buku

Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama Bapak

Setelah berbulan-bulan akhirnya aku baca novel ini. Senang juga bisa baca karena memang sudah lama tertarik dan pengin nimbrung obrolan orang-orang. Apalagi setelah novel ini akan diadaptasi ke layar lebar dan ternyata cast-nya ganteng-ganteng–aku pun makin berani untuk baca.

Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya ini bercerita tentang dua anak laki-laki, Cakra dan Satya, yang selalu menghabiskan Sabtu mereka bersama Bapak. Sosok Bapak dalam cerita ini, terasa jauh, karena memang beliau hanya hadir sebagai kenangan dan dalam rekaman yang ditinggalkan untuk kedua anak lelakinya. Rekaman-rekaman Bapak itu menjadi motivasi dan pengaruh besar dalam kehidupan Satya yang ayah muda dan Cakra yang sedang mencari calon istri.

Seperti halnya novel-novel keluarga, kisah Sabtu Bersama Bapak ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ingat ayah, ingat ibu, ingat adik atau kakak. Ada bagian-bagian yang lucu dan menyenangkan, ada bagian yang menghangatkan, dan tentunya ada bagian yang menyentuh juga membuat mata berkaca-kaca. Bagian favoritku adalah ketika Cakra saling beremail ria dengan rekan-rekan sekerjanya, bikin ketawa banget!

Membaca novel ini bagai menonton sebuah film. Bagaimana adegan demi adegannya dibagi dan ditulis, sudah sangat filmable banget. Bahkan dari adegan pembukanya pun–suami istri di depan handycam, berganti adegan ke anak-anak serta istri yang kehilangan suami. Menyenangkan dan ringan membaca sesuatu yang begitu mudah divisualkan. Hanya saja, bagiku itu mengurangi kenikmatan membaca. Ada sesuatu yang hilang dari tulisan-tulisan yang ada dalam novel ini, seperti di awal karakter-karakternya yang terasa diperkenalkan begitu saja. Hubungan Satya-Cakra dan Ayah yang harusnya jadi inti, hanya berasa bagai satu subplot saja. Meski memang beberapa adegannya tetap bisa mengiris hati.

Cerita Sabtu Bersama Bapak ini hampir bisa dinikmati semua orang, terutama laki-laki yang ada di posisi Satya dan Cakra, perempuan-perempuan yang mengharapkan keluarga, mereka yang baru menikah, dan aku kira semua. Haha. Aku sendiri butuh waktu lama untuk berani baca novel ini karena dulu ketika baru rilis ayahku meninggal. Sebenarnya nggak keberatan baca habis itu, cuma khawatir aja kalau baca di depan ibu–ibuku jadi sedih. Haha. Tapi, yang terbaik dari novel ini adalah sebagai pengingat bahwa hidup butuh rencana dan berguna bagi orang lain. Dan bagian paling menyentil adalah ketika diingatkan agar kita menyetarakan diri dengan orang yang ingin kita raih atau pasangan yang sudah kita punya. Bahwa bersama (menikah) bukan saling melengkapi, melainkan harus sama-sama kuat untuk membangun pondisi yang baik. Aku rasa, Adhitya Mulya sudah sampai di tahap yang kedua: berguna bagi orang lain, dan novel ini adalah buktinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s