buku

Reborn

reborn-adit

Buku yang aku baca sebelum novel ini, punya karakter yang memiliki pandangan jika ‘hidup adalah eksprimen atau malah perjudian’. Orang yang menganggap hidupnya adalah eksprimen, dia berjalan berdasarkan kalkulasi dan prediksi, sementara yang menganggap hidup adalah perjudian–mereka berharap kejutan, percaya kepada hal yang random dan tak terjelaskan. Tak ada yang salah dengan keduanya, tapi pertemuan Gati dan Luca dalam cerita ini yang tampak seperti hal yang random, mungkin tidak sepenuhnya kebetulan.

Gati bertekad memenuhi impian sahabatnya, Muara yang sudah meninggal. Dia berusaha mengatasi ketakutannya berpergian sendirian dan nekat ke luar negeri seorang diri demi menemui Gianna Bonatti, seorang desainer terkenal. Sesampainya di Milan, Gati langsung mendatangi butik Gianna, Chiara dan malah tidak menemukan sosok yang dia cari. Meski berusaha mendapatkan alamat Gianna secara langsung, Gati tetap saja gagal.

Luca yang terpaksa pulang dari Indonesia ke Italia, kebetulan sedang berjalan-jalan di sekitar situ. Tertarik oleh Gati yang mengomel karena diusir dari butik Chiara, Luca pun akhirnya menghampiri Gati. Dari situlah perkenalan mereka dimulai.

Jangan bayangkan jalan-jalan unyu dan lucu. Keduanya berkeliling Milan dengan beban di hati masing-masing. Gati dengan utangnya untuk mewujudkan mimpi sahabatnya, sedangkan Luca dengan kabar ayahnya yang baru saja meninggal. Luca malah tidak segera pulang ke kampung halamannya, tapi malah berkeliling bersama Gati sebab Luca masih bertanya-tanya apakah ayahnya pantas dimaafkan.

Seperti tagline dari novel ini sendiri: Setiap orang butuh teman bicara. Dan itulah yang akhirnya terjadi kepada mereka berdua. Orang asing yang dipertemukan oleh waktu dan tempat yang tepat. Memang benar, justru kepada orang asinglah kadang-kadang kita baru bisa bercerita hal-hal yang tak dikatakan kepada orang terdekat.

Reborn ditulis bersama oleh Nindasyahfi dan Ifnur Hikmah. Dibagi menjadi dua bagian dari masing-masing karakter dengan sudut pandang penulisan orang ketiga. Layout bukunya sendiri memang unik sih. Meski setiap kali baca terbitan Grasindo seringkali komplain aku sama: font! Fontnya gitu-gitu terus, dan entah kenapa selalu mendistraksi aku pas baca–seakan-akan kurang pas untuk cerita romance.

Sayangnya, dari kedua karakter sudut pandang orang ketiga yang digunakan terlalu jauh–aku sendiri nggak bisa mendekatkan diri ke Luca atau Gati. Sehingga, beberapa adegan yang sama yang terdapat di masing-masing bagian yang harusnya bisa ditulis mendalam dari sudut pandang masing-masing malah terasa repetitif. Dan entah mengapa, aku merasa kedua bagian, yang harusnya jelas dari dua karakter berbeda punya gaya tulisan yang sama, padahal aku tahu benar kalau Ninda dan Ifnur punya gaya menulis yang khas dan unik (dan aku kagumi banget!).

Terlepas dari semua itu, kisah ini menuturkan kedukaan dan penyesalan secara tegar. Masa lalu memang tak akan pernah hilang, juga tak akan terulang kembali–yang terpenting adalah Luca dan Gati akhirnya bisa menerima dan merelakan apa yang sudah terjadi kepada mereka di masa lalu.

One thought on “Reborn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s