film

Blue is The Warmest Color

blue is the

Aku suka warna biru. Aku suka warna biru di rambut Emma (Lea Seydoux). Aku suka warna biru yang ada di mana-mana dalam film ini. Biru di film ini mungkin jadi yang terhangat, tapi sesungguhnya biru yang ada juga melambangkan duka dan luka.

Dalam film berdurasi tiga jam ini punya karakter-karakter yang terasa hangat. Itulah mengapa kisah cinta yang dituturkan di sini bisa begitu menyentuh, cerita kehidupan sehari-hari yang ada dalam film ini terasa dekat dan akrab. Kedua karakter dalam film ini, Adele (Adèle Exarchopoulos) dan Emma adalah lesbian. Namun itu bukan jadi bahasan utama, melainkan yang diangkat sesungguhnya adalah hubungan, kisah cinta antara dua orang.

Adele, remaja di Prancis, bertemu dengan Emma di sebuah bar lesbian. Dengan obrolan-obrolan, bahasa tubuh yang sulit dipungkiri, mereka berdua pun jatuh cinta. Seperti halnya semua kisah cinta, ada masa-masa payah yang datang. Adele yang merasa resah dengan kehadiran teman Emma dan merasa sulit bergaul dengan teman-teman Emma yang hebat, menjalin hubungan lain dengan seorang pria.

Film ini punya cara menceritakan jatuh cinta dengan begitu hangat, sekaligus punya kisah perpisahan yang begitu menyakitkan dan pahit. Di titik itu, ketika Adele minta Emma untuk menerimanya lagi, kamu mungkin nggak akan peduli lagi adegan seks eksplisit atau mereka lesbian–yang kamu tahu hanya: mereka saling dan masih mencintai, tapi apa yang sudah pecah tak mungkin disatukan lagi.

blue is

Salah satu yang bikin karakter-karakternya begitu dekat dan hidup adalah frame-frame close-up yang menampilkan ekspresi wajah pemainnya dengan jelas. Rasanya kayak menghadirkan perasaan jatuh cinta–cuma ada mereka berdua di dunia ini. Adegan-adegan lainnya juga cantik, banyak makanan, banyak musik menyenangkan, dalam film ini.

Adegan ketika Adele dan Emma jalan bersama pertama kali. Di sebuah taman, di bawah pohon besar, mereka ngobrol sambil Emma bikin sketsa Adele. Adegannya cantik banget. Rasanya pengin sekali duduk di situ, baca buku sambil melamun.

Di bagian tengah, aku merasa ada adegan yang terlalu panjang (yang bikin aku terdistraksi dan susah nangis di akhir). Pertama adegan seksnya, meski aku tahu itu memang dibuat untuk menunjukkan betapa mereka saling jatuh cinta. Kedua, adegan pesta di rumah Emma, ngobrol-ngobrolnya itu lho panjang banget. Setelah beberapa menit, aku kehilangan arah mereka ngobrol apa, terutama karena topiknya aku nggak ngerti. Aku merasa adegan itu sengaja dibuat begitu karena pengin penonton ada di posisi Adele, yang waktu itu terasa terasing dari Emma dan teman-temannya. Tapi, adegan dansa yang menutup bagian itu, juara! Adele dansa dengan seorang cowok, jadi latar mereka adalah layar besar yang menampilkan film klasik kayaknya. Sesekali, Adele yang jadi fokus, sesekali adegan film itu yang jadi fokus dan ekspresi si karakter dalam film klasik itu pas banget dengan apa yang dirasakan Adele. Suka!

blue is 2

Film karya Abdellatif Kechiche meninggalkan aku dengan perasaan yang biru. Melihat Adele dengan dress biru, keluar dari galeri tempat pameran lukisan Emma diadakan, dan laki-laki yang tertarik padanya lari ke arah berbeda. Yang bisa aku bilang hanya, ya itu namanya hidup–kamu nggak selalu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s