buku

Ancillary Justice (Imperial Radch #1)

20150331_102711

Aku sudah pengin baca novel ini sejak buzz yang kencang banget tahun lalu. Apalagi setelah novel debut dari Ann Leckie ini memenangkan sederet penghargaan dari Hugo, Nebula, Arthur C. Clarke, dan lain-lain. Semua orang membicarakan buku ini dan aku… aku merasa ketinggalan. Tahun ini, ketika semua sedang menunggu dengan antusias bagian ketiganya Ancillary Mercy (Imperial Radch #3), aku baru baca yang pertama.

Tapi, nggak apa-apa. Aku sudah bertekad akan baca Ancillary Sword (Imperial Radch #2) dalam waktu dekat! Supergeregetan ketika menyelesaikan bagian pertamanya!

Ancillary Justice dituturkan dari sudut pandang pertama karakter bernama Breq. Meski bentuknya manusia, dia sesunggungnya adalah AI. Lebih tepatnya, AI di sebuah kapal perang angkasa, Justice of Toren. Justice of Toren sendiri membawa pasukan, baik manusia atau pun Ancillary. Nah, Ancillary ini sering disebut juga ‘orang-orang mati‘. Dan Breq adalah salah satu segmen dari Justice of Toren dan ancillary. Tapi, kenapa ada Breq? Di mana Justice of Toren? Itu cuma satu pertanyaan yang dijawab perlahan-lahan dalam buku ini.

Pertemuan Breq dan Seivarden mengawali buku ini. Pada pertemuan itu ada banyak hal, terutama yang menonjol adalah setting yang dituturkan dengan baik dan kebimbangan Breq memilih kata-kata untuk lawan bicara. Ha! Bab pembuka tersebut adalah salah satu yang paling keren yang aku baca.

Dituturkan dengan pelan dan mendetail, kita diajak mengikuti perjalanan Breq yang akhirnya pun terungkap apa tujuannya. Kisah masa lalunya, dua puluh tahun lalu ketika Justice of Toren mengorbit di dekat Shi’surna dan One Esk Nineteen bertugas mengawal Liutenant Awn, diceritakan selang-seling di antara perjalanannya bersama Seivarden.

Breq selalu mengaku tidak tahu mengapa membawa Seivarden serta. Pun, aku sebagai pembaca jadi bertanya-tanya. Sebuah kejadian bikin hilang simpati kepada Seivarden, tetapi sikapnya yang berubah di sisa cerita bikin aku lama-lama menerima kehadiran dia. Apalagi dengan masa lalunya yang juga tidak menyenangkan, itu menjadi poin lain mengapa aku malah senang Seivarden menemani Breq.

Aku bisa saja cerita apa yang sebenarnya terjadi di buku ini. Tapi, tidak! Tidak! Petualangan Breq untuk membalas dendam adalah pengalaman yang menyenangkan diikuti secara langsung. Lanskap dan setting yang menarik menghidupkan cerita ini. Worldbuilding-nya mendetail, bukan hanya lanskap, bahasa, gaya berpakaian, senjata, sampai lagu-lagu.

Bahasa di sini yang perlu dibahas khusus. Ann Leckie tidak seperti penulis SFF lainnya yang dengan segenap usaha menciptakan bahasa sendiri. Di dalam novel ini ada bahasa Radchaai, Ors, dan banyak! Perbedaan tiap bahasa dituturkan Leckie lewat deskripsi. Lewat kebimbangan Breq ketika memilih kata sapaan dan ganti untuk laki-laki dan perempuan. Breq yang bahasa ibunya adalah Radchaai, tidak mengenal perbedaan kata ganti untuk laki-laki dan perempuan (mirip bahasa Indonesia). Implikasinya, hampir di sepanjang buku, semua orang (terutama ketika Breq bicara dalam Radchaai) dirujuk menggunakan ‘She‘ dan ‘Her‘.  Kupikir ini salah satu kekuatan dari novel AJ dan membuatnya memenangkan Hugo Awards.

Penggunaan kata ganti yang seragam awalnya memang bikin bingung dan kerasa ambigu. Lama-lama terbiasa juga sih. Untuk beberapa karakter, seperti Seivarden, ada kok penjelasan gendernya. Tapi, untuk sisa karakter lainnya, termasuk Breq, sampai akhir pun entah apa jenis kelaminnya. Kalau itu jadi masalah buat kamu, jangan baca buku ini.

Salah satu hal yang paling kusukai dan kukagumi dari buku ini adalah bagaimana Ann Leckie mengatur penggunaan sudut pandang. Memang pakai POV pertama, tetapi sebagai AI, Justice of Toren atau One Esk Nineteen (atau Breq) punya banyak mata, telinga, ingatan selama 2000 tahun. Ada satu adegan ketika Justice of Toren bicara kepada tiga orang yang berbeda: Liutenant Dariet, Captain Rubran, dan Anaander Mianaai. Jadi, satu adegan itu ganti-gantian Justice of Toren bicara kepada orang-orang yang ada di tempat berbeda itu. Itu keren dan seru banget!

Kisah Ancillary Justice berakhir di titik dimulainya perang. Breq diangkat menjadi citizen Radchaai dan mendapatkan kapal sendiri. Namun, tentu saja itu bukan akhir… tapi jadi awal sesuatu yang lebih besar dan aku sungguh penasaran untuk melanjutkan ke Ancillary Swords!

Leckie_AncillarySword_TP

Ancillary Sword (terbit tahun 2014)

Leckie_AncillaryMercy_TP10

Ancillary Mercy, terbit Oktober 2015

 

One thought on “Ancillary Justice (Imperial Radch #1)

  1. Pingback: Ancillary Sword (Imperial Radch #2) | Catatan Tia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s