Serial

Person of Interest Season 4

samaritan

Sejak awal, Jonathan Nolan dan Greg Plageman, EP dari Person of Interest sudah mewanti-wanti jika musim keempat ini akan terjadi perang. Pada akhir season tiga, jelas sekali siapa yang akan berperang di musim keempat ini, The Machine dan Samaritan.

The Machine, artificial superintelligence, yang lebih dulu lahir dan sudah diajari banyak oleh Harold, ditantang terang-terangan oleh Samaritan, ASI lain si bocah tengik. Yang jadi pertanyaan sejak awal musim adalah bagaimana peperangan itu akan terjadi? Penuh darahkah? Penuh ledakankah? Atau… apa? Kita semua tahu, Bos 1 & Bos 2 nggak pernah main-main untuk mewujudkan apa pun demi tujuan cerita.

Dan kita juga tahu, jika perang amat mustahil tanpa pertumpahan darah.

Tapi, ayo kita mundur dulu dari awal, ketika The Machine Gang (TMG) harus berpisah sendiri-sendiri, masing-masing dengan identitas palsu-baru. John sebagai John Riley, detektif NYPD, dipasangkan dengan Fusco dan menempati meja Carter . Shaw sebagai penjaga konter kosmetik di mall dan part-time sebagai driver untuk geng pencuri gitu. Harold sebagai Harold Whistler, profesor apa ya… di sebuah college, dia bersama Bear. Dan Root, sebagai apa aja, ya apa aja. Perpustakaan yang sudah porak-poranda… diganti oleh stasiun bawah tanah yang tak terpakai. Meski begitu, aku tetap lebih suka Perpustakaan, banyak buku.

Mereka berempat plus Fusco harus bergerilya. Di awal, mereka sempat kesulitan berkomunikasi. Sampai akhirnya, mereka memanfaatkan jalur komunikasi khusus lewat antenna UHF gitu yang jaringannya didapat dari salah satu POI. Itu juga menjadi awal mula mereka berselisih jalan dengan Brotherhood (geng baru pengganti HR).

Perjuangan mereka belum selesai karena ternyata Samaritan pun mulai merekrut orang-orang untuk menjadi agennya. Memang sudah ada orang-orang dari Greer, tapi sebagai agen rahasia, Samaritan merekrut sendiri, seperti Claire yang direkrut lewat kompetisi Nautilus (terinspirasi dari Cicada 3301). Selain, Claire, agen Samaritan yang paling mematikan adalah Martine.

Jadi kedua geng saling buru memburu. Samaritan tidak bisa menemukan TMG, meski akhirnya karena kecerobohan Shaw. Sosoknya tertangkap kamera dan bisa direkonstruksi ulang oleh Samaritan. Dari situlah, segala bencana, awal dari bloodbath alias mandi darah, menuju puncak perang dua ASI pun dimulai.

Pertama, pada permainan ini: TMG harus kehilangan Shaw. Selama setengah season sisanya, ada Root yang patah hati, Harold yang percaya jika Shaw tidak mungkin selamat, Reese yang mulai merelakan dan merengkuh hidup baru, dan Fusco yang makin lama mengerti kalau dia terjebak dalam sesuatu yang tidak biasa.

Kejar-kejaran antara The Machine dan Samaritan pun makin seru. Di antaranya diselingi oleh subplot antara Elias dan Dominic dari Brotherhood. Tapi sampai akhir, kurang jelas sih posisi si Elias dan Dominic ini gimana di antara perang tersebut. Jelas, penulis POI nggak mungkin mengulang apa yang mereka lakukan kepada Vigilance di ending season tiga. Jadi, sampai dua episode akhir, subplot Elias dan Dominic ini kerasa kayak berada di jalan yang berbeda.

Samaritan mengejar The Machine dengan ganas sampai beran-beraninya dia unjuk gigi di Gedung Putih. Tentu saja bukan sekadar lewat CCTV atau jenis elektronik lainnya, tapi lewat interface: seorang anak laki-laki yang tengik! Bahkan anak itu sempat berhadap-hadapan langsung dengan The Machine via Root dan mereka bicara banyak hal. Banyak yang mempertanyakan mengapa tim penulis POI memilih sosok anak kecil sebagai avatar Samaritan. Karena rasanya terlalu eksplisit maknanya—Samaritan memang masih dianggap anak kecil yang ngelunjak. Padahal biasanya, tim penulis seringkali membeberkan maknanya secara subtil dan berceceran sampai penonton sendiri yang menyambungkan remah demi remah.

Nomor-nomor yang muncul di tengah perang itu pun seringkali berkaitan dengan Samaritan atau The Machine. Samaritan menggunakan nomor-nomor itu sebagai alat atau memang sengaja mengancam mereka untuk mengancam TMG. Sementara nomor-nomor yang terkait The Machine malah memunculkan kandidat-kandidat pengganti Shaw, seperti cewek yang petarung MMA dan juga Harper, si hitam manis yang oportunis (tapi aku suka karakter ini!).

