buku

The Grace of Kings (Book One of Dandelion Dynasty)

TGOK - adit

Jika aku diberi satu kesempatan untuk mengeskpresikan seperti apa The Grace of Kings, aku akan bilang kalau novel ini sesuai dengan harapanku—tidak meleset sama sekali.

Sebesar apa harapanku terhadap The Grace of Kings? Sebesar kesukaanku terhadap pengarangnya, Ken Liu. Aku mengenal tulisannya tahu lalu, sejak sering baca-baca cerita pendek SFF. Paper Menagerie, salah satu cerpennya, ternyata sangat populer dan jadi pemenang banyak penghargaan. Sejak saat itu, terkesan oleh gaya menulisnya yang santun dan rapi, aku jadi sering baca cerita-cerita pendeknya.

Yup, The Grace of Kings memang novel debut beliau. Cerita-cerita pendeknya yang umumnya bergenre sci-fi, tidak membuat The Grace of Kings yang bergenre fantasi ini terlalu terasa ilmiah. Meski, novel ini pun tidak lepas dari sentuhan hal-hal yang berbau ilmiah, seperti terowongan bawah laut, airship, sampai mechanical cruben (kapal selam yang berbentuk binatan laut).

Jauh pada hatinya, novel ini adalah kisah persahabatan dan persaudaraan dua lelaki, Kuni Garu dan Mata Zyndu. Kuni yang mantan bandit, dan Mata yang keturunan bangsawan. Perbedaan itu malah membuat pandangan mereka kaya, namun perbedaan melihat banyak hal jugalah yang memisahkan mereka.

Kuni Garu menjadi sentral dari cerita ini. Adegan pembukanya diungkapkan dari sudut pandang Kuni yang melihat arak-arakan Kaisar Mapidere, pemimpin Xana. Arak-arakan megah itu tidak berjalan mulus, seorang pembunuh yang muncul dari udara nyaris menewaskan Kaisar Mapidere. Peristiwa itu menjadi cikal bakal banyak pemberontakan lain di Xana, pemberontakan karena negara bagian dan orang-orang yang tidak puas pada pemerintahan Kaisar Mapidere.

Dan 600 halaman setelahnya, berisi sepak terjang Kuni Garu untuk membangun dunia yang lebih baik bagi istri dan anaknya. Dimulai dari menjadi sipir penjara, hingga bandit. Dari bandit menjadi Duke sebuah kota. Saat menjadi Duke of Zudi itulah dia bertemu dan bersahabat erat dengan Mata Zyndu. Saat keduanya dipisahtugaskan… Mata mewakili Cocru untuk merebut Wolf’s Paw, sementara Kuni Garu didatangi oleh Luan Zya, pemilik Buku Pengetahuan. Luan menawarkan Kuni rencana untuk merebut ibukota Xana, Pan, yang saat itu kaisarnya adalah Erishi, anak bungsu dari Mapidere yang baru berumur 15 tahun.

Kuni berhasil menguasai Pan dengan taktik dan strategi jitu. Dari situlah kesalahpahaman dimulai. Mata merasa Kuni mengkhianatinya. Hasilnya adalah… perang bertahun-tahun.

Aku bisa bercerita lebih banyak. Atau mungkin malah kamu bisa saja menebak dan membayang-bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika, kamu biasa dengan kisah-kisah politik, bisa jadi kamu bisa melihat gambaran besar apa yang terjadi. Akan tetapi, semua kejadian besar itu adalah frame, sementara fokus utamanya adalah karakter-karakternya sendiri yang terlibat langsung pada perang itu.

Banyak karakter dalam cerita ini. Di atas aku baru menyebutkan sedikit! Akan tetapi, penyampaian dan penulisan yang rapi, bikin setiap karakter kerasa hidup. Bahkan ada beberapa karakter yang hanya muncul satu sampai tiga bab tapi terasa membekas sekali, misalnya Princess Kikomi.

TGOK, selain memperlihatkan perang dan perebutan kekuasaan adalah urusan yang seringkali mengabaikan masalah personal—namun, sesungguhnya para aktor yang terlibat di dalamnya pun manusia biasa. Punya masalah personal, rumah tangga, persahabatan, kesetiaan, keragu-raguan, dan lain-lain. Salah satu masalah yang dibesarkan dan dijadikan subplot adalah rumah tangga Kuni Garu.

