film

Boogie Nights

boogie nights

Jangan terkecoh dengan kepornoan film ini. Memang bertema tentang industri pornografi dan di dalamnya ada beberapa adegan nudity. Akan tetapi, ceritanya jauh jauh lebih kaya dibanding itu. Boogie Nights kayak semacam surat cinta Paul Thomas Anderson ke kampung halamannya, San Fernando Valley. Juga, menurutku yang paling personal dari film-filmnya yang lain.

Dalam industri pornografi, begitu banyak orang yang terlibat. Kita ngeliatnya di film ini, seorang bintang muda, seorang aktris berbakat yang harus hilang kontak dengan anaknya, seorang aktris muda yang terpaksa keluar dari sekolah, seorang sutrada film dewasa yang membuat seni dan film eksotik! Itu hanya sedikit dari serangkaian cerita dalam Boogie Nights. Dan, setelah satu jam nonton, kamu akan ngerti kenapa film ini sama sekali bukan pornografi.

Plot utamanya mengikuti kisah Eddie Adams, pemuda yang bekerja di sebuah klub malam dan bertemu dengan seorang produser film dewasa Jack Horner. Jack melihat potensi dalam Eddie dan menawarkannya kesempatan untuk bermain dalam film. And so it goes….

Banyak hal yang terjadi dalam film ini. Salah satu yang paling powerful di awal adalah pertengkaran Eddie dengan ibunya. Ini kali pertama kamu akan yakin kalau Boogie Nights bukan sekadar seperti apa yang kelihatan, tetapi jauh mendasar dari itu yaitu tentang keluarga.

Eddie yang kemudian mengubah namanya menjadi Dirk Diggler pun menemukan keluarga baru, teman-temannya di industri yang dia geluti. Dia jadi bintang muda berbakat dan mendapatkan berbagai awards. Puncaknya ketika dia dan Jack berkolaborasi untuk film, ya full feature tentang Brock Landers yang bahkan sukses sampai seri ketujuh, Brock Landers VII: Oral Majesty. Dua kali nonton dan masih aja ngakak baca judul itu.

Bukan kesuksesan dan ketenaran namanya kalau nggak punya sisi lain. Dimulai dari malah tahun baru. Bukan hanya bagi Dirk, tetapi semua karakter dalam film ini. Pesta tahun baru yang tragis itu mengawali bagian kedua dari Boogie Nights.

Lagi, lagi, banyak hal terjadi. Yang buruk bertambah buruk. Dan pada satu titik bikin kamu sadar jika mereka, orang-orang yang kerja di industri tersebut hanya manusia biasa kayak yang lain. Yang cari penghasilan dari sana. Yang pengin bikin seni. Mereka yang ngelakuin apa yang mereka bisa, yang mereka berbakat di bidang itu.

Meskipun ceritanya bertambah kelam, PTA tetap mengemasnya khas ala PTA banget. Adegan klimaks yang luar biasa, luar biasa keren, sekaligus ganjil, dan nggak terduga. Mungkin kali pertama nonton, atau ketika belum kenal PTA, kamu bakal mengernyitkan dahi. Akan tetapi, setelah itu, usai filmnya kamu akan mikir… apa yang terjadi di belakang itu mungkin, apa yang terjadi di belakang itu sesuai dengan apa yang udah Dirk Diggler perbuat. Semacam, dunia nggak akan menghukum kesalahanmu melebih kemampuanmu.

