buku

The Adventure of Pinocchio (Petualangan Pinocchio)

pinocchio

Aku nggak ingat kapan dan lewat mana kenal Pinocchio. Yang jelas, dongeng ini hidup bersama aku sejak kecil hingga dewasa sekarang. Ya, siapa sih yang nggak kenal dengan boneka kayu yang hidungnya memanjang setiap kali bohong?😀

Makin diingat, rasanya aku kenal Pinocchio lewat versi kartunnya. Itu interpretasi Pinocchio yang paling membekas di aku. Setelah sekian lama, cerita ini bangun lagi padaku ketika Paul Thomas Anderson dikabarkan akan menulis adaptasi live-action-nya (dan mungkin juga menyutradarai). Seperti berjodoh dengan Pinocchio, nggak lama setelah kabar itu ada, aku tahu kalau kisah ini baru diterjemahkan oleh Gramedia tahun 2014 lalu.

Pinocchio punya kover yang cokelat dan manis, terus ilustrasinya memberi kesan polos anak-anak banget! Pas dengan isinya yang polos, tapi tetap menyentil kalau dibaca orang dewasa. Ternyata cerita Pinocchio bukan sekadar dia bohong dan hidungnya jadi panjang. Tetapi, karya Carlo Collodi ini dimulai dari kayu ajaib di bengkel Master Antonio, sampai akhirnya Pinocchio jadi anak lelaki sungguhan.

Panjang perjalanan Pinocchio untuk sampai ke sana. Nakal, malas, dan manja adalah sifat menonjol dari Pinocchio. Meski Gepetto, ayahnya yang pemarah, sangat sayang pada Pinocchio, hal itu tidak membuat Pinocchio menurut. Alih-alih sekolah, Pinocchio malah datang ke teater boneka dan nyaris jadi kayu bakar. Dia mendapatkan lima keping emas, lalu tergoda oleh rayuan Kucing dan Rubah yang bilang uangnya bisa berlipat ganda jika ditanama di sebuah ladang. Sudah jelas, Pinocchio yang ingin menyenangkan ayahnya, akhirnya mengikuti saran Kucing dan Rubah.

Pinocchio nantinya bertemu dengan Peri Cantik Berambut Biru yang sangat menyayanginya. Tapi, lagi-lagi Pinocchio mengkhianati lagi dan lagi. Dia kabur hingga ke negeri mainan, diubah jadi keledai, nyaris digoreng, sampai ditelah ikan hiu raksasa. Di perut hiu itulah, Pinocchio bertemu ayahnya yang selama ini mencarinya dan hilang ditelan ombak. Pertemuannya dengan ayahnya membuat Pinocchio bersyukur. Rasa sayangnya kemudian membuatnya mau bekerja dan lebih rajin agar mereka bisa hidup layak.

Plotnya memang klasik, tapi seperti aku bilang tadi, membacanya sekarang pun memberi banyak pelajaran. Banyak petuah dan nasihat dari buku ini. Pada dasarnya, sikap Pinocchio yang seringkali penasaran, masa bodoh, dan mau enaknya saja pun sering ditemukan pada orang yang sudah dewasa. Namun niat Pinocchio yang jelas dan lugu, bikin konsekuensi yang dia dapat, meski pantas bisa juga menghadirkan simpati.

PTA (2)

Paul Thomas Anderson

Tadi saat aku baca entry wikipedia untuk Adventures of Pinocchio, ternyata awalnya cerita Pinocchio berakhir dengan dia mati digantung. Kemudian Carlo Collodi baru menambahkan cerita sisanya, yang pada bagian itu sosok orang tuanya berada pada karakter Peri Berambut Biru, dibanding Gepetto.

Reaksi awalku ketika tahun PTA didaulat mengadaptasi cerita ini adalah ‘APAAAA?!’. Setelah baca, aku rasa tema besar Pinocchio malah dekat banget dengan PTA, yaitu hubungan anak dan ayah. Tema tersebut jelas dan kuat pada Hard Eight, Magnolia, Boogie Nights, There Will Be Blood, dan The Master, bahkan Inherent Vice pun punya sublot ayah dan anak-anaknya. Jadi kukira, aku percaya dia bisa mengadapatasinya dengan oke, hahaha. Nggak sabar deh untuk tahu kelanjutan project Pinocchio dan PTA ini gimana!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s