buku

Januari Flashback

flashback

Januari Flashback adalah novel kolaborasi tiga penulis perempuan, yaitu Petronela Putri, Cherry Zhang, dan Pia Devina. Dengan kover yang merah menyala dan ilustrasi lubang terjangan peluru di sana, sedikit banyak bisa ditebak kalau kisah ini… mungkin sesuatu yang berdarah.

Yup, banyak darah dalam novel yang ditulis dari sudut pandang tiga karakter utamanya ini. Arumi, Era, dan Alana, ketiganya berhubungan karena orang tua mereka dulunya adalah satu kelompok permainan dan cukup dekat. Namun, hubungan Arumi dan Era yang lengket, berkebalikan dengan Arumi dan Alana yang sama sekali tidak akrab. Akan tetapi, setelah kematian ayah Arumi dan kedatangan paket-paket ‘berdarah’, mau tidak mau mereka harus saling berhubungan, saling menjaga satu sama lain.

Mereka pun melaporkan kejadian itu ke polisi dan kasus mereka ditangani polisi muda tampan gagah bernama Gara (pas baca aku kepikiran si Gaara di Naruto, haha). Kehadiran Gara ternyata mengusik ketiganya. Meski dengan adanya Gara, pelaku pembunuhan berhasil terungkap, tapi teror belum berhenti sampai di sana.

Ya… sampai ada darah yang tumpah lagi.

Flashback bermain dengan misteri. Dari awal hingga tengah cerita, ketiga penulisnya yang masing-masing mewakili satu karakter, menyebar clue siapa pembunuh dan pelaku pengiriman paket misterius. Setelah sebuah titik balik di bagian tengah, naratif ‘whodunit’ yang ditawarkan di awal bergeser menjadi bagaimana si karakter menghadapi situasi tersebut.

Mungkin ada yang menganggap perubahan tersebut sebagai twist. Akan tetapi, titik itu bukan hanya membeberkan siapa pelakunya dan mengapa, tetapi mempengaruhi keseluruhan cerita. Fokus awal yang tadinya pada Arumi, bergeser kepada Alana. Juga kecepatan ceritanya pun berubah, awalnya yang lambat dan berhasil membangun misteri, mendadak jadi begitu cepat dan tergesa-gesa. Aku menikmati membaca seratus halaman awal, tapi sisanya terlalu banyak hal dijejalkan untuk menjawab misteri-misteri di depan yang disebar pelan-pelan.

Misteri-misteri di depan, bukan hanya soal pembunuhan, tetapi hubungan personal antara satu sama lain. Antara karakter dan keluarganya, antara karakter dan karakter lain. Sebab menggunakan tiga sudut pandang, misteri dan subplot pribadi karakter tersebut terasa kurang berkembang. Terlalu banyak ‘tell‘, utamanya pada bagian setting cerita yang menyebutkan kalau mereka adalah kaum jetset, tapi kurang gereget jetsetnya.

Terlepas dari detail-detail yang terlalu padat, kisah dalam Flashback cukup seru untuk diikuti. Penulis-penulisnya tidak segan-segan mendeskripsikan adegan sadis dan brutal. Juga tidak takut menjadikan cinta dan uang sebagai sesuatu yang benih dendam yang tak akan usai sebelum terbalas.

Kisah dalam novel ini bakal membuatmu ikut mengernyit dan mual membayangkan isi dari paket-paket misterius itu. Membuatmu bertanya-tanya kalau ada di posisi mereka dan menemukan rahasia lama orang tua mereka yang berbuah dendam yang harus anak-anaknya tanggung. Memang bukan cerita yang happy ending, tetapi seringkali kenyataan memang sesadis itu.

2 thoughts on “Januari Flashback

  1. Pingback: Teror Awal | Kopilovie Official

  2. Pingback: Masih Menunggu… | Kopilovie Official

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s