film

There Will Be Blood

there will be blood

There Will Be Blood disebut-sebut sebagai karya terbaik dari Paul Thomas Anderson. Film kelimat dari PTA ini berhasil mengantarkan Daniel Day-Lewis memenangkan nominasi aktor terbaik di Oscar 2008. Yap, setelah lima tahun berlalu sejak Punch-Drunk Love, PTA akhirnya kembali lagi dengan film ini.

Dibanding dengan karya-karya sebelumnya, film ini kerasa beda banget. Aku rindu neon berkilauan, lagu yang enak diajak nyanyi, dan warna-warni beragam. Semua itu nggak ditemukan di film yang ceritanya paling serius di antara lainnya. Meski begitu, film ini masih membawa ciri khas dari cerita yang sudah-sudah, hubungan ayah-anak, karakter yang nggak bisa dipercaya, dan berbagai adegan ganjil lainnya.

Diadaptasi lepas dari novel ‘Oil’ karya Upton Sinclair, There Will Be Blood berpusat pada kisah Daniel Plainview. Dia seorang penambang perak yang berhasil berkutat dengan minyak. Kesuksesannya dimulai dari kedatangan Paul Sunday yang menawarkan lahan di Little Boston. Daniel membawa serta anaknya, H.W., mengunjungi tempat tersebut. Benar saja, tempat itu yang bagai lautan minyak, langsung dibeli olehnya.

Meski begitu semua tak berjalan mudah. Kelompok religius yang dipimpin oleh saudara Paul, Eli Sunday. Dia meminta Daniel untuk jadi bagian dari gerejanya, turut membangun dan meminta sumbangan. Ketika kejadian demi kejadian buruk mulai menimpa Daniel dan usahanya, Eli menyalahkan Daniel yang dianggap tak mendapat restu.

Hubungan Daniel dan H.W. serta Daniel dan Eli adalah alur utama dari There Will Be Blood. Sejak bayi, Daniel sudah membawa H.W. untuk menambang. Namun, kejadian yang menimpa H.W. di ladang minyak baru mereka, membuat hubungan ayah anak ini berubah. Daniel yang keras hati, kelihatan kecewa dan patah hati. Adegan-adegan antara Daniel dan H.W. digarap dengan begitu indah, meskipun nggak banyak dialog antara mereka.

Dua yang paling aku ingat adalah ketika insiden di sumur, Daniel lari-lari bawa H.W., kemudian sumurnya meledak. Daniel bingung antara menjaga anaknya atau lari menyelamatkan sumur. Itu adegan yang juara banget. Selain, ketika H.W. membakar pondokan mereka, Daniel ngejar H.W.. Aku kira semua adegan Daniel dan H.W. begitu puitis dan berakhir tragis.

Sejak awal, PTA menulis ini untuk jadi tragedi. Bagaimana kesuksesan dan popularitas bisa menjadi sumber ketakutan. Daniel bilang tak ingin punya kompetitor. Daniel bilang nggak pernah percaya pada siapapun. Hal itu kelihatan banget ketika datang seorang yang mengaku adik tirinya. Ketika ternyata Daniel tahu apa yang sebenarnya….

Sama halnya dengan Daniel dan Eli. Hubungan mereka yang aneh. Kompetitif dan selalu berusaha membalas satu sama lain. Adegan demi adegan yang dirangkai begitu apik. Kerasa banget ketidaksukaan satu sama lain. Dan di klimaks, itu sesuatu yang ganjil, tapi begitu powerful.

Ketika kali pertama nonton, film ini ninggalin aku dengan perasaan yang aneh. Aku kagum dengan ceritanya. Akan tetapi, rasanya kayak ada yang ngeganjel. Aku mikir kenapa PTA nulis karakter Daniel Plainview seperti itu?

there will be blood 2

PTA di lokasi syuting There Will Be Blood

Daniel Plainview adalah salah satu karakter terbaik dari film-film yang pernah aku tonton. Ditulis dengan bagus banget. Diperanin oleh Daniel Day-Lewis dengan luas biasa. Aku ngerti pilihan-pilihannya, tapi aku ngerasa antara aku dan si karakter itu ada jarak. Aku iba dengan kekeraskepalaannya, tetapi aku nggak bisa benar-benar simpati.

Buatku, Daniel Plainview adalah sebuah studi karakter. Reaksinya ke segala event yang terjadi konsisten, sekaligus makin meningkat level ’emosi’-nya setiap saat. Kerasa nggak ada yang berubah dari dia, tapi semua orang dan segala hal di sekitarnya berubah. Aku kagum aja PTA bisa nulis karakter kayak gitu (untuk filmnya).

Film ini memang kuat hampir di setiap bagian-bagiannya, dari cerita, karakter, soundtrack, sinematografi. Kerasa kalau ini lebih dewasa banget dibanding film PTA yang sudah-sudah. Semacam kayak diajak ngeliat sisi gelap kehidupan, tapi kali ini nggak pakai bercanda. Jelas apa maunya. Jelas apa ceritanya.

Di antara film-film lainnya, There Will Be Blood adalah karya PTA yang paling nggak klik sama aku. Kerasa asing dan canggung. Berasa beda hubungannya sama aku dan film-film PTA lainnya yang cenderung absurd tapi menyenangkan. Namun, justru dengan perbedaan dengan film-film sebelumnya, membuktikan kalau PTA memang berbakat untuk mengeksplorasi genre yang belum pernah disentuhnya. Serta tentunya, menempatkan dia sebagai salah satu sutradara terbaik yang ada sekarang. Bravo, Mr. Anderson. Bravo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s