film

In The Mood for Love

in the mood

Kalau ada orang yang nggak menyukai film ini, aku nggak tahu harus bilang apa. Sampai sehari setelah nonton, semua mood dalam In The Mood for Love masih tertinggal. Segalanya jadi sendu. Segalanya seakan bergerak lambat. Dan, menahan diri untuk mengkhianati, meski cinta itu ada… memang sulit dan jelas menjadi jalan yang benar.

Kisahnya sederhana, tentang dua orang tetangga, Mr. Chow dan Mrs. Chan yang sering ditinggal pasangannya bertugas keluar negeri. Perlahan-lahan, dimulai dari saling sapa di depan pintu, mereka mulai sering bertemu dan bicara. Mrs. Chan membantu Mr. Chow mengarang cerita dan Mr. Chow membantu Mrs. Chan melakukan ‘gladi resik’. Hubungan mereka hangat dan seksi, tapi sama sekali nggak ada apa-apa antara mereka. Ada cinta, hanya saja satu dan lainnya saling menahan diri.

Pedih ya? Iya.

Karya Wong Kar-Kai ini memang sungguh apik dan benar-benar mengena di setiap elemennya. Suasana yang terbangun lewat warna, sinematografi, dialog, karakter, dan musik latarnya meninggalkan kesan yang kuat. Visual dari film ini begitu indah. Warna-warna yang menghadirkan nuansa masa lalu, tapi juga cantik dan hidup. Dalam film ini, banyak adegannya yang memperlihatkan karakter dari samping atau membelakangi karakter. Penonton memang jadi merasa jauh atau sekadar sebagai pengamat yang tak bisa apa-apa. Tapi gestur karakter Mr. Chow dan Mrs. Chan serta dialog keduanya benar-benar bisa menyeret hati ikut pilu dan syahdu.

Yumeji Theme, karya komposer Shigeru Umebayashi, jadi salah satu musik latar yang sering didengar di film ini. Mengalun mengiringi kepahitan dari kedua karakter utama, mereka yang sedih di tengah-tengah orang-orang gembira dan dunia yang warna-warni.

Sampai di akhir, aku tahu kalau ini film yang pasti akan aku tonton berulang kali dan nggak akan bosan. Seluruhnya indah, manis, dan tragis. Tapi apa pun yang jadi keputusan kedua karakter utamanya, hidup akan terus berjalan. Seperti kata-kata di penghujung film: ‘Dia bisa melihat masa lalu, tapi tak bisa menyentuhnya.’

One thought on “In The Mood for Love

  1. saya juga cinta sama bagian kedua dari film Informal Trilogy ini, yang terbaik menurut saya, kalau diurut: 1 In the Mood for Love (2000), Days of Being Wild (1990) dan terakhir baru 2046 (2004), In the Mood for Love juga menempati peringkat teratas film paling diakui di abad 21 versi situs TSPDT:

    http://www.theyshootpictures.com/21stcentury_allfilms_table.php

    http://www.theyshootpictures.com/21stcentury_films50-1.htm

    Juga masuk peringkat ke 55 film terbaik sepanjang masa dari situs yang sama:

    http://www.theyshootpictures.com/gf1000_all1000films.htm

    Dan yang paling penting masuk ke dalam list Sight & Sound poll tahun 2012 (Kritikus peringkat 24 dan versi sutradara peringkat 67)

    Versi Kritikus:

    http://explore.bfi.org.uk/sightandsoundpolls/2012/critics/

    Versi sutradara:

    http://explore.bfi.org.uk/sightandsoundpolls/2012/directors/

    Oh ya, salam kenal ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s