buku / film

The Godfather

The Godfather, terjemahan GPU tahun 2011. Edisi pertamanya terbit tahun 1969.

Aku nonton film ini beberapa tahun yang lalu, teriming-imingi label klasik dan masterpiece, pas kesempatan itu datang aku nggak lewatkan. Sayangnya, waktu itu aku nggak mudeng ceritanya. Yang kuingat hanya adegan pesta pernikahan dan mobil yang meledak, keduanya pun samar-samar saja.

Sekian tahun berlalu, ingatanku ternyata nggak salah. Adegan pesta pernikahan itu memang jadi pembuka dalam cerita The Godfather. Nggak benar-benar yang terdepan sih. Karena sebelum masuk ke adegan pesta pernikahan, Don Corleone sedang bertemu Amerigo Bonasera. Bonasera yang seorang Italia dan bangga jadi warga Amerika Serikat. Sampai loyalitasnya dikhianati oleh hukum AS. Dua bajingan yang akan memperkosa putrinya, hanya dihukum ringan. Karena itulah, Bonasera menghadap kepada Godfather.

The Godfather mengungkit Bonasera yang selama ini nggak pernah menemuinya atau mengajak minum teh. Sekarang tiba-tiba datang minta bantuan. Karena itu hari pernikahan putri Don Corleone, sesuai tradisi Sisilia, dia nggak bisa menolak permintaan kerabat. Don pun menerima permintaan Bonasera untuk ‘memberi pelajaran’ kepada bajingan tengik asalkan Bonasera mau menjadi ‘teman’-nya.

Adegan itu begitu kuat sebagai pembuka. Pembaca dibuat jatuh kagum sekaligus takut kepada Don Corleone, sekaligus memperlihatkan kalau Don adalah sosok yang tangguh, lembut, penuh perhitungan, dan pokoknya pemimpin banget deh. Dari awal itu, pembaca udah dibuat bertanya-tanya, kira-kira nanti apa yang mau diminta Don kepada Bonasera yang seorang perias jenazah?

The godfather

Don Corleone dalam film The Godfather (1972) arahan Francis Ford Coppola. Coppola dan Puzo mendapatkan Oscar untuk adaptasi terbaik.

Situasi misterius dan tegang yang sama dipertahankan Mario Puzo sampai ke akhir cerita. Meskipun membaca The Godfather seolah merunut sejarah Don Corleone pada salah satu masa kepemimpinannya, kepiawaian Puzo menyelipkan flashback serta memotong adegan sehingga bikin penasaran bikin gemes dan nggak bisa berhenti bacanya.

Don Corleone punya empat orang anak Santino ‘Sonny’, Fredo ‘Freddy’, Michael, dan Connie. Pernikahan tadi adalah pernikahan Connie dan Carlo. Semua karakter utama muncul di sana, termasuk Consiglieri (penasehat) Don, Tom Hagen (yang bukan orang Italia), Johnny Fontane (anak baptis Don), serta Tessio dan Clemenza, keduanya adalah Caporegime (kapten) dari keluarga Corleone.

Fokus cerita ini berada pada kiprah Sonny dan Michael setelah ayah mereka ditembak gembong Solozzo. Solozzo meminta kepada Don untuk menjadi investor dalam usaha narkotik mereka. Meski untungnya besar. Don yang selalu ngasih tawaran yang nggak bisa ditolak kepada orang lain, kali ini harus menolak pemintaan Solozzo. Dia nggak suka bisnis narkoba karena merusak moral, dilarang gereja, dan bisa merusak hubungannya dengan para hakim juga senator. Penolakan itulah yang berujung teror.

Sonny yang berwatak keras dan Michael yang tenang serta terpelajar. Sonny mengumumkan perang kepada keluarga lain. Merobohkan situasi damai yang berhasil diciptakan ayahnya. Banyak yang mati. Bukan hanya dari keluarga lain, tapi juga keluarga Corleone.

Meski tahu sesuatu yang buruk pasti terjadi, tetap aja deg-degan pas baca. Aduh jangan dia! Aduh jangan si anu! Haha. Flash back yang dikasih, dari masa lalu Vito Corleone sebelum jadi Don, juga karakter-karakter lainnya, bikin aku walau tahu mereka udah pernah melakukan sesuatu yang keji, jadi tetap bersimpati.

Ini juga yang aku rasakan kepada Don Corleone. Ada satu adegan ketika dia mau membantu anak baptisnya, Johnny Fontane dapet peran di salah satu film. Si produser yang dibujuk Tom Hagen tetep emoh untuk ngasih. Akhirnya, jreeeeeng, pagi harinya si produser bangun bareng kepala kuda $600.000 kesayangannya. Hahaha. Pakai berani sih nolak tawaran Don Corleone.

Terlepas dari sadis dan tegasnya cara Don kepada orang-orang yang menolaknya. Beliau adalah sosok pemimpin yang baik, mau mendengarkan nasihat-nasihat orang lain, cerdik, cerdas, nggak gampang emosi, dan bijaksana. Beliau sangat memegang tradisi Italia, tidak bicara pekerjaan di meja makan, tidak menyeleweng, dan nggak mau berbisnis yang merugikan keluarga. Gimana beliau berstrategi untuk menaklukkan New York, itu keren. Di buku pun dipaparkan dengan jelas gimana beliau bersikap agar orang lain hormat kepadanya. Keren!

