buku

Lost City of Z (Kota Z yang Hilang)

Lost City of Z (Kota Z yang Hilang) terjemahan Gramedia tahun 2015.

Lost City of Z (Kota Z yang Hilang) terjemahan Gramedia tahun 2015.

Dulu ketika masih sekolah dasar aku punya cita-cita menjadi seorang arkeolog. Terbayang di benakku berjongkok di samping tulang belulang dinosaurus atau berpose di samping reruntuhan kota kuno! Hoaaa sunggu keren! Iya, tapi itu mentok jadi sekadar cita-cita saja sih. Aku masih menyukai sejarah dan hal-hal yang berbau masa lampau—itu jadi salah satu alasanku mengapa tertarik membaca kisah tentang Kota Z yang Hilang ini. 

Membaca buku ini, aku begitu takjub. Mungkin setengah dari kalian akan jadi takut masuk hutan setelah membaca. Setengah ada yang akan mengecap: para penjelajah adalah orang sinting. Setengah lagi ketularan ‘kuman Fawcett’. Dan sisanya, terinspirasi untuk menjelajah demi ilmu pengetahuan dan belajar lebih banyak lagi.

Ketakjuban yang kurasakan tersusun dari empat hal tersebut. Pada diri Percy Harrison Fawcett atau P.H.F., seorang penjelajah Inggris yang jadi salah satu orang pertama yang memetakan Amazon, semua perasaan dan inspirasi itu bermunculan. Perjalanan dan keberanian beliau jugalah yang menginspirasi penulis buku ini, David Grann untuk menapaktilasi perjalanan terakhir PHF ke Amazon.

Pada tahun 1925, PHF melakukan ekspedisi untuk menemukan Kota Z yang Hilang… dan beliau pun lenyap tanpa kabar. Banyak pencarian yang dilakukan, ada yang benar-benar mencari, ada juga yang pergi untuk membuktikan keberadaan ‘Z’. Kalau beliau masih hidup, mungkin beliau akan bangga ya, bagaimana ekspedisinya itu menginspirasi banyak orang dan mitos Kota Z masih hidup di benak orang banyak hingga sekarang!

Meski menghilangan PHF dan obsesinya terhadap ‘Z’ adalah hal yang membuat buku ini ditulis, tapi perjalanan bagaimana beliau bisa sampai di sana menjadi hal yang menarik dan inspiratif. David Grann menuturkan dengan runut, bagaimana usaha beliau menjadi penjelajah adalah sebuah proses yang tidak mudah. Akan tetapi, dukungan dari teman-teman, istrinya, serta keteguhan hati selalu membuat PHF bisa kembali dari Amazon. Hal yang memotivasi PHF bukan hanya orang-orang terdekat, tapi juga persaingan antar penjelajah!

Banyak yang mengerikan terjadi dalam perjalanan-perjalanannya. Serius deh. Ini bagian-bagian yang bisa bikin kamu takut masuk hutan—aku ketika kuliah sering masuk hutan, tapi… syukurlah nggak pernah sampai begitu. Tenang saja, kebanyakan hutan di Indonesia yang biasa untuk kunjungan wisatawan sudah berupa hutan sekunder dan memang untuk tujuan (eko)wisata! Kamu tidak perlu takut, meski tetap saja tahu mengenai lingkungan sekitar, persiapan yang baik, dan belajar jungle survival sebelum masuk ke hutan adalah sesuatu yang sangat penting.

Pada akhirnya, Z memang tidak berhasil ditemukan. David Grann berhasil tiba di titik terdekat dan terakhir yang menyebutkan PHF dan kedua teman seperjalanannya ada. Ada satu bagian yang begitu ironis, jarak yang dulu ditempuh PHF satu bulan, oleh Grann ditempuh hanya dalam dua hari saja menggunakan mobil. Dan… setengah hutan yang ada pada jalur itu sudah musnah oleh pembalakan liar.

Tak ada yang tahu bagaimana nasih terakhir PHF, para Indian bilang jika mereka mungkin dibunuh Indian atau kelaparan (bayangkan, kelaparan di hutan?! Tapi itu amat mungkin terjadi.). David Grann sendiri juga tidak berhasil menemukan Z, meski banyak cerita-cerita yang sampai ke dia mengenai hal itu. Mungkin kota Z atau El Dorado yang seluruhnya terbuat dari emas itu hanya ilusi, atau memang ada hanya saja belum seorang pun menemukannya. Di akhir, Grann ditunjukkan sesuatu yang luar biasa mengenai peradaban Amazon yang sudah punah oleh seorang antropolog yang diangkat anak oleh suku Indian.

Ketika membaca buku ini pun aku ikut bertanya-tanya apa yang terjadi kepada PHF. Apa pun yang terjadi kepada beliau, aku rasa beliau tidak akan pernah menyesali perjalanannya ke Amazon. Amazon pada masa itu mungkin serupa dengan Mars dan Europa pada masa sekarang bagi NASA, ISRO, ESO, Elon Musk, dan lainnya. Manusia selalu butuh orang-orang seperti PHF—yang berani maju lebih dulu dibanding manusia lainnya untuk menjadi pionir.

2 thoughts on “Lost City of Z (Kota Z yang Hilang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s