buku

The Road

the road

Aku suka membaca sebagai bentuk eskapisme. Melihat dan mengalami sesuatu yang nggak akan sempat kualami langsung. Banyak cerita yang meninggalkan aku dengan perasaan tidak rela berakhir ketika tiba di halaman terakhir. Ada cerita yang menyisakan perasaan biasa saja. Namun, jarang sekali cerita yang membuatmu lega, ya, lega ketika akhirnya kamu sampai di kalimat paling ujung. The Road yang ditulis oleh Cormac McCarthy adalah kategori yang terakhir bagiku.

Sesungguhnya, The Road mengandung kisah yang sederhana, mengenai ayah dan anak lelakinya. Mereka bertahan hidup di antara dunia yang rusak, saling melindungi dan memiliki satu sama lain. Ayah yang merasa harus memikirkan semua dan si anak yang polos yang mewakili hati tanpa prasangka. Perbedaan pandangan itu seringkali membuat hubungan mereka bertabrakan, namun mereka tak punya pilihan lain untuk berbaikan lagi.

Hubungan yang sederhana itu nggak serta merta berjalan mulus, kondisi kehidupan mereka yang sulit benar-benar jadi cobaan. Mereka menjadikan satu sama lain alasan untuk hidup di tengah dunia yang sama sekali nggak menyenangkan. Populasi manusia menyusut, kebakaran di mana-mana, debu dan asap yang nggak habis-habis, manusia yang memakan manusia lainnya, dan semua hal paling buruk di dunia pascabencana ada di sana.

Cormac McCarthy menjadikan latar sebagai karakter ketiga dalam kisah The Road. Begitu gamblang dan detail deskripsi yang dibuat di dalam sana. Sampai-sampai aku selalu merinding ketika mulai baca. Ngeliat sekelilingku jadi kelabu, ngerasain sesaknya napas, dinginnya udara, sampai ketakutan yang nggak habis-habis.

Semua itu kayak hantu yang nggak punya wujud fisik. Sekeliling ayah dan anak itu adalah teman sekaligus musuh. Satu hal lain yang kerasa banget adalah kesepian di sana. Itulah mengapa mereka bertahan berdua. Mungkin kalau nggak gitu, salah satu dari mereka udah lepas harapan… begitu mudah menemukan alasan untuk mengakhiri hidup di dunia yang seperti itu.

Kisah ini ditulis dengan indah. Dialog ayah dan anak lelakinya yang natural dan polos. Deskripsinya yang kuat dan menghanyutkan. Bedanya, kisah ini nggak ditulis seperti cerita narasi lainnya, melainkan kayak prosa–dialognya hanya baris demi baris. Jadi, kadang-kadang kalau pas baca kebawa ngelamun yang lain sering hilang jejak siapa yang bicara.

Di balik keindahan bertutur, tersimpan kengerian yang semakin pekat dari halaman ke halaman. Jujur aja, aku senang setiap kali berhenti baca. Aku ngeliat ke sekelilingku dan ngerasa: ‘ya ampun, hidup gue lebih baik meski kusut semrawut!’. Mungkin yang seperti itu suatu hari akan terjadi. Akan tetapi, kesusahan dan kengerian bisa dilawan dengan perasaan memiliki dan ingin melindungi sosok yang disayangi. Cinta adalah turunan dari insting bertahan hidup dan itu bisa menjadi kuat untuk melawan apapun. Apapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s