buku

Madame Bovary

madame bovary - tia

Saat sampai di kalimat terakhir novel romansa klasik ini, aku terpikir oleh sebuah lagu lama kontroversial dari Desy Ratnasari. Kontroversial karena di dalam liriknya terdapat lirik ‘takdir memang kejam….’. Waktu itu aku masih kecil, tapi ingat kalau lirik tersebut dikecam dan akhirnya diganti.

Tapi seperti itulah juga yang dirasakan oleh Emma Rouault yang kemudian lebih dikenal dengan nama Madame Bovary setelah menikah dengan Charles Bovary. Ada penyesalan mendalam setelah dia menikah dengan dokter muda dan cukup sukses karena selalu takut pasiennya akan mati. Bagi Emma yang ketika gadisnya punya cita-cita tinggi, tertarik kepada seni, dan ingin tinggal di Paris, pernikahannya dengan Charles menjadi semacam penjara yang kemudian mengurung mimpi-mimpi Emma.

Pelan-pelan, di desa kecil tempat tinggal, dia berhenti melakukan hal-hal kesukaannya seperti melukis dan menjahit. Hidupnya terasa kelabu. Hingga dia bertemu dengan Leon, seorang juru tulis muda. Hidup Emma kembali penuh antusiasme dan gairah….

Sekilas dari potongan plot yang aku tulis di atas, mungkin bakal banyak yang menilai kalau cerita tersebut adalah konflik klasik perselingkuhan. Ya, itu benar, karena memang novel ini pertama diterbitkan tahun 1856. Akan tetapi, bagiku sendiri, aku bisa mengerti Emma dan alasannya untuk menjalin hubungan dengan pria lain. Emma yang penuh mimpi-mimpi dipertemukan dengan Charles yang tak punya ambisi. Dia menyesali pernikahannya sendiri yang dia kira akan bahagia, meskipun pernikahan itu sama sekali bukan tanpa paksaan.

Charles sendiri sungguh bahagia bertemu Emma. Ada kebahagiaan yang tidak dia temukan dari pernikahan sebelumnya dengan janda berusia 45 tahun. Charles yang diminta menikah agar bisa mendapatkan hartanya, tapi ternyata oleh si janda sudah dijual. Itu adalah satu hal yang bikin nggak bisa untuk membenci pria malang tersebut.

Novel ini diawali dari cerita Charles dan masa kecilnya. Bagaimana orang tuanya penuh harapan Charles bisa menjadi orang besar dan terus mendorongnya untuk itu. Setelah pernikahannya dengan Emma. Sudut pandang cerita, yang melaui sudut pandang orang ketiga, berubah fokusnya ke Emma. Sehingga, detail-detail perasaan Emma yang depresi bisa terlihat dan terasa jelas.

Tak ada kata depresi yang tertulis di dalam novel ini. Akan tetapi, bagaimana perilaku Emma yang mulai berhenti melakukan hal-hal yang tadinya dia senangi, perasaannya hampa dan kosong, mulai mengenyahkan kesedihannya dengan belanja gaun indah, hingga ketika dia akhirnya memiliki anak, dia pun kentara enggan mengurusnya. Dia mengeluhkan hidupnya yang tak semanis novel-novel cinta yang dibacanya!

Salah satu hal menarik dari Emma adalah sudut pandangnya tentang perempuan. Ketika dia tahu kalau dia melahirkan anak perempuan, Emma langsung pingsan. Baginya, menjadi perempuan di masa itu (pun masih di masa sekarang) selalu hidup dibatasi, dianggap lemah, dan berganting secara finansial. Juga, mustahil untuk menuntut kebebasan perempuan di masa itu.

Di bagian akhir cerita, Emma akhirnya mendapatkan kebebasan finansial yang dia inginkan. Setiap kali merasa sedih dan patah hati, dia akan berberlanja. Termasuk membelikan barang-barang mahal kepada kekasih-kekasih gelapnya. Kebiasaan buruk Emma itu pun akhirnya berujung bencana, bukan hanya untuk dia tapi juga keluarganya. Gustave Flaubert menutup cerita Emma dengan menulis: ‘Sungguh akhir yang sangat tragis, dan semuanya karena takdir.’

Aku nggak mengharapkan ending yang bahagia ketika mulai membaca. Aku malah merasa apa yang terjadi kepada Emma di akhir memang pantas dia dapatkan karena itu akumulasi dari kesalahan-kesalahannya, yang semestinya bisa dihindari sejak awal!

Apa yang terjadi kepada Emma adalah sesuatu yang nggak asing. Perempuan yang terjebak dalam mimpi-mimpi, dia berusaha mengubah itu, namun malah mengabaikan realitas yang ada. Padahal, gadis sepintar Emma, harusnya lebih bisa menghadapi kehidupan yang dijalaninya (yang bahkan jauh lebih baik dari kebanyakan orang di masa itu).

Ini kali pertama kau baca karya Gustave Flaubert dan rasanya belum punya sesuatu untuk disampaikan ke beliau. Apalagi aku baca ini karena salah satu karakter yang sedang kutulis membaca buku ini, hehe. Tapi, buku ini aku rekomendasikan banget untuk perempuan. Isinya bagus. Terjemahan yang diterbitkan penerbit Narasi pun enak dibaca. Madame Bovary ini juga bisa diunduh gratis juga di gutenbergย dalam versi Inggris atau bahasa aslinya, Prancis. Dan tahun ini, film versi adaptasinya yang paling terbaru akan rilis lho.๐Ÿ˜€

5 thoughts on “Madame Bovary

    • Bulan lalu aku beli di Gramedia GI, Jakarta, Fifi. Mungkin di Gramedia lain juga ada, kayaknya terbitan baru kok.๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s