Bukan hanya wajah-wajah baru, ada pula sosok-sosok lama yang kembali. Dari Carter, Alicia Corwin, sampai Caleb (ingat episode 2phi, si anak genius yang diberitahu Harold sebuah rahasia?). Nah, Carter dan Alicia tampil benar-benar sebagai flashback. Tapi Caleb, Caleb memegang peranan penting untuk perang ini. Oh ya, dan juga Zoe! Suka banget ketika dia balik lagi, masih dan selalu jadi karakter favoritku. Berharap Leon Tao juga Arthur (bapaknya Samaritan) muncul juga, tapi nggak sih.

Sosok yang muncul di luar pertikaian TM vs Samaritan pun ada, yang paling menonjol terutama Iris, si psikolog yang mengurus John. Iris yang keluarganya belatar militer, merasa bisa mengerti John. Sampai episode 21, entah sebenarnya apa dan di mana posisi si Iris ini. Chemistry-nya nggak dapet sama John. Aku sendiri nggak terlalu menyukai karakter ini. Dia… kayak distraksi gitu dari hal-hal seru lainnya. Hahaha.

Karakter utama, karakter lama, dan karakter baru semua dapat porsi. Beberapa ditulis dengan baik dan dapat momen yang menggugah penonton, beberapa ada yang terlalu singkat. Sejak season satu episode yang panjang memang diubah menjadi keuntungan oleh Tim POI—waktu selama itu digunakan untuk mengembangkan karakter.

Salah satu karakter lama yang juga jadi keren banget di season ini adalah Control. Meski waktu tampilnya nggak banyak, Control selalu bisa menarik perhatian dan bikin fokus banget ketika nonton. Dia mulai bertanya-tanya tentang keputusannya sendiri. Tentang posisinya. Tapi dia tetap Control yang dingin dan sadis. Meskipun, pada akhirnya dia menganggak TMG adalah teman. Yehaaa!

Kehilangan Shaw, meski sama menyakitkannya dengan kehilangan Carter—tapi, suasananya beda. Ada rasa khawatir, sekaligus percaya kalau Shaw masih hidup, sekaligus berharap dia berakhir aja biar rahasia TMG nggak ketahuan. Aku berhenti percaya Shaw masih baik-baik aja ketika The Machine bilang ‘S.T.O.P’ dan ‘I failed Saamen’. Dia memang masih ‘muncul’ lagi, masih dengan kotak kuning, tapi statusnya sendiri… entah. Itu misteri.

Di antara semua karakter manusia dan anjing, si Bear, karakter yang paling outstanding di season ini tentu saja The Machine. Bagaimana usaha dia menyelamatkan TMG. Bagaimana dia berhenti bicara sama Root. Bagaimana dia tawar-menawar sama Root mengenai keberadaan Shaw. Di salah satu episode, Harold ngajarin The Machine main catur. Di episode lain lagi, kita dikasih tahu lewat flashback kalau dulu The Machine pernah hampir membunuh Harold. Dan di episode 21, ketika The Machine memutuskan bicara terang-terangan yang bikin berkaca-kaca. The Machine memang nggak ada bentuk fisiknya, tapi keberadaannya kayak selalu ada gitu. Itu jadi salah satu kekagumanku ke tim penulis POI, pengembangan karakter The Machine ini memang juara banget.

Tapi, tim penulis POI adalah jagonya bikin adegan yang menyentuh di antara action dan tegang-tegangnya. Salah satu adegan action terbaik di season ini ada di episode lima, ketika Root dan Martine berhadap-hadapan. Keduanya ada di lobi hotel, Root di lantai atas, Martine di lantai bawah. Keduanya saling tembak atas bawah. Root dipandu TM, Martine dipandu Samaritan. Anjir. Itu. Keren. Banget.

Banyak juga hal-hal lucu, dua hal yang paling teringat di kepalaku adalah ketika Harold mencoba lari dari kewajiban jadi juri di pengadilan dengan bikin alasan tentang surveillance state. Dan di episode 21, ketika Root dan dia sedang mencari Shaw, mereka harus masuk ke rumah sakit jiwa—lagi, Harold bilang jujur tentang semua yang dia ketahui. Saat itu juga dia langsung dianggap mengidap paranoia dan gangguan mental lainnya. Lucu! Bagian-bagian seperti itu bikin bernapas banget di antara dag-dig-dug tegang karena dikejar Samaritan.

Sama fungsinya dengan episode filler, procedural biasa yang di season ini kerasa hadir lebih banyak daripada season lalu. Ada yang murni procedural, tanpa terkait dengan plot perang ASI atau geng. Ada juga yang dikaitkan dengan plot utama. Porsi banyaknya terutama setelah episode M.I.A, itu bikin struktur ceritanya secara keseluruhan jadi agak longgar dan menurun. Tapi sih, selalu ya, di akhir pelan-pelan naik lagi.

