buku

Spora

20150307_220642

Spora adalah slow-burn thriller. Alkadri menulis tentang kisah tentang terbunuhnya orang-orang dengan kepala hancur berkeping-keping yang dituturkan dari kacamata Alif, seorang murid SMA. Misteri dan horor yang dibangun dari clue yang dikasih sedikit demi sedikit. Dan jadi bikin pengin tahu siapa yang melakukannya dan apa yang sebenarnya terjadi.

Plot utamanya dimulai dari Alif yang datang ke sekolah dan menemukan mayat Pak Sudjarwo dengan kondisi seperti tadi. Akan tetapi, itu bukan yang pertama. Beberapa mayat dengan kondisi serupa juga ditemukan dan Alif kebetulan ada di sana. Dia menemukan mayat-mayat yang diduga dibunuh dengan shotgun itu (sumpah aku bayangin Quentin Tarantino ada di balik semua itu :)).) sambil mengenang sebuah ingatan nggak menyenangkan.

Petunjuk-petunjuk tadi disamarkan dengan dinamika hubungan Alif dan Rina serta Fiona. Yang aku merasa di awal porsinya terlalu banyak dan tersebar, sehingga clue sebenarnya hanya secuil-cuil aja. Ketika aku mulai suka kedua gadis tersebut… bersamaan dengan rahasia kenapa kepala-kepala itu meledak.

Di antara bab terdapat semacam cerita singkat tentang Leprechaun dan emasnya. Kalian pasti pernah dengar kan, tentang emas di ujung pelangi? Yang entah mengapa buat aku malah bikin memecah konsentrasi baca. Terlebih pas ada satu halaman isinya kutipan dari bab selanjutnya, awalnya kukira itu awal bab baru, ternyata bukan, dan langsung meleleh lagi tegang yang aku punya. Haha.

Namun cerita Leprechaun tadi bukan sekadar hiasan aja. Dongeng tersebut adalah clue… kalau mungkin di ujung pelangi, bukan emas, alih-alih monster. Label di sampul buku yang bilang ini adalah kisah horror plus halusinasi yang Alif alami setelah melihat sebuah kepala meledak di depannya, bikin aku hampir percaya. Akan tetapi, harusnya aku lebih percaya sama judulnya, Spora.

Twist! Aku nggak nyangka akan dibawa ke sana. Kepada ‘itu’. Clue cairan lengket dan cerita tentang anak KIR yang nemuin tas misterius masih kurang gereget buat aku. Meski memang novel ini fokusnya ke elemen horor, gimana ‘itu’ hanya disebut sekali. Yep, sekali dengan penjelasan seadanya, bikin pengungkapan ini jadi kurang nendang. Aku ngerasa potensi si ‘itu’ sebagai pembunuh dan monster alami yang mengerikan kurang tergali dan dikembangkan. Untungnya sebelum ini aku udah pernah berinteraksi dengan sejenisnya ketika baca The Girl with All The Gifts (salah satu novel sci-fi favorit yang kubaca tahun lalu) dan sedikit banyak dengar tentang game The Last of Us (yang kayaknya inspirasi cerita Spora ini).

Bagian sepertiga akhir, ketegangan novel ini cukup asik. Temponya jadi agak cepat dengan nggak terlalu banyak chit-chat kayak di bagian depan. Beberapa hal nggak kuduga terjadi di klimaks cerita. Agak kaget dan bertanya-tanya kenapa melakukan itu… tapi ya. Di awal cerita ini dibuka dengan sekelompok anak KIR yang baru pulang dari Brazil. Di akhir, cerita ini ditutup oleh seorang polisi yang melihat jenazah seseorang diangkut dari sebuah rumah besar. Dan aku nggak akan kasih tahu siapa itu. Temukan sendiri jawabannya dengan baca bukunya!😀

2 thoughts on “Spora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s