film

Punch-Drunk Love

PDL1

Kuakui, aku nggak tahu nama Paul Thomas Anderson sampai beberapa bulan yang lalu. Seingatku, aku nonton There Will Be Blood, tetapi nyaris nggak tersisa memori apa-apa. Waktu itu, masih zaman nggak suka mencatat sih, jadi ya kelewat begitu aja. Sampai akhirnya, aku main ke suatu tempat yang semua di sana suka PTA dan aku ngerasa yang belum nonton karya PTA semacam kayak anak laki-laki belum disunat. Masih kecil! Jadi, dari situ, aku mulai ngikutin karya beliau, termasuk karier, dan filmnya yang akan segera rilis, Inherent Vice.

Punch-Drunk Love aku pilih sebagai perkenalan, asalnya klise: durasinya yang hanya 97 menit jauh lebih singkat dibanding There Will Be Blood atau Magnolia atau The Master. Terlebih, temanya sederhana, drama romantis. Aku merasa rada-rada nggak percaya ketika seorang yang bikin There Will Be Blood, sebelumnya bikin romantic comedy.

Kemudian, aku malah jadi jatuh cinta sama Paul Thomas Anderson.

Sejak adegan pertama. Biru. Adam Sandler duduk dalam balutan jas biru di mejanya yang penuh berkas sambil bicara lewat telepon tentang promo sebuah produk. Adegannya diambil secara diagonal, kerasa kayak lukisan.

Selanjutnya, Sandler yang memerankan Barry Egan jalan keluar dari rukonya. Berdiri di tepi jalanan pagi San Fernando Valley yang sepi. Minum sesuatu dari tumbler peraknya. Dari jauh, kita ngeliat ada beberapa mobil… dan brak! salah satunya nabrak sesuatu di pinggir jalan dengan terempas, terbalik di depan Barry. Disusul sebuah mobil lain berhenti tepat di depan Barry, nurunin sebuah harmonium.

Saat aku belajar menulis (novel, bukan skenario), ada satu hal yang harus diingat: detail, detail, detail. Hal itu disusul dengan pelajaran mengenai ‘chekov gun’–sekali kamu narik pelatuk, peluruh itu harus diarahin atau bahasa sederhananya, sekali kamu naruh sesuatu dalam cerita, harus ada tujuannya. Bukan tentang harmonium, tapi adegan mobil yang kebalik di depan Barry itu bikin aku terpukau. Apa sih tujuan ada adegan itu? Aku masih nggak nemuin, karena setelah Barry masuk lagi ke kantornya, nggak ada lagi cerita tentang itu. Kita nggak tahu apa penumpangnya selamat atau gimana. Namun, justru itu… itu yang bikin aku ngerasa suka banget dengan rangkaian pembuka Punch-Drunk Love.

Ya, PDL memang bercerita tentang Barry Egan yang merasa nggak suka dengan dirinya sendiri, berusaha kelihatan keren di depan orang lain, mencoba menaikkan gengsi dengan punya tiket terbang gratis seumur hidup meski dengan cara menggelikan, diteror telepon seks, dan nggak pernah berhenti direcoki ketujuh kakak perempuannya. Yang terakhir itu, berdasarkan pengalaman PTA sendiri yang punya beberapa kakak perempuan. :p

PDL 2

Namun, plot utamanya adalah tentang Barry dan Lena. Lena, teman kerja salah satu kakak Barry yang ingin bertemu dengannya setelah melihat foto Barry. Nah, gimana hubungan mereka berjalan ini yang diceritakan dengan cute banget! Bukan sekadar ketertarikan physical, tetapi sesuatu yang lebih sederhana dan terjadi pada kita-kita semua. Ketika Barry dan Lena sama-sama memulai dengan pura-pura untuk menyembunyikan motif dan latar belakang. Kadang terlalu jujur memang bikin ilfeel duluan kan. Pada akhirnya, toh kita nggak akan pernah benar-benar bisa menyembunyikan sesuatu dari seseorang yang kita ingini untuk terus bersama.

Bukan hanya cinta bikin seseorang berani mengatakan hal yang sebenarnya. Di sini juga ditunjukkin betapa cinta bisa bikin seseorang berani untuk melindungi orang yang disayang. Semua itu nggak diceritain dengan klise! PTA membungkus kisah PDL dengan seperti yang aku bilang tadi kerasa dekat dengan hidup sehari-hari. Ganjil. Aneh. Nggak terduga.

Akting Adam Sandler patut banget dikasih acungan jempol (banyak pula yang bikin ini salah satu akting terbaik Sandler). Begitu juga scriptnya, musiknya, dan visualisasinya. Akkk… aku ingat banget ketika kali pertama nonton ini, adegan Barry dan Lena keluar dari restoran dan jalan sampai ke mobil bikin aku bengong! Aku suka banget itu! Steadicam shot yang dipilih PTA pas banget, plus ada detail truk trailer yang lewat, warna pakaian Barry dan Lena yang biru-merah, semua… semua bagus banget!

Aku suka film yang bikin aku ngerasa kayak baca novel. Namun, aku lebih suka dan kagum dengan film yang nggak bisa diterjemahin jadi novel. Film yang bikin kamu harus nonton ini, bukan dibaca! Punch-Drunk Love ini adalah salah satunya. Film yang bikin aku sadar kenapa aku suka nonton film karena aku nyari sesuatu yang nggak bisa kutemukan dari baca novel.

PTA juga masih hadir dengan cerita yang bikin aku terkejut dan bengong. Seperti aku bilang tadi: tak terduga dan ganjil. Tentunya, ada yang buruk terjadi pada Barry, namun ternyata cara Barry menyelesaikan masalahnya dengan si Mattres Man, itu… luar biasa! Sama sekali nggak berlebihan dan nggak bikin Barry jadi out of character!

Aku cinta banyak hal dari film ini. Art di antara adegan aja bikin aku cengar-cengir senang. Itu kayak perasaan yang dilukisin jadi warna. Kerasa emosional dan mewakili banget lumer-panas-dingin karakter Barry dan apa yang terjadi di sekitarnya. Juga, bikin romantisnya film ini makin kerasa romantis tanpa harus dibumbui dialog yang cheesy dan norak!

Punch-Drunk Love adalah film yang harus kamu tonton karena cerita, musik, akting, skema warna dan visualnya bikin hati kamu senang serta ngerasa romantis. PTA bikin kamu dan jatuh cintamu yang ganjil atau nggak seindah di film-film jadi terasa indah. Pokoknya, PTA ini bisaan banget bikin adegan sehari-hari dan terasa biasa aja jadi sesuatu yang enak dilihat dan indah. Gimana nggak jatuh cinta sama PTA coba, ya?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s