Pada akhirnya, kembali lagi kepada inti dari cerita ini: pulang kepada orang-orang yang kausayangi. Mungkin banyak hal yang harus dikorbankan untuk sebuah pilihan, tapi selalu ada penggantinya. Mungkin banyak hal yang nggak bisa diganti, kadang-kadang kita harus kompromi dengan itu.  Dan hidup berlalu buat kita. Dan hidup berlalu buat Dirk. Ini satu cerita PTA dengan ending paling heartwarming.

boogienights

Menikmati Boogie Nights serasa membaca novel. Setiap adegan dipilih dan digarap dengan cermat. Kali pertama nonton mungkin banyak detail yang terlewatkan, kali kedua–semua kerasa lebih masuk akal dan banyak detail yang bikin ‘whoa, kok kemarin gue nggak lihat ini’. Salah satu detail yang aku suka banget ada di bagian akhir, di sebuah jalan raya, limo yang dinaiki Jack dan Rollergirl melintas–hilang dari kamera, mobil yang tadi ditumpangi Dirk ganti lewat dan hilang, terakhir kamera ngikutin sebuah mobil yang berbelok ke toko donat. Ini salah satu kekuatan visualisasi dan detail dari PTA.

Rollergirl adalah salah satu favoritku dari film ini. Dia kayak ikon dan sesuatu yang unik banget di antara semuanya. Selalu senang lihat dia seliwar-seliwer ke sana-sini. Kita nggak tahu cerita kenapa dia terus-terusan pakai sepatu roda, tapi itu nggak penting karena di bagian akhir, di salah satu adegan klimaks–respek kita ke dia akan tumbuh. Setiap orang punya masa lalu. Setiap orang ingin berubah jadi lebih baik. Setiap orang punya pilihan.

Satu lagi yang bikin aku suka banget dengan Boogie Nights adalah subplot tentang Little Bill, salah satu karakter pendukung dan tim dari produksi film porno Jack. Adegan yang murni punya dia paling hanya tiga atau empat scene. Akan tetapi, setiap scene selalu khas dan ikonik. Selalu dia nemuin istrinya lagi ditidurin oleh laki-laki lain. Sekali, dua kali, tiga kali. Yang terakhir, jadi salah satu adegan paling mengagumkan dari film ini. Pesta tahun baru, dua menit sebelum pergantian tahun, kamera ngikutin Little Bill dari belakang. Dia lewat keramaian dan orang-orang, berbelok ke sebuah kamar di mana dia lihat istrinya dengan orang lain. Kamera masih ngikutin dia keluar, ke mobil. Ini adegan yang luar biasa. PTA menceritakan kemarahan dan frustasi tanpa dialog, hanya ekspresi aktor dan aksi. Tragis. Indah.

PTA di lokasi syuting Boogie Nights.

 

Bukan hanya adegan di atas yang jadi steadicam shot ikonik. PTA banyak pakai itu untuk film ini. Namun, satu lagi yang benar-benar keren adalah adegan pembukanya. Cara PTA membuka cerita memperkenalkan karakter-karakternya… keren banget! Lagu yang enak, situasi klub malam yang kerasa banget. Kamu serasa ada di sana, muterin klub malam itu dan ngelihat siapa aja yang ada di sana. Dan PTA bikin film ini ketika umurnya masih 26 tahun. Ya.

Boogie Nights yang dirilis tahun 1997 adalah film kedua dari PTA. Berdurasi dua jam lebih, tapi nggak akan bikin kamu bosan. Kamu tahu betapa dia ngerti apa yang dia ceritain. Kayak aku bilang di atas tadi, Boogie Nights mungkin jadi sesuatu yang personal banget ke PTA. Karakter Jack yang terinspirasi dari ayahnya sendiri, adegan Eddie dan ibunya yang terinpirasi dari ibu PTA sendiri, dan San Fernando Valley yang memang pusat industri pornografi serta tempat PTA tumbuh besar. PTA selalu menyenangkan menceritakan sesuatu, Boogie Nights adalah salah satu buktinya.

Kalau kamu sudah nonton, sudah baca review ini dan masih haus tentang Boogie Nights, Grantland bikin sebuah features yang menarik banget tentang sejarah pembuatan Boogie Nights. Ngebayangin PTA yang diomelin Burt Reynolds (pemeran Jack Horner) itu bikin cekikikan. Atau kalau masih nggak cukup juga, nonton video interview PTA tahun 1998, dia ngomongin Boogie Nights, pornografi, dan film sambil makan pizza. Yap, serius, sambil makan pizza ketika interview.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s