Sebelum menjadi bandit, Kuni memperistri Jia Matiza. Mereka keren banget! Tapi karena Kuni harus pergi ke mana-mana, mereka harus berjauhan. Dari situlah keretakan dimulai. Ada orang-orang lain. Meski begitu, Jia yang sangat rasional, serta Kuni yang menyadari masalah mereka apa—bisa menyelesaikannya dengan sangat dewasa dan bikin aku kagum. Bahkan ada keputusan Jia yang sungguh masuk akal, sangat pengertian dengan ambisi suaminya yang ketika itu sedang diasingkan: untuk mencari istri baru.

Pada akhirnya, Kuni pun mendapatkan istri baru, Lady Risana. Kelihatannya sih semua baik-baik aja sekarang (nggak tahu di sekuelnya, nanti), haha! Jia dan Risana, meski kelihatan akur, jelas banget digambarkan jika mereka punya konflik batin masing-masing. Entahlah apa yang nantinya akan terjadi.

Itu bukan salah satu hal yang menarik. Sebagai perempuan, aku juga sangat senang bagaimana karakter-karakter perempuan di cerita ini tampil sebagai karakter yang kuat dan tahu diri. Mereka bisa memanfaatkan kelebihan mereka sebagai perempuan, selain juga muncul sebagai karakte yang punya keputusan sendiri, ahli hal tertentu, sampai bisa berperan di medan perang. Ya, walau hal-hal lain yang biasa terjadi kepada perempuan ketik a perang: dibunuh, diperkosa, dijadikan budak, harem—itu semua masih ada dan tak terhapuskan.

Merangkum semua itu, TGOK adalah kisah tentang manusia—obsesi, balas dendam, impian, cinta, cemburu, ketakutan, dan kesetiaan. Hal-hal tersebut mempengaruhi keputusan yang diambil oleh setiap karakter. Serta, bagaimana orang-orang terdekat berpengaruh besar kepada sudut pandang seseorang.

Tak ada karakter yang sempurna dalam cerita ini, bahkan para dewa-dewi yang saling berkompetisi satu sama lain. Di pertengahan cerita, aku sempat mereka bosan dengan karakter yang ‘tidak hitam putih’ itu. Agaknya sih efek karena aku sering membaca cerita dengan karakter seperti itu. Namun, seiring berjalannya cerita, aku hanyut banget dengan karakter-karakternya.

Karakter-karakter yang luar biasa di dalam cerita ini, didukung pulang dengan worldbuilding yang juara banget! Sungguh detail dan mudah dibayangkan. Mungkin karena efek penulisnya yang keturunan Asia dan rasa Asia Timur yang kerasa banget dalam TGOK, bikin lanskap yang dibayangin adalah semacam film-film mandarin gitu. Bukan hanya lanskap, tetapi juga budayanya, puisi, lagu, sampai agama.

Di bab awal TGOK, penulis banyak mengenalkan setting ceritanya. Aku yang sebelum membaca buku ini baru saja menyelesaikan Ancillary Justice (yang juga punya worldbuilding luar biasa), agak kaget dengan plotnya yang bisa disebut tradisional banget. Umumnya cerita sekarang langsung mulai di tengah-tengah event dan langsung bikin tegang dari sana, sementara itu TGOK dimulai dari mengenalkan karakter, melihat karakter dewasa, dan membeberkan setting. Tapi itu semua terbayar kok, makin ke akhir semakin bikin gemas, menarik, dan nggak pengin menurunkan bukunya sampai tangannya pegal sendiri.

Selain ceritanya yang menarik dan penuh pelajaran mengenai strategi perang (dan politik), cara menulis Ken Liu-lah yang membuat aku betah membaca. Tulisannya rapi dan santun. Temponya terjaga dari awal sampai akhir. Pun, tidak sedikit bagian-bagian yang bikin haru dan menitikkan air mata. Tulisan beliau memang sejak awal baru aku labeli dengan: indah.

Kisah Kuni Garu belum berakhir sampai di buku pertama ini. Meski Ken Liu sendiri bilang kalau buku ini bisa dianggap standalone, tapi jika ketika baca sebagian hatimu nyangkut di Dara, kamu pasti akan nunggu lanjutannya! Seperti aku, aku pengin tahu apa yang akan terjadi kepada Dandelion Dynasty. Dandelion yang benihnya terbang bersama angin… jatuh ke mana pun angin itu menjatuhkannya. Dandelion yang bisa memecahkan lantai yang tadinya keras, lalu tumbuh dan berbunga.

The Grace of Kings baru terbit bulan lalu, versi bukunya sementara bisa didapatkan hanya hardcover (aku beli lewat periplus.com), ada juga versi ebooknya sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s