar banget. Beda banget! Sebagai Freddie yang aneh, jalan agak bungkuk, kalau ngomong bibirnya miring, impulsif, suka minum apapun (ya apapun), benar-benar bikin… ngerti kenapa PTA bilang dia cinta Phoenix dan nggak sabar nunggu penampilan dia lagi sebagai Doc di Inherent Vice.

Bukan hanya karakter Freddie yang menarik. Aliran kepercayaan ‘The Cause’ pun salah satu subplot yang seru. Master menulis buku, yang salah satu di dalamnya menyebut bahwa kepercayaan tersebut bisa menyembuhkan penyakit, seperti kanker. Banyak yang mengaitkan ‘The Cause’ ini dengan scientology dan praktik hypnosis, tapi aku nggak terlalu menggali tentang itu. Bagi orang-orang yang sering berkelompok, apalagi masuk dalam kelompok minoritas, hal-hal yang terjadi pada kelompok The Cause sangatlah lumrah. Bahkan seperti di Indonesia kan sering juga ditemukan aliran kepercayaan begitu.

PTA dan Joaquin Phoenix di lokasi syuting The Master.

 

Mungkin kamu nggak akan sedikit menemukan komentar kalau cerita film ini absurd. Memang sih, plot utamanya serasa kabur ke mana. Cuma buatku, justru ceritanya yang mengambang itu yang bikin menarik. Aku ngerasa nggak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya atau cerita ini akan berakhir gimana. Satu-satunya cara untuk tahu ya, harus nonton sampai akhir. Bisa jadi, kalau bukan PTA yang nulis dan ngegarap, nggak akan semenyenangkan ini untuk dinikmati.

Aku bisa bilang The Master ada di tiga besar film PTA favoritku. Meski di sini beliau nggak bekerja sama dengan sinematografer regulernya, Robert Elswitt, malah ngebikin tampilan The Master ini segar betul, beda dengan tampilan film PTA yang sudah-sudah. Aku cinta film ini dari birunya sampai sisi absurd-absurdnya.šŸ˜€

Kalau kamu cinta The Master seperti aku, Indiwire ngerangkum adegan yang hilang dan dibuangĀ antara versi teatrikal dengan skenarionya di sini. Males baca dengan detail? Langsung aja nonton video 20 menit adegan-adegan yang dibuang dari versi rilisan The Master.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s