buku

Ready Player One

ready player one - adit

Novel scifi ini udah masuk daftar bacaku sejak tahun 2013, tapi baru kesampaian baca sekarang. Diingetin lagi ketika akhir tahun lalu rame-rame diwartakan Christopher Nolan ditawari untuk menggawangi adaptasinya. Langsung deh buru-buru baca dan ternyata: seru banget!

Kalau suka GAME, musik, film, serial, dan komik… pokoknya pop culture yang berkaitan sama scifi dan fantasi, aku rekomendasiin banget novel ini. Dari game Pac-Man sampai Dungeons and Dragons, dari Heathers sampai Blade Runner, dari Arthur C. Clarke sampai Quentin Tarantino! Terutama kalau kamu besar di tahun 80-an (sampai awal 90-an) pasti cengar-cengir baca novel ini.

Padahal, setting cerita ini sendiri di tahun 2044. Terus, apa hubungannya dengan pop-culture tahun 80-an? Wihii, jadi novel ini sebenarnya mengisahkan tentang treasure hunt–perburuan harta, sebenernya warisan milik James Halliday. Beliau adalah founder dari OASIS, sebuah video game berbasis virtual reality yang jadi semacam, mungkin kayak internet jaman sekarang. Hanya saja OASIS, tadi bentunya virtual reality, kita bisa berinteraksi di dalamnya dengan bantuan kaca mata dan sarung tangan khusus. Halliday yang nggak punya keturunan bikin semacam treasure hunt, nah semua clue ada di buku harian Halliday. Halliday yang besar tahun 80-an.

Jadi, mendadak ketika games itu dimulai, budaya tahun 80-an kembali hidup di dunia. Karena siapa sih yang nggak mau harta Halliday yang berlimpah itu? Nah, salah satunya adalah Wade atau di OASIS dikenal dengan Parzival. Nah, Parzival ini yang nemuin kunci pertama dari treasure hunt itu setelah lima tahun sejak dimulai. Namun, ternyata nemuin kunci itu awal dari segala kesenangan dan petaka buat Parzival.

Sepanjang perjalanan untuk cari kunci yang lainnya, dia harus bersaing dengan teman dekatnya sendiri. Diancam dibunuh. Sampai harus melawan sekelompok pihak swasta yang mau mengubah OASIS yang tadinya bisa diakses bebas menjadi berbayar. Memang cuma game, tapi taruhannya ternyata lebih dari sekadar mati di dalam game tersebut.

Aku nggak bisa berhenti baca sejak mulai. Temponya yang cepat, bikin aku juga bacanya jadi cepat. Tegangnya yang nggak berhenti-henti bikin gemes banget. Pengen cepet tahu apa yang terjadi di akhir. Padahal, aku pesen buku ini cukup lama nunggunya, tapi bacanya kilat banget. Sebel deh, hehe.

Karena setting yang dibangun nggak jauh dari masa sekarang, aku merasa yang dibangun Ernest Cline dalam kisah ini menyentil banget. Apalagi setelah bulan lalu Microsoft ngerilis Hololens, tinggal nunggu produksi haptic gloves, dan yaaa… selamat datang di era hologram (dan virtual reality!). Meski ceritanya kebanyakan berlatar di OASIS yang juga sangat mengagumkan, tapi detail dunia nyata, bumi, pun nggak ketinggalan diceritakan. Tentu aja, waktu itu terjadi krisis bahan bakar, kemiskinan meningkat, dan akhirnya orang-orang pun senang melarikan diri ke OASIS. Aku inget kata salah satu founder OASIS, kalau dia pisah dengan Halliday, karena merasa OASIS adalah bentuk penjara yang lain.

Di OASIS sendiri, gamenya bukan sekadar main tembak-tembakan. Setiap clue yang dikasih mengacu ke pop culture 80-an. Paling seru sih kalau game yang masuk ke film gitu dan main jadi pemerannya. Haha.

Selain seru-seru yang fun tadi. Banyak hal yang bisa dicungkili dari cerita ini. Karena sesunggungnya, menurutku sih ceritanya tragedi banget. Dari karakternya sendiri yang ditinggal ibunya meninggal dari kecil, orang-orang yang merasa nggak puas di dunia nyata dan bisa jadi apapun di OASIS, ketika orang-orang milih virtual reality dan mengabaikan sekitarnya, struktur dunia baru di OASIS, pokoknya banyak banget. Akan tetapi, semua tragedi, hal-hal yang dark dan gritty tadi dikemas dengan seru.

Aku sendiri banyak familier dengan pop culture di dalam novel ini, jadi aku menikmati banget sih. Memang ada beberapa pop culture yang terlalu dieksposisi (terutama buat yang ngerti). Mungkin karena sasaran pembacanya Young Adult/remaja yang memang nggak besar di tahun 80-an.

Novel ini memang remaja sih, cuma ceritanya sama sekali nggak menye-menye apalagi fokus sama cinta. Aku kadang ngerasa beberapa karakter kurang dikembangin karena memang porsinya habis untuk ngejelasin pop culture dan setting. Juga, kalau suka tulisan yang banyak deskripsi, mungkin ini agak terlalu cepat temponya, meski kalimat-kalimat efektif banget sih.

Kalau menurutku, apakah cerita ini pantes diadaptasi sama Chris Nolan? Banyak yang jawab ‘nggak!’ karena nggak yakin Chris bisa mengemas seru-seruannya di dalam situ. Aku pribadi sih ngeliat cerita ini lebih ke tragedi yang memang cocok dengan selera Chris. Apalagi dia juga jadi remaja di tahun 80-an. Kenapa nggak? Ya, tadi, asal nggak ngilangin unsur fun yang memang pokok di dalam novelnya. Memang sih bukan Chris sendiri yang dapet tawaran, ada Robert Zemeckis, Edgar Wright, Peter Jackson, Matthew Vaughn. Scriptnya sendiri sih katanya udah selesai, aku harap cepat ada berita lanjutannya tentang itu. Meski bakal ada filmnya, kan belum tahu kapan, mendingan baca novelnya dulu. SERU BANGET!

One thought on “Ready Player One

  1. gara2 YA males belinya, gara2 baca ni review akhirnya beli jg dan ternyata… Bagussss!!!! seru dan romantis..apalagi pas art3mis dialog sm parzival.. alurnya cepet ky “all you need is kill” bacanya ga sampe seminggu, itu juga di toilet kantor sama di komuter serasa di oasis..wkk #jd pengen maen space invader lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s