film

Magnolia

magnolia_ver1

Ketika mau nonton film ini, selain meyakinkan beneran nggak ini film dari Paul Thomas Anderson, yang aku lakukan adalah mengecek durasi. Nyaris melotot sewaktu tahu film ini sepanjang 188 menit–‘heeeeeh om Paul drama apaan ini 188 menit?!’, jadi reaksi pertamaku. Namun, semua kegundahan dan kegelisahan hati itu langsung hilang ketika lihat adegan pembuka dan cara mengenalkan karakternya. Film ini dan PTA langsung memenangi hatiku.

Dimulai dari serentetan cerita yang aneh dan kelihatan kayak kebetulan banget. Narator menceritakan tentang itu, sementara montase memperlihatkan bagaimana jika ternyata cerita-cerita itu secara tidak langsung bersambungan. Ini bakal bikin kamu duduk lengket dan lupa tiga jam durasi.

Kemudian cerita tersebut selesai, muncul lagu ‘One’ dari Aimee Mann. Satu persatu karakternya dikeluarkan dan diperkenalkan. Secara halus diperlihatkan gimana satu dengan karakter lainnya berhubungan. Dan bikin kita pengin tahu apa yang sebenarnya mau diceritakan oleh PTA.

Paul Thomas Anderson adalah seseorang yang ngerti pentingnya adegan pembuka. Dari The Master yang berdasarkan karakter banget, unik, aneh, dan indah. Sementara Punch-Drunk Love dengan visualisasi yang puitis dan absurd. Semuanya punya gaya dan kekhasan tersendiri, tetapi nggak pernah lupa menanam apa yang mau diceritakan.

Dari pengenalan karakter di Magnolia, kita tahu kalau film ini adalah serangkain plot dari beberapa karakter yang bahkan nggak menyadari saling berhubungan. Seorang polisi, seorang motivator cara ngedapetin cewek, seorang perawat, seorang tua yang sekarat dan istri mudanya, seorang cewek sedih yang duduk di bar, seorang anak kecil yang kelihatan sibuk banget, dan seorang pemuda yang habis pasang kawat gigi (dan mantan pemenang kuis adu pintar).

Kisah mereka dituturkan selang-seling sesuai dengan timeline, karena semuanya terjadi dalam satu hari dan di kota yang sama. Meski pun banyak cerita, semua karakter dapat momen-momen yang bikin kita kenal dekat dengan mereka. Momen yang jadi klimaks untuk setiap karakter.

Semua karakter itu diikat dalam satu tema besar: keluarga. Ini tema yang sama dan selalu kelihatan di film-film PTA lainnya. Bukan sekadar keluarga biologis, tetapi juga teman-teman yang menjelma kerabat. Intinya kita nggak bisa sendiri dan selalu butuh orang lain. Kita selalu butuh bantuan orang lain. Gimana kita bisa menghargai orang-orang terdekat dan tersayang, bagaimanapun mereka udah salah kepada kita. Keluarga tetaplah keluarga.

Satu hal yang kerasa banget dari film ini adalah sedihnya. Beda dengan Boogie Nights dan Punch-Drunk Love yang ‘ceria’. Magnolia benar-benar menujukkan dengan tebal-tebal pahit dan sedihnya karakter-karakter. Keluarga yang berantakan, penyesalan yang dateng belakangan, kesepian karena nggak dianggap, dan pilihan-pilihan yang terlalu sulit untuk diambil. Hatimu mungkin akan patah nonton film ini.

magnolia

PTA di lokasi syuting Magnolia

 

Ngalirnya cerita ini juga didukung cara pengambilan gambar PTA yang bikin adegannya kerasa enak banget ditonton. Bikin adegan biasa-biasa aja jadi kelihatan bagus! Tentunya, masih ada beberapa steadicam shot khas PTA. Salah satu favoritku ketika si anak pinter sampai di stasiun televisi. Ini adegan sekitar dua menit tiga puluh detik yang bikin aku terpaku dan menganga. Aku cinta PTA!

Semua cerita pahit dan sedih yang ditulis dengan apik banget oleh PTA diakhiri dengan sebuah adegan yang bikin aku pengin lari ke dia dan bengong. Haha. Pengin ngomong dengan muka bengong, ‘barusan itu apa?’. Aku berekspresi begitu aku terpukau karena adegan itu sungguh jenius dan cerdas dan keren banget! Aku suka banget! Aku nggak akan ngasih tahu adegan apa itu meski udah 15 tahun sejak kali pertama filmnya rilis. Adegan itu menumbuhkan benih cinta dan kekagumanku sama PTA secara cepat. Gimana lagi bisa nahan diri untuk jatuh cinta sama PTA cobaaaa?😀

Magnolia dengan durasinya yang panjang dan drama keluarga sederhana mungkin bukan konsumsi semua orang. Akan tetapi, film ini benar-benar berhasil merebut perhatianku dan lupa tentang panjang durasinya. Cerita yang bagus nggak perlu megah dan butuh ledakan di sana sini. Kisah yang biasa dan sehari-hari pun bisa jadi indah dengan penuturan yang baik, untuk film tentunya gimana cara ngemas visualisasinya dan tanpa ragu, aku bilang PTA menguasai kedua hal itu.😀

Kalau sudah nonton filmnya, tengok juga video diary pembuatan Magnolia. Lihat PTA yang masih muda banget dan ambisius.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s