buku

Sejoli

2015-01-09 10.44.44

Dua sahabat. Satu kisah tentang cinta diam-diam dan menyimpan rasa.

Dua dari banyak kalimat di blurb novel ini bikin aku… damn, pernah juga ngalamin kayak gitu. Rasanya enak tapi juga nggak enak. Hehe.

Dua kalimat tersebut pun mewakili banget cerita yang ditulis Wangi Mutiara Susilo dalam novel perdananya yang diterbitkan oleh Sekata Media. Kisah tentang Rayya dan Kenya yang sahabat dekat, saling ngerti satu sama lain, yang nemuin kenyamanan pada kebersamaan mereka. Sayangnya keduanya terlalu takut untuk menghadapi perasaan yang sesungguhnya. Terlalu banyak cemas dan prasangkan yang malah membuat hubungan yang tadinya bak kopi dan air panas jadi ambyaaar.

“Have you ever read an old history chat and then suddenly you miss someone so badly until it hurts?” – Rayya

Sedih ya? Iya. Mereka nggak ketemu lagi. Jadi berjarak. Dan itu yang terjadi kepada kebanyakan orang. Padahal hanya butuh jujur aja dan mau mengalah.

Setelah perpisahan itu, Rayya dan Kenya pun move on. Mencoba mengisi hati yang kosong dengan hal-hal lain. Akan tetapi, tetap aja… sesuatu yang istimewa dan hilang akan bisa dicari gantinya.

Bagaimana dekatnya mereka berdua diceritain dengan manis dan bikin iri banget di awal. Dengan dialog yang ngalir lancar dan quotable, bikin chemistry keduanya hidup. Setiap orang pengin punya sosok yang sepeduli dan sepengertian itu. Nggak semua orang bisa dapet, mungkin karena nggak semua orang menyadari ada orang yang begitu berharga di dekatnya.

“Why on earth you can’t be with someone that you love? Or if you both love each other, there are always some things that won’t love you be happily ever after?” – Rayya

Setelah perpisahan, tempo ceritanya langsung naik cepat. Wuss… wuss…. Pembaca diajak mengikuti petualangan Rayya dan beberapa cowok lain (yang menurut dia nggak ada yang menyamai okenya Kenya, hihi). Sayangnya di bagian ini, benar-benar terlalu cepat. Rayya dan Kenya bergantian ditampilkan. Juga cowok-cowok itu, yang kerasa singkat banget munculnya tanpa sempat pembaca kenal dekat dengan mereka dengan ngerasain bagaimana perjuangan Rayya melupakan Kenya.

Kutipan yang kuambil memang banyak bahasa Inggrisnya. Berhubung latar ceritanya di Jakarta dan karakternya semua orang-orang urban, mereka cass ciss cuss pakai English.

Pada beberapa bagian, ada font yang terlalu kecil-kecil banget dan agak mengganggu pas baca. Kayaknya sih disesuaikan dengan ukuran bukunya yang memang kecil, asik diajak jalan-jalan, dan bisa habis dalam sekali duduk.

Jadi, gimana tadi kelanjutan hubunganku dengan sahabatku? Meski nggak setragis Rayya dan Kenya, akhirnya aku dan sahabatku jalan sendiri-sendiri sih, selain terpisah ruang dan waktu (eeaaaa). Dia pun menemukan tambatan hatinya sendiri. Akan tetapi ya, kedekatan yang dulu kini nggak bisa terulang lagi. Persis kayak isi hati Rayya, “That’s life. If you lose friend, you grow up eventually. You move on, continuing your life.”

Meski begitu, hidup memang terus berjalan. Buatku. Buat Rayya. Buat Kenya. Jatuh cinta memang menyenangkan. Mencintai bisa indah sekaligus menakutkan. Dan perpisahan… menyakitkan, namun tidak ada yang bisa mencegahnya karena kadang itu memang harus terjadi. Sehabis itu, pasti akan ada pertemuan lain yang menunggu kok. Jangan takut untuk jatuh cinta lagi.

“Let me tell you the scary part of being in love. It is when it comes to an end. But somehow, you’ll realize that it’s actually won’t be that scary.” – Rayya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s