Dalam cerita ini juga digambarkan tentang tradisi Italia, Sisilia sih, yang ternyata nggak jauh beda dengan di Asia sini. Kalau ada hajat kumpul bareng keluarga, hormat kepada yang lebih tua, nggak melakukan seks sebelum menikah. Pada cerita yang berjalan dalam rentang yang panjang, diceritain gimana nilai-nilai itu udah mulai luntur di anak-anak Don sendiri.

Novelnya yang begitu kaya tentang kisah, detail, dan masa lalu, meski nggak semua bisa dirangkum dalam filmnya, apa yang aku tuturkan di atas hampir semunya bisa masuk. Banyak detail-detail kecil yang bikin pembaca bukunya ‘ngeh’ dan ngerasa cerita masa lalu yang nggak dimasukin tetap ada.

the-godfather-original-poster-1972

poster film The Godfather

Filmnya yang dirilis tahun 1972 memang ditulis juga oleh Mario Puzo dengan bantuan Francis Ford Coppola. Alurnya sama persis. Don diperankan oleh Marlon Brando dan Michael oleh Al Pacino (yang masih muda kinyis-kinyis!). Jadi, karena ceritanya masih segar banget di ingatanku, aku bisa merhatiin hal-hal lainnya. Kayak statue Oscar di nakar si produser Johnny Fontane, minyak olive oil ‘Genco’ di ruang rapat Don Corleone. Ada beberapa detail yang diubah, tapi nggak terlalu berefek.

Ada adegan favoritku di buku, ketika Puzo nyeritain kemunculan Bonasera lagi. Di bab sebelumnya, nggak ada cerita apa-apa. Tahu-tahu Bonasera ditelepon dan dianterin jenazah. Sementara itu, filmnya menggunakan alur maju, jadi editing adegan kayak di buku nggak diadaptasi. Di buku, adegan penyebabnya diceritakan kemudian, di film sebaliknya.

Karena filmnya nggak menyertakan flashback, alurnya jadi maju lurus. Namun, setiap bagian penting dari cerita novel bisa dikemas apik. Sehingga efeknya sama sih, tetap bikin simpati kepada protagonisnya, gemes, dan geregetan.

Ada tiga adegan favoritku dari film. Adegan pertama ketika Michael nengok ayahnya di rumah sakit. Adegan ini punya cinematografi apik, khas FFC (kayaknya gitu sih, karena aku lihat berulang kali dipakai di film ini). Kedua, pas montase setelah ayah/Don Corleone ditembak. Surat kabar, orang-orang mati, dan keluarga Corleone makan pasta berganti-gantian! Superb! Ketiga, ketika Don yang sudah pensiun ngobrol dengan Michael. Nggak ada yang istimewa sebenarnya, tapi posisi Michael dan Don yang yang berhadapan padahal nggak, bikin powerful banget. Bikin ngeliatnya tuh mereka bukan cuma ayah dan anak, tapi partner yang setara–sama-sama mengerikan, sama-sama penuh perhitungan, sama-sama orang yang kita nggak mau kena masalah!

Novel dan ending diakhiri sama. Meski di novel agak lebih panjang. Aku lebih suka ending di film, ketika beberapa rekan datang ke ruang kerja Don dan menyalami Michael, memanggilnya dengan ‘Don’. Sementara itu, kamera memperlihatkan itu dari lorong, dari balik tubuh Kay (istri Michael) yang kelihatan nrimo dan akhirnya mengerti.

Seperti Kay itu juga sih aku di akhir cerita. Mengerti apa yang mereka lakukan. Karena sepanjang buku udah dapet banyak cerita, bahkan pelajaran menghadapi orang dan taktik berperang! Ha! Filmnya sih lebih sederhana, akan tetapi, cukup banget untuk sebuah film. Pas. Bikin ngerti sepak terjang keluarga Corleone.

The Godfather ini salah satu cerita yang jangan sampai dilewatkan. Aku kasih rating 4,5 & 4,5 dari 5 untuk novel dan buku. Rotten Tomatoes ngasih rating 100% buat filmnya, sementara IMDb nggak pernah ngeluarin judul ini dari lima besar Top 250.

Ditulis untuk Reading Challenge of MFF February 2015.

2 thoughts on “The Godfather

  1. Terbalik. Aku udah baca bukunya beberapa tahun yang lalu tapi belum nonton filmnya, padahal filmnya udah ada di laptopku nyaris selama satu tahun🙂

    Sebenarnya ini yg bikin dilema kalau ceritanya terlalu bagus. Udah baca buku malas nonton filmnya. Udah nonton film malas baca bukunya.

    Kayak never let me go nih… aku punya buku dan filmnya. Menurut kamu enakan yang mana dulu? hehe…

    Kamu nonton Breaking Bad, kan? masih inget gak waktu Saul Goodman nyamperin Walter White dan ingin jadi pengacaranya?

    “Apa yang kau inginkan dariku?” tanya W.W.
    “Sama seperti apa yang dilakukan Tom Hagen pada Godfather….” (atau Saul manggilnya Don Corleone?). Lupa.

    NB: oh ya, udah tahu blom, si Saul punya film sendiri sekarang. Judulnya Better Call Saul🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s