Puncak perang ini ada di episode 21 dan 22. Episode yang akhirnya beritahu kita di mana keberadaan The Machine setelah menghilang dengan sendirinya dua tahun lalu! Dengan cerdasnya (yaiyalah cerdas!) dia mengunggah dirinya sendiri ke jaringan listrik seluruh US. Keren nggak tuh? Dia berusaha melawan Samaritan yang akhirnya menemukan lokasinya dan berusaha ‘membunuh’ The Machine. The Machine pun harus memilih antara menyelamatkan diri dan menggagalkan rencana ‘The Correction’ punya Samaritan.

Di dua episode terakhir tersebut, banyak sekali momen yang menjadikan The Machine kerasa banget sebagai sesuatu yang hidup dan ada. Yang, meski dia nggak punya wujud fisik–kehadiran dia lewat tulisan di layar dan telepon (sampai mesin fax) bikin lega sampai berkaca-kaca. Di akhir season dua, kita dibuat ternganga dengan The Machine, di akhir season tiga, kita lega dan berharap besar. Di akhir season empat, cuma ada hati yang patah dan cemas berlebih (astaganaga, masih harus nunggu sampai September!).

Entah apa yang terjadi setelah ‘The Correction’, episode terakhir dihabiskan dengan kita diyakinkan jika The Machine masih bertahan. Dan aku pengin tahu banget apa yang terjadi nantinya. Jelas, apa yang terjadi bakal menggeser persepsi kepada The Machine dan Samaritan, tapi sebesar apa? Kita harus nunggu sampai season depan (itu juga kalau POI di-renew oleh CBS!).

Ketika makin dekat ke akhir season banyak banget teori berseliweran tentang akhir season ini. Salah satunya dari judul episode terakhir, YHWH–yang bikin orang berpikir: apa Samaritan dan The Machine bakal jadi satu? Ughh… ternyata nggak! Dan aku suka banget teori-teori itu terpatahkan. Show ini masih seperti dulu, serasa diajak berkendara lewat tempat-tempat yang kita kenali tapi ternyata tujuan akhirnya tak disangka-sangka.

Satu lagi pikiran yang melintas di kepalaku ketika nonton, betapa kapabilitas The Machine dan Samaritan itu memang udah kayak ‘sihir’ ya. Akses ini: terjadi itu. Akses itu: terjadi ini. Yang kadang manusianya sendiri nggak tahu apa dan kenapa itu terjadi.

Season ini berakhir dengan cliffhanger, yang bikin kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi kepada semua karakter-karakternya. Perubahan besar-besaran yang ada di penghujung cerita, bikin perang ini berakhir dengan survival game—dengan perspektif baru: siapa yang sebenarnya melakukan hal yang benar? Akan tetapi, kebenaran dan kebaikan adalah sesuatu yang relatif. Mustahil menghindari untuk menyakiti semua orang agar sebuah tujuan bisa tercapai. Samarita memilih itu. The Machine dengan evolusi dan pelajaran yang didapatnya, bisa menimbang. Evolusi memang membuat The Machine lebih mengerti manusia dan bisa menjadi AI yang friendly. Itu juga yang menjadikan karakter The Machine sebagai salah satu yang paling tersayang dan karakter terbaik di season ini. Akan tetapi, pada akhirnya pemenangnya adalah yang berhasil memegang kekuasaan dan menulis masa depan (serta sejarah) sesuai dengan tujuannya.

6 thoughts on “Person of Interest Season 4

  1. Serial POi ini serial terbaik yg pernah aku tonton,meski banyak banget episode yg kelewat [biasa,rebutan remote],bnyk yg terlewatkan terutama gmn finch sm reese bisa ketemu sm root & shaw,begitu juga root jadi akrab sm shaw,pengen banget lihat moment itu,lw menurut aku pribadi faktor root sm shaw yg bikin aku makin betah sm sayang sm POi,terutama root…

  2. Lagi nonton season 4 episode 12. Ada satu hal yg bikin aku gregetan nih Mbak Tia. Si Control di bawah kendali Senator. Waktu senator minta dia matiin mesin, si control nurut aja. Trus, kalau program semacam “mesin” memang udah mau ditutup, kenapa si senator malah kerja sama dan mendukung “Samaritan”? Mendingan dari awal si mesin gak usah ditutup. Tuduhan wartawan juga tanpa bukti, tentang Amerika yg mata-matai warganya

    • Waduh, haha… aku lupa detail yang itu. Yang jelas sih posisi senator Garrison memang lebih tinggi dibanding Control dan beliau juga yang dulu mengesahkan/ngasih kesempatan kepada Decima untuk mengaktifkan Samaritan. Banyak yang mengira di season 4 ini Control memang secara fisik masih dukung pemerintah, tapi hatinya tahu kalau Machine Gang itu benar. Hanya saja, belum ada kesempatan bagi Control untuk melakukan perlawanan gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s